Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 316 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini13600
mod_vvisit_counterKemarin29370
mod_vvisit_counterMinggu ini72406
mod_vvisit_counterBulan ini544174
mod_vvisit_counterTotal29135341
Empati Atasi Kemelut Bangsa PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Aries Musnandar   
Minggu, 09 Oktober 2011 19:50

Aksi-aksi anarkis pengunjuk rasa, penggusuran, pemerkosaan, tawuran, hingga tindak korupsi menghiasi media media massa kita setiap harinya. Fenomena ini jika dibiarkan bukan mustahil dapat menjurus pada kemelut bangsa. Sebenarnya tindak perilaku seperti itu sama-sama kita sesalkan, tetapi mengapa ini sering terjadi? Martin Hoftman, pengamat sosial, menyatakan bahwa akar dari semua itu adalah moralitas sedangkan akar-akar moralitas pada diri setiap manusia terdapat dalam sikap empati.

Empati berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, manajemen, bisnis atau industri hingga tindakan bela rasa dan percintaan. Empati dibangun pada lingkup self-awareness (kesadaran diri). Cikal bakal empati dapat ditemu-kenali ketika bayi dalam kegelisahan mendengar suara tangis bayi lainnya.

Pada usia sekitar 1 tahun, anak mulai menyadari bahwa penderitaan orang lain bukanlah penderitaannya sendiri. Pada usia hingga 2,5 tahun, anak mengejahwantahkan "peniruan motorik", yaitu tindakan meniru secara motorik penderitaan psikologis orang lain untuk makin memahami apa yang dirasakan oleh orang lain yang menderita itu. Anak sudah bisa menyadari bahwa dirinya bukanlah orang lain, ia makin bisa berempati. Pada akhir masa kanak-kanak, empati meluas dan bisa terarah ke penderitaan kelompok. Pada masa remaja kemampuan empati bertumbuh kembang menjadi keyakinan untuk meringankan penderitaan dan mengurangi ketidak-adilan. Ini semua melandasi tindakan altruistik manusia yang memiliki empati yakni berupaya membantu sesamanya melebihi dari apa yang dibutuhkan dirinya sendiri.

Ketiadaan empati atau "terbunuhnya" rasa empati memunculkan kehidupan kejam dam keras. Para psikopat, pemerkosa, penganiaya anak, penjahat berat hingga kebiasaam melakukan kekerasan disebabkan tumpulnya rasa empati mereka. Kekerasan rumah tangga yang sering terjadi juga disebabkan rendahnya empati pelaku yang melakukan kekerasan tersebut terhadap korban.

Mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antarmanusia, upaya melatih dan mengembangkan empati sedini mungkin perlu untuk dilakukan. Oleh karena itu, rumah tangga termasuk sekolah merupakan institusi utama dan pertama yang penting bagi pengembangan empati. Dalam konteks ini peran orangtua & guru yang bisa mewujudnyatakan keteladanan empatik sangat dibutuhkan.

Lewat pendidikan
Tidak semua individu mampu melakukan komunikasi yang diwarnai rasa empati, walau hal ini dapat dipelajari oleh setiap orang. Melatih anak untuk sedini mungkin mengembangkan kemampuan empati, akan mencegah pandangan stereotype / prasangka terhadap orang atau kelompok lain. Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan, peran para guru sebagai model juga membantu siswa belajar perilaku empati.

Salah satu cara dari berbagai teknik yang ada untuk mengembangkan kemampuan empati adalah dengan teknik bermain peran. Role play atau bermain peran dinilai sebagai teknik yang efektif dan akan membantu anak membentuk pemahaman yang lebih dalam dan fleksibel (Harris, 1996), misal bagaimana rasanya berada pada posisi sebagai seorang satpol PP yang "harus" menjalankan perintah menggusur. Termasuk dalam konteks ini bagaimana rasanya berada dalam posisi orang yang mengalami perlakuan atas tindakan kekerasan Satpol PP. Peserta didik saling bergantian mengambil satu peran yang pro dan kemudian berperan dalam posisi kontra atas satu topik tertentu.

Dalam berkomunikasi dengan peserta didik, hendaknya guru menampakkan kepedulian empati terhadap peserta didik sebagai individu yang membutuhkan keteladanan. Hal ini akan membantu mengembangkan sikap positif terhadap belajar, dan pendekatan positif terhadap guru serta teman-temannya yang lain (Gallagher, Bagin & Moore, 2005).

Lebih lanjut diungkapkan bahwa mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antar manusia, maka upaya melatih dan mengembangkan empati di lingkungan keluarga, sekolah dan lembaga pendidikan lainnya perlu dilakukan sedini mungkin.
Suatu penelitian yang dilakukan Britton dan Fuendeling (2005) menemukan bahwa rendahnya kepedulian orangtua terhadap anak berkorelasi dengan perilaku antisosial anak. Semakin tinggi kepedulian orangtua, semakin baik kemampuan adaptasi dan empati anak. Namun demikian, para orangtua yang overprotektif terhadap anaknya justru akan melemahkan kedua kemampuan (adaptasi dan empati) tersebut.
Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima.
Hal ini karena kemampuan empati melibatkan kemampuan untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat nonverbal orang lain. Pemahaman seperti ini yang membuat hubungan antar individu di berbagai sektor kehidupan terjalin dengan baik.

Fenomena perilaku yang diangkat di awal tulisan ini sebagai akibat lemahnya sikap empati para pelaku. Kehidupan masyarakat kita yang mengalami erosi rasa empati terhadap sesamanya dapat dilihat dan dirasakan dalam berbagai peristiwa kehidupan sehari- hari.
Alih-alih para elit politik memberikan teladan malah dapat dikategorikan sebagai kalangan yang perlu dipertajam rasa empatinya karena bagian dari masalah tumpulnya empati itu sendiri. Dalam konteks ini para pemimpin dan pejabat perlu menajamkan empati atas persoalan yang dihadapi rakyat, sehingga mereka akan lebih altruistik terhadap rakyat. Jauh dari kepentingan dirinya sendiri maupun kelompoknya.
Tidak hanya di dunia pendidikan dan sosial, pada lingkungan bisnis industri seorang praktisi (staf, penyelia, manajer, direktur) pada hakekatnya juga memerlukan kemampuan empati dalam menjalankan tugas profesionalitasnya berinteraksi dengan orang lain. Jadi, peran empati cukup esensial dan merupakan suatu keniscayaan pula untuk diwujud-nyatakan atau ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia kerja.

Oleh Aries Musnandar
*) Dosen Luar Biasa Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
(tulisan ini telah dimuat di Bisnis Indonesia terbitan Jakarta, 03052010)