Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 345 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini34809
mod_vvisit_counterKemarin53719
mod_vvisit_counterMinggu ini160147
mod_vvisit_counterBulan ini617665
mod_vvisit_counterTotal30105154
Mengenali Musuh Islam PDF Cetak E-mail
Minggu, 23 Oktober 2011 08:21

 

Agaknya, tatkala seseorang memiliki identitas, bahkan identitas sebagai seorang muslim, maka yang tebayang adalah adanya identitas lain selain yang disandangnya. Anehnya identitas lain itu kemudian dianggap sebagai kompetitor dan bahkan menjadi musuh.  Identitas pilihannya itu dibela dan dibesarkan, dan manun yang sering terjadi   adalah kemudian, menjadikan identitas lain dianggap mengganggu lalu dimusuhi.

 

Semangat membela identitas itu ternyata juga terjadi dalam soal beragama. Seorang muslim merasa memiliki kompetitor dan bahkan musuh, yaitu orang-orang non muslim. Demikian juga sebaliknya, bagi non muslim, maka kaum muslimin dianggap sebagai musuh. Akhirnya yang terjadi  adalah bahwa antar agama tidak saja bersaing, bahkan  kadang juga bermusuhan.

 

Oleh karena perbedaan identitas itu juga terjadi di dalam satu agama, maka dalam seagama pun juga terjadi persaingan dan bahkan juga konflik. Perbedaan identitas dalam seagama kadang juga sedemikian tajam. Persaingan dan konflik itu kadang sangat kelihatan sekali. Persaingan antara  kaum syiah dengan kaum sunni misalnya, terjadi di sepanjang sejarah, dan tidak mudah disatukan. Seolah-olah musuh syi’ah adalah kelompok sunni dan demikian pula dirasakan sebaliknya.

 

Memang di antara  kelompok dengan identitasnya masing-masing tersebut memiliki paham atau keyakinan yang berbeda. Tetapi apakah paham dan keyakinan itu selalu akan terganggu oleh paham atau keyakinan pihak  lain, maka jawabnya adalah tidak selalu demikian. Dalam tataran empirik, kadangkala yang terjadi bahwa, paham dan keyakinan seseorang atau sekelompok orang,  menjadi semakin kuat lantaran terdapat paham dan keyakinan lain di luarnya.

 

Adanya kompetitor dan bahkan musuh,  maka justru menjadikan identitas seseorang atau sekelompok orang semakin kuat. Menyadari akan hal ini, maka seorang manajer organisasi yang cakap, selalu menunjukkan kepada para anggota atau bawahannya tentang kompetitor atau musuh-musuhnya yang harus dihadapi. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk memberikan semangat atau motivasi agar selalu bekerja secara maksimal untuk menghidupkan orgtanisasi dan meraih keunggulan.

 

Lalu bagaimana dengan Islam.  Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, mengajarkan tentang fastabiqul khoiraat atau berlomba-lombalah dalam kebaikan. Seorang muslim memiliki identitas yang jelas. Identitas itu seharusnya ditampakkan dalam banyak hal, misalnya dimulai dari kemauan dan semangatnya mengembangkan ilmu pengetahuan,  selalu berusaha menjadi manusia yang terbaik, membangun keadilan, memiliki trasisi ritual untuk membangun spiritual yang kokoh,  dan selalu bekerja secara profesional atau disebut beramal shaleh.   

 

Identitas tersebut sedemikian  luas, sekalipun kadang-kadang oleh sementara orang hanya diambil dari sebagiannya saja, yaitu aspek ritualnya. Manakala identitas yang luas tersebut ditangkap semuanya, maka akan menjadikan seorang  muslim berpandangan dan berpikiran luas pula. Umpama  mereka merasa memiliki kompetitor dan atau bahkan musuh, maka musuh itu tidak saja selalu berada di luar dirinya, tetapi -------bisa jadi,  berada di dalam dirinya sendiri. Tegasnya, seorang muslim bisa bermusuhan dengan hati nuraninya sendiri.

 

Memahami ciri-ciri Islam  yang sedemikian luas itu, maka tatkala  seorang muslim berhenti belajar, tidak mau meningkatkan kualitas dirinya, enggan berbuat  adil, tidak menjalankan ritual secara tertib pada waktunya, --------misalnya enggan memenuhi panggilan shalat berjama’ah di masjid, dan bekerja secara sembarangan atau tidak profesional, maka sebenarnya orang dimaksud sedang bermusuhan dengan Islam, sekalipun yang bersangkutan mengaku dirinya sebagai seorang muslim.  Dengan pemahaman seperti itu, maka menjadi jelas bahwa musuh Islam  sebenarnya bisa berada pada diri seorang muslim sendiri.

 

Selain itu, tatkala seseorang muslim melakukan kerusakan, menyakiti hati orang lain, bahkan membunuh dengan cara meledakkan bom dan lain-lain, maka sebenarnya mereka sedang berseberangan dengan Islam.  Jangankan membuat kerusakan, sebatas tidak peduli  terhadap anak yatim dan tidak mau memberi makan kepada orang miskin saja, menurut petunjuk al Qur’an, diancam akan dimasukkan ke neraka. Oleh karena itu,  musuh Islam sebenarnya berada di mana-mana, termasuk di  kalangan kaum muslimin sendiri, yaitu  tatkala mereka membuat kerusakan dalam berbagai bentuk dan ukurannya itu. Wallahu a’lam.