Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 20211 |
![]() | Kemarin | 26638 |
![]() | Minggu ini | 20211 |
![]() | Bulan ini | 491979 |
![]() | Total | 29083146 |
| Menjadikan Al Qur^an Sebagai Sumber Peradaban |
|
|
|
| Sabtu, 13 Desember 2008 08:06 |
|
Masih ingatkah kita terhadap apa yang populer tatkala Presaiden Soekarno berkuasa. Demikian pula tatkala kekuasaan itu digantikan oleh Soeharto, kemudian Habiebie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan saat ini Susilo Bambang Yudhoyono. Tatkala Soekarno masih berkuasa menjadi persiden, rakyat dikobarkan jiwanya dan dibesarkan hatinya. Dalam rangka membangkitkan semangat dan jiwa kebangsaan dikembangkan semboyan-semboyan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, semangat berdikari, rawe-rawe rantas malang-malang putung dan lain-lain. Kebijakan terkait dengan luar negeri Soekarno berani keluar dari PBB, konfrontasi dengan Malaysia, merebut kembali Irian Barat. Dengan tema-tema seperti itu sekalipun kondisi ekonomi belum bisa ditata, tetapi kebanggaan terhadap bangsa sendiri dapat ditumbuhkan, harga diri setiap warga negara sama dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju terlebih dahulu.
Berbeda dengan Soekarno, presiden Soeharto lebih menekankan pada pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, ia membangun tema-tema yang dipandang relevan dengan kebijakannya itu. Logika yang dikembangkan ialah bahwa agar ekonomi dapat tumbuh maka diperlukan stabilitas. Untuk membangun stabilitas maka diperlukan tentara yang memiliki loyalitas tinggi. Oleh karena itu, tentara angkatan darat, korp Soeharto sendiri diberikan prioritas melakukan peran-peran strategis. Kemudian dampaknya yang dirasakan oleh rakyat adalah perasaan tertekan, pemaksaan dan perbedaan pendapat tidak diberikan. Yang ditonjolkan adalah loyalitas vertikal. Pandangan yang dianggap paling sah adalah yang datang dari pihak penguasa. Untuk membangun kekuatan negara selain memobilisasi tentara, dilakukan dengan cara membangun ide-ide yang dipaksakan, seperti mensosialisasi P4, sentralisasi berbagai pengaturan kehidupan seluas-luasnya, memperlemah partisipasi politik rakyat dengan berbagai strateginya. Kata-kata pembangunan dijadikan sebagai dzikir sehari-hari. Kebijakan seperti itu melahirkan budaya paternalistik yang tampak kokoh tetapi sekaligus rapuh. Tatkala Soeharto menempatkan diri sebagai orang yang kurang simpatik pada agama (seorang kepercayaan) maka kehidupan keagamaan di Indonesia pun menjadi lesu. Tetapi sebaliknya, sejak tahun 1990 an tatkala Soeharto mulai dekat dengan kehidupan keagamaan (Islam) maka Islam menjadi semarak walaupun baru pada tataran simbolik. Ketika Soeharto dan seluruh keluarganya menunaikan ibadah haji, maka fenomena haji dipandang sebagai budaya elitis. Kemudian banyak pejabat tinggi dan menengah, para profesional muslim, termasuk pimpinan perguruan tinggi beramai-ramai menunaikan ibadah haji. Indonesia tatkala dipimpin oleh Habiebie, oleh karena waktu yang dilalui amat singkat dan ia harus melakukan stabilisasi ekonomi maupun politik sebagai akibat krisis yang berkepanjangan, maka tak terlalu banyak tema-tema spisifik yang dapat dicatat. Namun tidak berarti bahwa ia tanpa prestasi. Nilai rupiah terhadap dolar dapat diturunkan dari sekjitar 16 ribu menjadi 6.500,- rupiah. Tahanan politik banyak yang dibebaskan. Pers diberi keleluasaan yang luar biasa. Pemilu dipercepat. Demokratisasi terasa, rakyat menjadi terbebas dari berbagai tekanan. Islam menjadi budaya semua lapisan