Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 13600 |
![]() | Kemarin | 29370 |
![]() | Minggu ini | 72406 |
![]() | Bulan ini | 544174 |
![]() | Total | 29135341 |
| Empati Atasi Kemelut Bangsa |
|
|
|
| Ditulis oleh Aries Musnandar |
| Minggu, 09 Oktober 2011 19:50 |
|
Aksi-aksi anarkis pengunjuk rasa, penggusuran, pemerkosaan, tawuran, hingga tindak korupsi menghiasi media media massa kita setiap harinya. Fenomena ini jika dibiarkan bukan mustahil dapat menjurus pada kemelut bangsa. Sebenarnya tindak perilaku seperti itu sama-sama kita sesalkan, tetapi mengapa ini sering terjadi? Martin Hoftman, pengamat sosial, menyatakan bahwa akar dari semua itu adalah moralitas sedangkan akar-akar moralitas pada diri setiap manusia terdapat dalam sikap empati. Empati berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, manajemen, bisnis atau industri hingga tindakan bela rasa dan percintaan. Empati dibangun pada lingkup self-awareness (kesadaran diri). Cikal bakal empati dapat ditemu-kenali ketika bayi dalam kegelisahan mendengar suara tangis bayi lainnya. Pada usia sekitar 1 tahun, anak mulai menyadari bahwa penderitaan orang lain bukanlah penderitaannya sendiri. Pada usia hingga 2,5 tahun, anak mengejahwantahkan "peniruan motorik", yaitu tindakan meniru secara motorik penderitaan psikologis orang lain untuk makin memahami apa yang dirasakan oleh orang lain yang menderita itu. Anak sudah bisa menyadari bahwa dirinya bukanlah orang lain, ia makin bisa berempati. Pada akhir masa kanak-kanak, empati meluas dan bisa terarah ke penderitaan kelompok. Pada masa remaja kemampuan empati bertumbuh kembang menjadi keyakinan untuk meringankan penderitaan dan mengurangi ketidak-adilan. Ini semua melandasi tindakan altruistik manusia yang memiliki empati yakni berupaya membantu sesamanya melebihi dari apa yang dibutuhkan dirinya sendiri. Ketiadaan empati atau "terbunuhnya" rasa empati memunculkan kehidupan kejam dam keras. Para psikopat, pemerkosa, penganiaya anak, penjahat berat hingga kebiasaam melakukan kekerasan disebabkan tumpulnya rasa empati mereka. Kekerasan rumah tangga yang sering terjadi juga disebabkan rendahnya empati pelaku yang melakukan kekerasan tersebut terhadap korban. Mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antarmanusia, upaya melatih dan mengembangkan empati sedini mungkin perlu untuk dilakukan. Oleh karena itu, rumah tangga termasuk sekolah merupakan institusi utama dan pertama yang penting bagi pengembangan empati. Dalam konteks ini peran orangtua & guru yang bisa mewujudnyatakan keteladanan empatik sangat dibutuhkan. Lewat pendidikan Salah satu cara dari berbagai teknik yang ada untuk mengembangkan kemampuan empati adalah dengan teknik bermain peran. Role play atau bermain peran dinilai sebagai teknik yang efektif dan akan membantu anak membentuk pemahaman yang lebih dalam dan fleksibel (Harris, 1996), misal bagaimana rasanya berada pada posisi sebagai seorang satpol PP yang "harus" menjalankan perintah menggusur. Termasuk dalam konteks ini bagaimana rasanya berada dalam posisi orang yang mengalami perlakuan atas tindakan kekerasan Satpol PP. Peserta didik saling bergantian mengambil satu peran yang pro dan kemudian berperan dalam posisi kontra atas satu topik tertentu. Dalam berkomunikasi dengan peserta didik, hendaknya guru menampakkan kepedulian empati terhadap peserta didik sebagai individu yang membutuhkan keteladanan. Hal ini akan membantu mengembangkan sikap positif terhadap belajar, dan pendekatan positif terhadap guru serta teman-temannya yang lain (Gallagher, Bagin & Moore, 2005). Lebih lanjut diungkapkan bahwa mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antar manusia, maka upaya melatih dan mengembangkan empati di lingkungan keluarga, sekolah dan lembaga pendidikan lainnya perlu dilakukan sedini mungkin. Fenomena perilaku yang diangkat di awal tulisan ini sebagai akibat lemahnya sikap empati para pelaku. Kehidupan masyarakat kita yang mengalami erosi rasa empati terhadap sesamanya dapat dilihat dan dirasakan dalam berbagai peristiwa kehidupan sehari- hari. Oleh Aries Musnandar |