Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 20714 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 104107 |
![]() | Bulan ini | 575875 |
![]() | Total | 29167042 |
| Beberapa Wilayah Keagamaan yang Bersifat Sensitif |
|
|
|
| Senin, 30 April 2012 22:30 |
|
Dalam kehidupan keagamaan, terdapat beberapa wilayah yang bersifat sensitifr. Artinya wilayah itu manakala disinggung akan melahirkan kemarahan dari umat pemeluknya. Umat pendukungnya akan marah oleh karena agamanya merasa dihina atau direndahkan. Kasus-kasus terkait dengan itu sudah banyak sekali terjadi. Oleh karena itu sebisa-bisa harus dihindari jauh-jauh.
Hal yang menyangkut agama, entah apa sebabnya, bersifat emosional. Orang akan segera tersinggung perasaannya bilamana agamanya dianggap rendah, atau disalahkan. Terhadap suatu agama, seseorang harus menghormati, atau setidak-tidaknya tidak boleh menyinggung, dan apalagi merendahkannya. Boleh saja orang membuat joke atau lelucon, tetapi harus menghindari wilayah yang bersifat sensitif itu.
Adapun wilayah yang disebut sensitif itu, di antaranya adalah terkait konsep tentang tuhannya, utusan atau pembawa risalah agama itu, tempat ibadah, kitab suci, dan elite agama yang bersangkutan. Manakala terhadap di antara hal-hal tersebut dirasa direndahkan atau apalagi dihina, maka penganut agama yang bersangkutan akan marah atau menunjukkan sikap emosionalnya.
Apapun konsep tentang tuhan yang diyakini oleh agama tertentu, manakala disalahkan atau direndahkan akan melahirkan kemarahan. Konsep tentang tuhan oleh suatu agama harus dihormati. Tidak boleh siapapun merendahkannya. Masih dalam ingatan, ketika saya masih kecil, hidup di pedesaan, sebuah group sandiwara, mementaskan kisah kelahiran tuhan. Sebelum acara itu dimulai, panggung sandiwara dimaksud sudah dibakar habis oleh anak-anak muda pemeluk agama yang bersangkutan. Pemrakarsa kegiatan kesenian itu kemudian ditangkap dan diadili, kemudian dimasukkan ke penjara.
Penganut agama juga menjadi marah manakala utusan dan bahkan elite agama yang bersangkutan direndahkan. Dahulu, pernah ada seseorang yang mungkin sekedar iseng, membuat angket tentang ranking beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh idolanya. Hasil angket tersebut, --------secara kebetulan saja, seorang nabi diletakkan pada posisi lebih rendah dari tokoh lainnya. Kasus itu ternyata membakar emosi dan melahirkan kemarahan yang berkepanjangan, hingga pembuat angket harus dihukum. Kemarahan serupa juga terjadi ketika seorang nabi dibuat bahan karikatur yang tidak sepantasnya.
Hal sensitif berikutnya adalah menyangkut kitab suci dan tempat ibadah. Berkali-kali terjadi kemarahan, ketika ada seseorang atau sekelompok orang menghinakan kitab suci, misalnya membakar atau sekedar meletakkannya pada tempat yang tidak semestinya. Begitu pula tempat ibadah. Jika terdapat kasus menghinakan tempat ibadah, misalnya merusak atau sekedar meletakkan barang yang tidak semestinya di tempat yang dianggap suci, apapun agamanya, maka pemeluknya akan marah dan tidak mudah diselesaikan.
Oleh karena itu, terhadap hal-hal yang sensitif tersebut harus mensikapinya secara hati-hati, agar tidak menimbulkan emosi atau kemarahan bagi pemeluknya. Mungkin saja seseorang bermaksud baik, misalnya mengingatkan tentang kegiatan di tempat ibadah, agar terasa lebih anggun dan tidak mengganggu. Akan tetapi sangat mungkin, peringatan itu justru akan melahirkan ketersinggungan dan bahkan kemarahan.
Hal-hal yang dianggap suci, dihormati, dihargai, dan dicintai, maka harus diperlakukan secara hati-hati, agar tidak beresiko yang tidak mudah diselesaikan. Sikap terhadap hal-hal yang dianggap sakral dan bernilai suci dalam kehidupan keagamaan seperti itu tidak cukup didasarkan pertimbangan rasional, melainkan lebih dari sekedar itu, oleh karena memang bersifat sensitif. Wallahu a’lam. |