termasuk kaum elite. Masa pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) budaya santri terangkat. Sholawat badar, tahlil dan pesantren seperti bangun dari tidurnya yang sudah cukup lama. Indonesia seperti menjadi keluarga pesantren besar. Sebagaimana budaya pesantren, maka disiplin kurang memperoleh perhatian, birokrasi yang longgar, kebebasan berlebihan. Akibatnya, yang terjadi pada tingkat bawah PKL (pedagang kaki lima) diberi keleluasaan yang luar biasa dan mengakibatkan banyak kota menjadi dipenuhi oleh PKL. Maka kemudian lahirlah pemandangan semrawut di banyak kota. Oleh karena rakyat merasa diberi kebebasan dan sebaliknya pemerintah menjadi dipandang lemah, maka banyak hal yang sulit dikendalikan. Hutan, misalnyta, banyak yang dibagi-bagi oleh rakyat, dan setidak-tidaknya pohon-pohon ditebang beramai-ramai. Akibatnya banyak hutan gundul. Kebebasan berlebih-lebihan. Anehnya, kekuatan rakyat seperti itu juga tak dapat mengurangi kebiasaan korupsi yang sudah lama mengakar di tanah air ini. Setelah Gus Dur jatuh dan diganti oleh Megawati Soekarnoputri dalam banyak hal keadaan berubah. Yang jelas Indonesia sebagaimana layaknya pesantren besar menjadi hilang. Sedikit demi sedikit, dilakukan penguatan terhadap birokrasi pemerintah. Sekalipun tak tampak menggunakan pendekatan kekuasaan dengan mengedepankan kekuatan tentara maka dilakukan penertiban kehidupan sosial. Kekuatan rakyat disalurkans lewat perwakilan lembaga legislatif. Demokratisasi memang terasa tumbuh. Hanya tugas-tugas perbaikan ekonomi dan pemberantasan korupsi masih belum dirasakan hasilnya. Pengadilan terhadap orang-orang yang dianggap telah memanipulasi uang negara rupanya belum berdampak mempersurut fenomena korupsi. Pemerintahan Megawati saat ini baru berjalan kurang lebih delapan bulan, sehingga orang masih menunggu arah kecenderungan yang akan berkembang. Mulai tahun 2004 Indonesia memasuki suasana, sama sekali baru, wilayah demokrasi yang lebih mantap. Presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat. Begitu pula Gubernur, Bupati Wali Kota. Persis terjadi seperti yang dilakukan oleh rakyat tatkala memilih kepala desa. Semua rakyat memilih sesuai dengan pilihannya. System ini berjalan mulus, mungkin karena rakyat memang sudah terbiasa memilih pimpinannya secara langsung. Ya tatkal memilih kepala desa itu. Karena itu cara ini tidak melahirkan geolak. Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kala disambut gembira. Apalagi ketika itu presiden baru mengawali kepemimpinannya akan membuat gebrakan, dikenal dengan gebrakan 100 hari. Sayang sekali, gebrakan belum dilakukan kedahuluan digebrak oleh bencana alam. Di Aceh terjadi stunami yang menghancurkan wilayah itu. Tidak kurang dari 200.000 rakyat Aceh meninggal. Kemudian disusul oleh gempa Pulau Nias. Di Yogyakarya terjadi gempa yang sama. Puluhan ribu rakyat jadi korban, meninggal, cacat tubuh, kehilangan rumah dan seterusnya. Bencana belum berhenti, di mana-mana terjadi gempa bumi terus menerus. Gunung meletus, tanah longsor, banjir, kecelakaan ----udara, laut dan darat silih berganti. Selain itu, bangsa juga diterpa oleh berbagai penyakit, penyakit lama dan jenis penyakit baru, seperti flu burung, folio, dan jenis-jenis lainnya. Berbagai bencana, dengan kekurangan dan kelebihannya dapat diatasi. Di tengah-tengah penyelesaian bencana, pimpinan bangsa ini berusaha keras mengembangkan isu pemberantasan korupsi. Siapapun yang kedapatan informasi tentang telah melakukan penyimpangan ditangkap, diadili dan dihukum. Fenomena