Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 9235 |
![]() | Kemarin | 30712 |
![]() | Minggu ini | 123340 |
![]() | Bulan ini | 595108 |
![]() | Total | 29186275 |
| Beberapa Catatan Dari Pertemuan Dengan Kepala MAN se Jawa Timur |
|
|
|
| Minggu, 10 Oktober 2010 06:14 |
|
Pada tanggal, 5 Oktober 2010 yang lalu saya bertemu dengan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) seluruh Jawa Timur di UIN Maliki Malang. Pertemuan itu dilaksanakan dalam acara halal bi halal di lingkungan Kepala MAN. Namun, agar memiliki nilai lebih, pertemuan itu diisi dengan ceramah terkait dengan pengembangan pendidikan madrasah ke depan.
Saya diminta untuk mengisi acara tersebut. Karena itu agar lebih memberikan nilai lebih lagi, saya usulkan agar pertemuan itu mengambil tempat di UIN Maliki Malang. Usul tersebut ternyata diterima, maka pertemuan diselenggarakan di kampus. Sejak lama, saya berharap agar lembaga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama selalu ada kontak atau silaturrahmi. Sehingga, dengan pertemuan itu, sebagian harapan tersebut telah terpenuhi.
Dari pertemuan itu, saya mendapatkan beberapa catatan yang terkait dengan pendidikan di madrasah, yang kiranya sangat berharga sebagai bahan pengembangan pendidikan Islam ke depan. Beberapa catatan itu mestinya juga ditangkap dan dipahami oleh pengambil keputusan, yaitu terutama para pejabat Kementerian agama.
Di antara beberapa catatan penting itu, antara lain adalah sebagai berikut. Pertama, saya melihat bahwa pada umumnya Kepala Madrasah Aliyah Negeri memiliki semangat dan kemauan yang amat tinggi untuk memajukan madrasahnya. Saya melihat, mereka ingin mengejar prestasi, jika mungkin melebihi jenis lembaga pendidikan lainnya yang setara, semisal SMA atau SMK.
Selama ini sebenarnya, beberapa MAN di Jawa Timur telah menunjukkan prestasi itu. Bahkan semangat itu tidak saja dimiliki oleh Kepala Madrasah, melainkan juga oleh para guru dan para siswanya. Selama ini telah banyak lulusan MAN telah berhasil diterima masuk PTN terkemuka, seperti ITB, UGM, Unair, dan sebagainya, selain ke perguruan tinggi agama Islam negeri, seperti UIN, IAIN, dan STAIN.
Kedua, kesan yang saya tangkap bahwa belum semua Kepala MAN mengikuti perkembangan perguruan tinggi Islam negeri, semisal UIN. Mereka mengira bahwa perguruan tinggi Islam masih seperti dulu. Akibatnya, di antara mereka baru menganggap dirinya hebat, jika para siswanya berhasil diterima di perguruan tinggi negeri umum, apapun jenis perguruan tinggi umum itu. Mereka menganggap bahwa, apapun yang bernama pendidikan umum selalu maju. Sealiknya, jika para lulusannya hanya bisa diterima di PTAIN, masih dianggap biasa.
Pandangan seperti itu menunjukkan bahwa, masih ada rasa tidak percaya diri di kalangan lembaga pendidikan Islam. Anehnya, rasa rendah diri itu dimiliki oleh hampir semua pejabat di lingkungan kementerian agama, baik pusat maupun daerah. Sekalipun mereka adalah para pengelola, penanggung jawab, dan sekaligus pecinta lembaga pendidikan Islam, ternyata masih belum percaya terhadap institusinya. Lembaga pendidikan yang dikelola sendiri dianggap lebih rendah dibanding lembaga pendidikan lainnya.
Pandangan seperti itu sebenarnya adalah keliru dan sangat tidak menguntungkan. Sikap seperti itu menunjuikkan bahwa di kalangan pengelola madrasah, belum berhasil menangkap nilai lebih dari institusi pendidikan yang dikelolanya sendiri. Mestinya, boleh saja orang luar mengatakan bahwa madrasah masih belum maju bila dibandingkan dengan sekolah umum. Akan tetapi, siapa saja yang diberi amanah bertanggung jawab terhadap kemajuan madrasah tidak boleh ikut-ikut merendahkannya.
Mestinya dipahami, bahwa madrasah adalah konsep pendidikan yang memang berbeda dari jenis lembaga pendidikan lainnya, sehingga tidak mudah dibandingkan. Selama ini yang dibandingkan hanya prestasi mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Padahal madrasah memiliki kelebihan, yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan pada umumnya.
Sikap-sikap yang berkembang seperti tersebut, sebenarnya sangat tidak menguntungkan bagi keberadaan madrasah secara keseluruhan. Akibatnya, pada madrasah tertanam sikap rendah diri yang berlebihan. Sehingga, sebutan madrasah dianggap sebagai simbul kerendahan dan ketertinggalan. Padahal, hakekatnya tidak seperti itu. Madrasah memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan selainnya. Di antara keunggulan itu misalnya, adalah pada pendidikan karakter, yang saat ini banyak orang pada merasakan betapa pentingnya. Madrasah telah lama merasakan hal itu dan selama ini telah menjalankannya.
Ketiga, ternyata di madrasah juga belum ditemukan format keilmuan yang bersifat integrative, yaitu yang menggabungkan antara sumber-sumber ilmu berupa al Qurán dab hadits nabi dengan sumber-sumber dari hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis. Madrasah yang disebut sebagai sekolah umum yang berciri khas agama, hingga kini ciri yang dimaksudkan itu, belum sedemikian tampak jelas. Apa yang disebut ciri itu baru bersifat tambahan. Artinya, di madrasah terdapat tambahan pelajaran agama lebih banyak jumlahnya.
Manakala Islam sudah dilihat sebagai ciri khas pendidikan itu, maka pelajaran biologi, fisika, kimia, sosiologi dan sejenisnya harus dianggap sebagai bagian dari menunaikan ajaran Islam. Sebab al Qurán memerintahkan agar umatnya mempelajari bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan seterusnya. Akan tetapi pada kenyataannya, baru disebut sebagai pelajaran Islam manakala menyangkut pelajaran fiqh, tauhid, akhlak dan tassawuf saja.
Berangkat dari kenyataan ini, maka ternyata membangun pendidikan Islam yang berparadigma Islam, untuk semua tingkatan tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu tugas para ahli pendidikan Islam masih cukup panjang. Mereka dituntut agar suatu ketika menemukan konsep yang jelas, bahwa keilmuan yang dikembangkan pada lembaga pendidikan Islam, ------termasuk di MAN, seharusnya mendasarkan pada dua jenis sumber, yaitu ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Konsep itu sebenarnya sudah dipahami, tetapi rumusan secara riil dan jelas, ternyata masih harus ditunggu. Oleh karena itu, kerjasama dengan semua pihak untuk merumuskan kosep dimaksud masih selalu diperlukan. Wallahu a’lam. |