Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 257 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini5619
mod_vvisit_counterKemarin29436
mod_vvisit_counterMinggu ini61693
mod_vvisit_counterBulan ini506823
mod_vvisit_counterTotal29097990
Perkara Sandal Jepit PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Januari 2012 23:14

 

Berasal dari kota Palu, munjul peristiwa sederhana, yaitu hilangnya sandal jepit milik seorang oknum polisi,  yang kemudian diketahui diambil oleh seorang anak bernama Aal. Namanya sandal jepit, sehebat-hebatnya tetap sandal jepit, harganya murah. Apalagi sandal itu sudah terpakai. Kalaupun dijual dan ada yang beli harganya hanya puluhan ribu rupiah.

 

Dilihat dari jenis  dan harga barang yang diambil itu, kiranya  tidak pantas hingga menjadi berita nasional. Sekedar persoalan sandal japit,  mejadikan pejabat polisi tingkat pusat hingga daerah terlibat permbicaraan ini. Demikian pula para ahli hukum, hingga seorang Gayus Lumbun ikut terlibat memberikan penjelasan. Belum lagi para pengamat hukum,   aktifis masyarakat, dan  LSM,  ikut ambil bagian meramaikan terhadap kasus ini.

 

Sandal japit yang sudah terpakai  yang harganya hanya sekitar Rp. 30.000,-  ternyata  menjadi berita besar hingga menggegerkan banyak orang. Coba umpama persoalan sandal jepit tersebut  diselesaikan secara kekeluargaan antara pemiliknya, yaitu seorang oknum polisi dan anak muda bernama Aal, maka tidak akan terjadi berita yang sedemikian ramai seperti sekarang ini. Ikatan kekeluargaan yang mendalam biasanya menjadikan sesuatu yang harganya mahal sekalipun,  tidak dihitung.  Jangankan sekedar sandal japit,  harta yang lebih mahal dari  itupun akan diklaskan untuk diberikan secara gratis,  dan belum tentu yang diberi juga selalu mau menerimanya.      

 

Lebih dari sekedar persoalan sandal japit, pasti ada sesuatu yang perlu diperbaiki di tengah-tengah masyarakat. Sillaturrahmi perlu dikembangkan lebih mantap. Jarak hubungan antara rakyat dan pejabat pemerintah seharusnya tidak terlalu jauh. Bahkan pejabat pemerintah harus berada di hari rakyat. Jika demikian itu yang dikembangkan,  maka sekedar sandal japit pejabat diambil oleh rakyatnya sendiri, -----apalagi oleh anak-anak, tidak akan diperkarakan hingga ke pengadilan. Bangsa Indonesia ini memiliki karakter yang tidak individualistik, mereka suka tolong menolong,  dan membangun kebersamaan. Dengan demikian, jika itu berjalan normal-normal saja, maka  tidak akan marah hanya diambil sandal jepitnya.  

 

Persoalannya hanya di sillaturrahiem. Sillaturrakhiem dan kebersamaan atas dasar kemanusiaan semestinya  dikembangkan secara luas, tidak terkecuali di antara sesama pejabat. Seseorang sekalipun hanya sebagai staf atau anak buah yang berada di tingkat bawah seharusnya diperlakukan secara manusiawi. Mereka tidak boleh diperlakukan semena-mena. Sebab mereka juga merasa meliki harga diri, harkat dan martabat sebagai manusia yang membutuhkan pengakuan dan penghargaan.  Anak buah yang diperlakukan dengan tidak semestinya, maka mereka akan mencari kompensasi dengan cara memperlakukan siapapun yang bisa memuaskan dirinya. Bisa jadi,  mereka yang diperlakukan  tidak semstinya itu adalah rakyat yang seharusnya justru diselamatkan itu.

 

Oleh karena itu, maka yang diperlukan sekarang ini adalah upaya membangun komunikasi yang ideal di tengah-tengah masyarakat. Komunikiasi ideal yang dimaksudkan itu adalah menempatkan harkat kemanusiaan pada posisi tertinggi. Jabatan, uang, kepemilikan harta benda dan sejenisnya tidak selayaknya  diposisikan melebihi harkat dan martabat kemanusiaan itu. Nilai-nilai mulia yang sangat demokratis seperti ini harus dikembangkan dan dimulai dari level atas menuju ke bawah. Atasan tidak saja melakukan peran-peran kepemimpinan dan leadership, melainkan juga harus berhasil menjadi tauladan atau uswah hasanah dalam membangun pergaulan ideal kemanusiaan yang dimaksudkan itu.

 

Manakala hal-hal seperti itu berhasil dikembangkan di negeri ini, maka tidak akan lagi terjadi rakyat yang tidak berdaya justru diusir oleh pengusaha perkebunan yang hidupnya sudah berlebih-lebihan. Selain itu maka juga tidak akan ada lagi seorang yang hanya mengambil sembilan buah pisang milik tetangga, memetik  sebuah semangka, memungut beberapa buah kakau milik perkebunan, dan juga sandal jepit,  lau diajukan ke pengadilan. Manakala harkat kemanusiaan dijunjung tinggi, sillaturhmi diperkuat, dan anak buah diperlakukan secara terhormat, maka tidak akan terjadi kasus-kasus yang hanya membikin orang tertawa terbahak-bahak.  Kasihan sekali,  kalau hal sepele itu selalu terjadi dan juga selalu dibawa ke pengadilan, maka apa jadinya bangsa ini di kemudian hari. Wallahu a’lam.