Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 360 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini38645
mod_vvisit_counterKemarin23728
mod_vvisit_counterMinggu ini110264
mod_vvisit_counterBulan ini567782
mod_vvisit_counterTotal30055271
Memahami Hakikat Kesetaraan Gender PDF Cetak E-mail
Kamis, 10 Maret 2011 10:31
GEMA-Tiga hari lamanya Pusat Studi Gender (PSG) UIN Maliki Malang menyelenggarakan sekolah gender (18-20/2). Kegiatan yang bertempat di gedung A.101 ini, bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap hakikat kesetaraan gender yang sesungguhnya.

Menurut Umi Sumbulah, selaku pemateri, bahwa sebagian besar orang belum mengerti apa yang dimaksud dengan gender. “Saya sering sekali dipanggil dengan sebutan ‘gender’ oleh rekan-rekan dosen lelaki. Mungkin dalam mindset mereka, gender itu identik dengan perempuan,” ujar mantan Sekretaris PSG UIN Maliki Malang ini. Secara istilah, gender dapat diartikan sebagai peran, fungsi, dan tanggung jawab seseorang dalam kehidupan sosial. Contohnya, seorang lelaki berperan sebagai pencari nafkah, dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Itulah yang dimaksud dengan gender.

Umi juga menambahkan, adakalanya perbedaan peran tersebut menyebabkan terjadinya ketidakadilan gender. Kualitas rasionalitas dan maskulinitas laki-laki diyakini lebih unggul dari kualitas emosionalitas dan feminitas perempuan. Salah satu peserta berpendapat, masyarakat pada umumnya masih berpandangan bahwa pendidikan kaum Hawa tidaklah lebih penting dari pada kaum Adam. Padahal, peran seorang perempuan dalam pembentukan generasi penerus sangatlah penting. Untuk menciptakan generasi yang cerdas, diperlukan seorang ibu yang cerdas pula. "Statement seperti itu sudah seharusnya di hapus, alasannya perempuan juga menjadi faktor utama terhadap maju mundurnya sebuah negara," ungkapnya. (ry)