Funbike Dies Maulidiah ke 9
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Membaca PolitikTernyata tidak semua orang mampu membaca apa saja yang terkait dengan kehidupan... |
Islam Menganjurkan Agar Melakukan RisetBetapa pentingnya kegiatan yang terkait dengan membaca, sehingga ayat al Qur’an yang... |
Masih Tetap Ingin MenulisMenulis selalu berkaitan dengan membaca. Apa yang saya tulis pada setiap pagi... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Ikutilah ragam kegiatan dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki Malang ke 9. -
Selamat dan sukses kepada Dekan Terpilih UIN Maliki Malang masa jabatan 2013 - 2017. -
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -








![]() | Hari ini | 38645 |
![]() | Kemarin | 23728 |
![]() | Minggu ini | 110264 |
![]() | Bulan ini | 567782 |
![]() | Total | 30055271 |
| Memahami Hakikat Kesetaraan Gender |
|
|
|
| Kamis, 10 Maret 2011 10:31 |
|
GEMA-Tiga hari lamanya Pusat Studi Gender (PSG) UIN Maliki Malang menyelenggarakan sekolah gender (18-20/2). Kegiatan yang bertempat di gedung A.101 ini, bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap hakikat kesetaraan gender yang sesungguhnya. Menurut Umi Sumbulah, selaku pemateri, bahwa sebagian besar orang belum mengerti apa yang dimaksud dengan gender. “Saya sering sekali dipanggil dengan sebutan ‘gender’ oleh rekan-rekan dosen lelaki. Mungkin dalam mindset mereka, gender itu identik dengan perempuan,” ujar mantan Sekretaris PSG UIN Maliki Malang ini. Secara istilah, gender dapat diartikan sebagai peran, fungsi, dan tanggung jawab seseorang dalam kehidupan sosial. Contohnya, seorang lelaki berperan sebagai pencari nafkah, dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Itulah yang dimaksud dengan gender. Umi juga menambahkan, adakalanya perbedaan peran tersebut menyebabkan terjadinya ketidakadilan gender. Kualitas rasionalitas dan maskulinitas laki-laki diyakini lebih unggul dari kualitas emosionalitas dan feminitas perempuan. Salah satu peserta berpendapat, masyarakat pada umumnya masih berpandangan bahwa pendidikan kaum Hawa tidaklah lebih penting dari pada kaum Adam. Padahal, peran seorang perempuan dalam pembentukan generasi penerus sangatlah penting. Untuk menciptakan generasi yang cerdas, diperlukan seorang ibu yang cerdas pula. "Statement seperti itu sudah seharusnya di hapus, alasannya perempuan juga menjadi faktor utama terhadap maju mundurnya sebuah negara," ungkapnya. (ry) |