baru yang muncul, yang belum banyak terjadi di masa sebelumnya, atau setidaknya tidak seramai saat ini, adalah banyaknya para birokrat masuk penjara. Menteri, mantan menteri, gubernur, bupati, wali kota, pejabat bank, jaksa, hakim anggota DPR, DPRD masuk penjara menjadi hal biasa. Mestinya rakyat senang dengan gejala itu, negeri akan menjadi bersih dari sifat yang dibenci, yaitu KKN. Namun keberanian itu tidak begitu dirasakan, karena gejala korupsi juga tidak berhenti. Masih ada saja orang berani melakukan hal yang tercela itu, justru dalam jumlah yang lebih besar lagi. Selain itu, dalam waktu yang sama, terjadi kenaikan harga minyak dunia, yang mengakibatkan pemerintah menaikkan harga BBM yang terlalu tinggi sehingga berdampak pada kenaikan harga. Rakyat kemudian merasakan dampaknya, hidup terasa semakin susah. Pemerintah, tampak masih memiliki vitalitasnya, berusaha mengatasi itu semua. Saat ini, semua itu belum berakhir, masih ada waktu sekitar setahun lagi. Tentu masyarakat masih berharap dan menunggu hasilnya. Kritik, sindiran melalui media massa dan bahkan parodi ditampilkan di TV terhadap pemerintah. Suasana demokrasi, apapaun tampaknya tidak ada yang melarang. Hasilnya seperti apa, kita semua menunggunya. Hanya yang menarik, beban, tanggung jawab dan energi yang sedemikian besar tatkala seorang menjadi pemimpin bangsa, ternyata belum menyurutkan banyak orang berkeinginan jadi presiden. Kita lihat banyak reklame pribadi, mengenalkan diri pada rakyat. Untuk apa kalau tidak ingin dikenal dan selanjutnya dipilih dari presiden itu. Diskripsi terhadap berbagai gaya kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat bangsa Indonesia secara singkat ini, sesungguhnya ---yang paling penting dalam kontek tulisan ini, adalah untuk menunjukkan bahwa betapa besar pengaruh seorang pemimpin terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Masyarakat menjadi berubah-ubah pikiran dan orientasinya hanya oleh karena pemimpinnya berubah. Saya dalam tulisan ini hanya ingin mengatakan bahwa pemimpin memang memiliki kekuatan yang amat signifikan terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin mampu membangun pikiran, ide, cita-cita dan imajinasi rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu terkait dengan judul tulisan ini, jika diinginkan agar al Qur^an menjadi kekuatan pembangunan peradaban di Indonesia ini, maka akan lebih strategis dan cepat jika ditempuh lewat jalur politik, tanpa mengabaikan pentingnya jalur-jalur lainnya seperti pendidikan, kultur/budaya atau lainnya. Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang muslim. Bahkan dikenal keluarganya dekat dengan pondok tremas Pacitan, yang sangat terkenal. Saya juga mendapat informasi, beliau masih ada hubungan keluarga dengan para pendiri Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Dalam berbagai pidato beliau memiliki pemahaman tentang kitab suci Al Qur’an dan sejarah hidup Nabi. Ia seorang hají, dan selalu tampak dalam kegiatan keagamaan, baik di istana, di masjid maupun di tempat-tempat lain, seminal pesantren maupun sekolah agama. Oleh sebab itu, mestinya ummat Islam banyak bersyukur, setidaknya jika ke depan ummat Islam memiliki agenda meningkatkan kualitas kehidupan dengan nuansa agama, misalnya, sebagaimana dulu pernah diisukan yakni akan memajukan umat Islam melalui strategi membumikan al Qur^an, atau tegasnya menjadikan al Qur’an sebagai sumber peradaban, maka sesungguhnya pintu-pintu masuk ke arah itu pada saat ini semakin terbuka lebar. Allahu a’lam. |