Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 443 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini27606
mod_vvisit_counterKemarin30712
mod_vvisit_counterMinggu ini141711
mod_vvisit_counterBulan ini613479
mod_vvisit_counterTotal29204646
Hama Pendidikan PDF Cetak E-mail
Kamis, 22 Desember 2011 14:34

 

Jika lembaga pendidikan diumpamakan sebagai  makhluk hidup, semisal tanaman, maka agar tetap tumbuh dan berkembang selalu memerlukan kebutuhan dasar, seperti  air, pupuk, udara, tanah yang subur, petani yang rajin, dan lain-lain. Lembaga pendidikan juga memerlukan seperangkat kebutuhan  dasar seperti itu. Lembaga pendidikan membutuhkan manajemen, kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, guru yang memiliki integritas tinggi, sarana dan prasarana yang memadai dan lain-lain.

 

Selain itu, tanaman dimaksud harus dijauhkan dari berbagai macam penyaklit agar tumbuh sehat dan akhirnya menghasilkan buah yang segar. Demikian pula lembaga pendidikan, harus dijauhkan dari apa saja yang dapat mengganggu, hingga institusi itu berhasil melakukan peran-perannya secara maksimal.

 

Hal yang mengganggu tanaman disebut penyakit tanaman atau gulma. Penyakit tanaman itu dalam ilmu pertanian dianggap penting untuk dikaji, sehingga melahirkan disiplin ilmu tersendiri yang disebut sebagai ilmu hama atau penyakit tanaman. Lembaga pendidikan sebagai sebuah kehidupan juga tidak jarang terserang penyakit. Namun selama ini, sepengetahuan saya, pengganggu institusi pendidikan ini belum banyak diperbincangkan. Padahal akibat dari penyakit iru tidak sedikit lembaga pendidikan menjadi sulit berkembang dan bahkan gulung tikar.

 

Perguruan tinggi yang memiliki programjn studi ilmu pertanian pada umumnya mengkaji hama tanaman secara khusus sehingga menghasilkan ilmu hama atau penyakit tanaman. Buku-buku dan juga hasil penelitian tentang hama pertanian sudah banyak diterbitkan. Demikian pula ahli ilmu penyakit tanaman sudah ada di mana-mana. Bahkan juga sudah dikembangkan disiplin ilmu tersendiri hingga menjadi sebuah program studi yang disebut sebagai program studi ilmu hama atau penyaklit tanaman.

 

Lembaga pendidikan agar tumbuh dan berkembang secara wajar, juga perlu dijauhkan dari berbagai penyakit yang mengganggu. Penyakit lembaga pendidikan itu juga bisa disebut sebagai penyakit pendidikan. Namun yang perlu dirumuskan adalah, bentuk dan jenisnya seperti apa saja ? Kiiranya sama dengan penyakit tanaman, maka penyakit lembaga pendidikan pun perlu dikaji secara mendalam.

 

Mengamati dunia pendidikan, apalagi menyangkut kelembagaannya, ternyata keadaannya bermacam-macam. Terdapat lembaga pendidikan yang berhasil dikelola secara sehat,  hingga berkembang cepat. Akan  tetapi juga ada lembaga pendidikan yang tidak menunjukkan dinamikanya dan  ada pula yang  semakin tenggelam dan bahkan mati. Beberapa tahun terakhir,  tidak sedikit sekolah dan perguruan tinggi swasta menghentikan kegiatannya, oleh karena tidak mendapatkan calon mahasiswa baru yang memadai.

 

Terkait dengan keadaan tersebut,  orang kemudian menduga bahwa ada sesuatu yang salah pada lembaga pendidikan yang tidak maju tersebut. Bahkan, lembaga pendidikan dimaksud  dianggap kurang sehat, baik terkait dengan kepemimpinan, manajemen dan lain-lain. 

 

Dari pengamatan sederhana seringkali ditemukan bahwa kemunduran lembaga pendidikan diakibatkan oleh banyak hal.  Misalnya, oleh karena terjadi konflik  antar pimpinan secara terus menerus, guru yang kurang terjaga kualitasnya, sarana dan prasarana pendidikan tidak tercukupi, tidak ada inovasi, prosentase lulusannya tidak tertampung di lapangan kerja,  dan lain-lain.

 

Belajar dari kenyataan tersebut, maka dapat dicatat bahwa penyakit pendidikan itu bisa datang dari internal maupun eksternal lembaga yang bersangkutan.  Namun kalau kita amati secara saksam, penyakit itu lebih banyak bersumber dari internalnya sendiri. Bentuknya bermacam-macam, misalnya suasana tidak nyaman hingga melahirkan konflik, kepemimpinan dan manajemen yang tidak terkendali,  tertutup atau korup, dan lain-lain. Semua itu sebenarnya adalah merupakan penyaklit pendidikan.

 

Oleh karena itu, sumber-sumber penyakit baik yang berasal dari yayasan, kepala sekolah, guru atau karyawan harus  selalu dijauhkan. Tatkala di antara mereka tidak lagi memiliki dedikasi dan loyalitas pada dunia pendidikan, tidak amanah, tidak sabar, tidak ikhlas dan sebagainya, menyalah gunakan wewenang, maka sebenarnya mereka itu sudah masuk bagian dari penyakit pendidikan itu. Agar lembaga pendidikan tetap sehat, maka semua penyakit pendidikan  itu harus dihilangkan. Pendidikan harus sehat,  agar maju  dan  berkualitas. Wallahu a’lam