Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 268 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini37775
mod_vvisit_counterKemarin53719
mod_vvisit_counterMinggu ini163113
mod_vvisit_counterBulan ini620631
mod_vvisit_counterTotal30108120
Islam Mengajarkan Kehidupan Saling Memperkukuh PDF Cetak E-mail
Sabtu, 24 Maret 2012 19:03

 

Dalam kehidupan ini tampaknya merupakan hal biasa orang saling bersaing, berkompetisi,  dan bahkan berebut. Dalam proses-proses sosial seperti itu, maka yang kuat akan memenangkan perebutan atau kompetisi dimaksud. Sebaliknya, bagi yang lemah akan kalah dan bahkan  mati. Hal demikian itu akan sangat membahayakan, tidak terkecuali, di dunia ekonomi.  

 

Persaingan yang tidak seimbang, termasuk  dalam kehidupan ekonomi,  akan mengakibatkan bagi yang lemah menjadi tersingkir. Sedangkan yang kuat akan menguasai sumber-sumber ekonomi secara tidak terbatas. Itulah budaya kapitalisme yang sedang tumbuh dan berkembang di mana-mana. Sebagai gambaran nyata  keadaan itu, tampak dengan jelas gedung-gedung berdiri menjulang ke langit,  sementara rumah-rumah reot, bahkan gubug-gubug berdiri di sembarang tempat.

 

Gambaran menyedihkan lainnya, sehari-hari bisa disaksikan kendaraan mewah berseliweran, sementara pejalan kaki, khawatir takut tertabrak dari belakang, harus berhati-hati. Itu semua adalah merupakan  gambaran yang sangat paradog dalam kehidupan modern, sebagai akibat kapitalisme yang tidak terkendali.  Masayarat menjadi terbelah sedemikian tajam antara kelompok orag yang secara ekonomi sedemikian kuat,  memiliki harta yang melimpah ruang, sementara lainnya sebatas untuk makan, mendapatkan tempat berteduh, memenuhi kebutuhan kesehatan,  tidak selalu terjangkau.

 

Masih terkait dengan kehidupan ekonomi, bahwa dulu  rakyat kecil  bisa  membuka bedak-bedak di depan rumah atau di pinggir jalan. Mereka berjualan kebutuhan pokok seperti beras, gula, sayur mayur, kue,  dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya. Dari usaha itu, mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi, pada akhir-akhir ini, hadirnya pemodal kuat, maka tumbuh dan berkembang pasar modern berupa alfamart, indomart dan semacamnya. Kekuatan ekonomi modern ini bersaing dengan pedagang tradisional yang sudah lama ada. Dalam persaingan ini,  tentu pedagang tradisional kalah dan satu-satunya alternatif adalah  menyingkir.

 

Islam membolehkan umatnya untuk berlomba, tetapi perlombaaan  itu dalam bingkai kebaikan. Disebutkan dalam kitab suci kalimat yang indah, yaitu fastabiqul khairaat, atau berlomba-lombalah dalam kebaikan.  Tentu dalam setiap perlombaan ada yang menang dan sebaliknya,  ada yang kalah. Akan tetapi, mereka yang kalah pun masih berada  pada posisi baik. Munculnya persaingan ------bukan perlobaan, dalam kehidupan modern, seiring  hadirnya budaya kapitalisme ternyata benar-benar mematikan bagi mereka yang lemah, yang tidak memiliki modal, dan apalagi jaringan yang kuat.

 

Dalam Islam diajarkan bahwa antar sesama harus saling memperkukuh, termasuk dalam kehidupan ekonomi.  Diingatkan  bahwa,  kekayaan itu jangan sampai berputar pada kelompok tertentu.  Jika hal itu terjadi, maka pasar tidak akan berjalan. Bisa dibayangkan, jika uang hanya dimiliki oleh sekelompok tertentu, maka resikonya tidak akan ada orang yang membeli apapun barang yang diajual. Pasar menjadi macet,  jual beli tidak akan terjadi. Sebagian akan hidup, sementara lainnya akan mati. Islam tidak menghendaki suasana seperti itu terjadi.

 

Persaingan pada level lokal yang tidak seimbang antara pelaku ekonomi tradisional dan  modern, sebenarnya juga terjadi pada tingkat global.  Persaingan global itu dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan cara-cara terselubung lewat  jargon-jargon yang dianggap masuk akal, misalnya penegakkan ham, lingkungan hidup, demokrasi dan lain-lain. Jargon-jargon itu dijadikan pembenar bagi sebuah negara melakukan intervensi terhadap negara lain. Beralasan mencegah digunakannya senjata biologi misalnya, maka Irak digempur habis-habisan, sementara setelah kejadian itu senjata dimaksud  ternyata  tidak ditemukan. Iran dimusuhi karena mengembangkan nuklir, dan begitu pula negara-negara lainnya yang memiliki kekayaan yang sekiranya bisa  direbut, selalu diperlakukan serupa.

 

Islam tidak mengajarkan cara-cara manipulasi untuk mendapatkan keuntungan sendiri dan sebaliknya merugikan pihak lain, baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar.  Islam mengajarkan keadilan dan kebersamaan. Islam mengajarkan agar antar sesama saling menumbuh-kembangkan dan saling memperkukuh. Kemenangan bagi Islam adalah diperuntukkan  bagi semua yang sama-sama berbuat baik. Segala sesuatu selalu diukur dari kebaikan bagi semua. Siapapun dan dari manapun asal muasalnya, asalkan berbuat baik dan atau tidak mencelakakan terhadap siapapun, harus diajak bersama-sama dan dimenangkan. Hal seperti itu tidak terkecuali dalam mengembangkan ekonomi. Islam melindungi semua yang berpihak pada kebaikan  dan saling memperkukuh. Wallahu a’lam