Funbike Dies Maulidiah ke 9
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Pendidikan KejujuranSementara orang masih menganggap sepele terhadap kejujuran. Padahal jujur adalah sangat penting... |
Simbol-Simbol Agama Di Negara PancasilaDi Indonesia, sebagai negara yang menganut falsafah Pancasila sepatutnya tidak perlu ada... |
Membaca PolitikTernyata tidak semua orang mampu membaca apa saja yang terkait dengan kehidupan... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Ikutilah ragam kegiatan dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki Malang ke 9. -
Selamat dan sukses kepada Dekan Terpilih UIN Maliki Malang masa jabatan 2013 - 2017. -
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -








![]() | Hari ini | 34809 |
![]() | Kemarin | 53719 |
![]() | Minggu ini | 160147 |
![]() | Bulan ini | 617665 |
![]() | Total | 30105154 |
| Mengenali Musuh Islam |
|
|
|
| Minggu, 23 Oktober 2011 08:21 |
|
Agaknya, tatkala seseorang memiliki identitas, bahkan identitas sebagai seorang muslim, maka yang tebayang adalah adanya identitas lain selain yang disandangnya. Anehnya identitas lain itu kemudian dianggap sebagai kompetitor dan bahkan menjadi musuh. Identitas pilihannya itu dibela dan dibesarkan, dan manun yang sering terjadi adalah kemudian, menjadikan identitas lain dianggap mengganggu lalu dimusuhi.
Semangat membela identitas itu ternyata juga terjadi dalam soal beragama. Seorang muslim merasa memiliki kompetitor dan bahkan musuh, yaitu orang-orang non muslim. Demikian juga sebaliknya, bagi non muslim, maka kaum muslimin dianggap sebagai musuh. Akhirnya yang terjadi adalah bahwa antar agama tidak saja bersaing, bahkan kadang juga bermusuhan.
Oleh karena perbedaan identitas itu juga terjadi di dalam satu agama, maka dalam seagama pun juga terjadi persaingan dan bahkan juga konflik. Perbedaan identitas dalam seagama kadang juga sedemikian tajam. Persaingan dan konflik itu kadang sangat kelihatan sekali. Persaingan antara kaum syiah dengan kaum sunni misalnya, terjadi di sepanjang sejarah, dan tidak mudah disatukan. Seolah-olah musuh syi’ah adalah kelompok sunni dan demikian pula dirasakan sebaliknya.
Memang di antara kelompok dengan identitasnya masing-masing tersebut memiliki paham atau keyakinan yang berbeda. Tetapi apakah paham dan keyakinan itu selalu akan terganggu oleh paham atau keyakinan pihak lain, maka jawabnya adalah tidak selalu demikian. Dalam tataran empirik, kadangkala yang terjadi bahwa, paham dan keyakinan seseorang atau sekelompok orang, menjadi semakin kuat lantaran terdapat paham dan keyakinan lain di luarnya.
Adanya kompetitor dan bahkan musuh, maka justru menjadikan identitas seseorang atau sekelompok orang semakin kuat. Menyadari akan hal ini, maka seorang manajer organisasi yang cakap, selalu menunjukkan kepada para anggota atau bawahannya tentang kompetitor atau musuh-musuhnya yang harus dihadapi. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk memberikan semangat atau motivasi agar selalu bekerja secara maksimal untuk menghidupkan orgtanisasi dan meraih keunggulan.
Lalu bagaimana dengan Islam. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, mengajarkan tentang fastabiqul khoiraat atau berlomba-lombalah dalam kebaikan. Seorang muslim memiliki identitas yang jelas. Identitas itu seharusnya ditampakkan dalam banyak hal, misalnya dimulai dari kemauan dan semangatnya mengembangkan ilmu pengetahuan, selalu berusaha menjadi manusia yang terbaik, membangun keadilan, memiliki trasisi ritual untuk membangun spiritual yang kokoh, dan selalu bekerja secara profesional atau disebut beramal shaleh.
Identitas tersebut sedemikian luas, sekalipun kadang-kadang oleh sementara orang hanya diambil dari sebagiannya saja, yaitu aspek ritualnya. Manakala identitas yang luas tersebut ditangkap semuanya, maka akan menjadikan seorang muslim berpandangan dan berpikiran luas pula. Umpama mereka merasa memiliki kompetitor dan atau bahkan musuh, maka musuh itu tidak saja selalu berada di luar dirinya, tetapi -------bisa jadi, berada di dalam dirinya sendiri. Tegasnya, seorang muslim bisa bermusuhan dengan hati nuraninya sendiri.
Memahami ciri-ciri Islam yang sedemikian luas itu, maka tatkala seorang muslim berhenti belajar, tidak mau meningkatkan kualitas dirinya, enggan berbuat adil, tidak menjalankan ritual secara tertib pada waktunya, --------misalnya enggan memenuhi panggilan shalat berjama’ah di masjid, dan bekerja secara sembarangan atau tidak profesional, maka sebenarnya orang dimaksud sedang bermusuhan dengan Islam, sekalipun yang bersangkutan mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Dengan pemahaman seperti itu, maka menjadi jelas bahwa musuh Islam sebenarnya bisa berada pada diri seorang muslim sendiri.
Selain itu, tatkala seseorang muslim melakukan kerusakan, menyakiti hati orang lain, bahkan membunuh dengan cara meledakkan bom dan lain-lain, maka sebenarnya mereka sedang berseberangan dengan Islam. Jangankan membuat kerusakan, sebatas tidak peduli terhadap anak yatim dan tidak mau memberi makan kepada orang miskin saja, menurut petunjuk al Qur’an, diancam akan dimasukkan ke neraka. Oleh karena itu, musuh Islam sebenarnya berada di mana-mana, termasuk di kalangan kaum muslimin sendiri, yaitu tatkala mereka membuat kerusakan dalam berbagai bentuk dan ukurannya itu. Wallahu a’lam.
|