Funbike Dies Maulidiah ke 9
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Simbol-Simbol Agama Di Negara PancasilaDi Indonesia, sebagai negara yang menganut falsafah Pancasila sepatutnya tidak perlu ada... |
Membaca PolitikTernyata tidak semua orang mampu membaca apa saja yang terkait dengan kehidupan... |
Islam Menganjurkan Agar Melakukan RisetBetapa pentingnya kegiatan yang terkait dengan membaca, sehingga ayat al Qur’an yang... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Ikutilah ragam kegiatan dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki Malang ke 9. -
Selamat dan sukses kepada Dekan Terpilih UIN Maliki Malang masa jabatan 2013 - 2017. -
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -








![]() | Hari ini | 25523 |
![]() | Kemarin | 53719 |
![]() | Minggu ini | 150861 |
![]() | Bulan ini | 608379 |
![]() | Total | 30095868 |
| Tawuran |
|
|
|
| Kamis, 07 Juni 2012 21:24 |
|
Akhir-akhir ini, sering terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan, yaitu tawuran antar kelompok yang berbeda. Peristiwa itu, anehnya terjadi di mana-mana, tidak saja di kota tetapi juga di desa. Kadang kala sebabnya sangat sepele, misalnya bersenggolan antar pemuda yang sedang mengendarai sepeda motor. Di antara mereka sama-sama tidak bisa menerima perlakuan itu, akhirnya mengundang kelompoknya untuk saling menyerang.
Oleh karena begitu sering peristiwa itu terjadi, maka tawuran dianggap hal biasa. Padahal dari tawuran itu, tidak saja melukai pihak-pihak yang terlibat, bahkan juga hingga ada yang meninggal dunia. Akhirnya nyawa, harganya sedemikian murah. Perikemanusiaan sepertinya sudah sirna dan nilai luhur itu seolah-olah bukan menjadi kepribadian bangsa lagi.
Bangsa yang beradap adalah bangsa yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan tidak akan mengganggu orang lain. Manusia dalam masyarakat yang beradab sangat dihargai. Lihat saja misalnya, agar tidak saling mengganggu, masyarakat yang berbudaya tinggi selalu antri dalam menggunakan fasilitas umum. Tanpa ada polisi, ketertiban selalu dijaga bersama.
Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki norma, nilai-nilai, sopan santun, adat istiadat yang dianggap pantas dan yang tidak pantas dilakukan. Semua itu dipegangi agar terbangun kehidupan yang harmoni, hidup bersama secara damai, tidak ada yang saling mengganggu. Siapapun yang melanggar norma, nilai-nilai dan adab kesopanan, maka dianggap menyimpang, dan akan mendapatkan sangsi sosial.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa timur, sejak lama dikenal memiliki tradisi yang kuat dalam menjaga nilai-nilai, norma, etika, dan adat kesopanan itu. Orang timur selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Lihat saja, kalau mereka sedang menerima tamu. Penghormatan yang diberikan luar biasa. Mereka berusaha agar tamunya merasa dihormati dan diterima sebaik-baiknya.
Tawuran sebenarnya bukan watak, tradisi, dan apalagi karakter atau akhlak bangsa ini. Sikap ngalah, umumnya lebih dikedepankan daripada mencari menang. Pilihan itu dimaksudkan untuk menghindari konflik. Ronggo Warsito, seorang filosof Jawa, mengemukakan karakter adiluhung yang dimiliki oleh seseorang, dengan beberapa kalimat yang indah sebagai berikut. Yaitu, menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, nglurug tanpo bolo, sekti tanpo aji-aji, kayungyun dening pepoyaning kautaman.
Orang Jawa, dan bangsa Indonesia pada umumnya, sekalipun menang, justru merasa akan lebih terhormat manakala sanggup tidak merendahkan pihak yang kalah. Merasa kaya sekalipun tidak menguasai harta yang berlebihan. Demikian pula tatkala harus melawan, mereka berusaha tidak menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya. Mereka berusaha menang dengan cara yang halus. Semua itu dilakukan untuk meraih keutamaan hidup. Filsafat hidup seperti itu dipelihara, dijaga dan dijadikan pegangan bagi bangsa ini.
Oleh karena itu, tatkala akhir-akhir ini sering terjadi tawuran, konflik antar kampung, perebutan lahan pertanian, pertambangan, tempat berjualan, dan seterusnya, maka wajar sementara orang kemudian bertanya-tanya, ada apa sebenarnya di dalam kehidupan bangsa ini. Tawuran bukan tradisi bangsa Indonesia. Konflik biasanya diselesaikan secara adat, tanpa harus lewat proses yang saling melukai, dan apalagi membunuh. Memang ada tradisi tawuran di beberapa tempat, tetapi hanya dilakukan secara terbatas, dan biasanya dilakukan secara terpaksa untuk menjaga harkat dan martabat seseorang, keluarga, atau suku, dan biasanya berhasil diselesaikan secara adat.
Gejala tawuran akhir-akhir ini, sudah tampak di luar batas, dan atau bahkan juga melampaui ukuran–ukuran normal. Tawuran terjadi hanya karena persoalan sepele, yaitu berebut sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Rasanya berbeda konflik itu tatkala dipicu oleh hal-hal yang bernilai tinggi, misalnya terkait dengan pandangan hidup, kepercayaan, nilai-nilai yang seharusnya ditegakkan, dan bahkan juga membela harkat dan martabat seseorang, kelompok, atau lainnya yang lebih besar.
Konflik atau tawuran yang terjadi hanya sekedar dipicu oleh uang, harta kekayaan, sumber-sumber ekonomi, dan kekuasaan, menggambarkan bahwa pelakunya masih berada pada tahapan masyarakat rendah dan bahkan primitif. Akan tetapi, persoalannya adalah, mengapa tawuran juga dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan, bertempat tinggal di perkotaan, dan juga mereka yang tergolong kelas menengah ke atas. Oleh karena itu, persoalan tersebut rasanya tidak mudah dijawab.
Namun jika ditelusuri secara mendalam, munculnya tawuran itu lebih banyak terkait dengan persoalan ekonomi. Banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Orientasi tersebut, dalam prakteknya, selalu menganggu kepentingan orang lain. Dalam perebutan itu ada yang menang dan sebaliknya ada yang kalah. Maka dari sana muncullah perasaan iri, dengki, dan sakit hati. Persaan seperti itu melahirkan penyakit berikutnya, yaitu dendam, permusuhan, dan akhirnya tawuran itu.
Oleh karena itu, agar bangsa ini berhasil menjaga keadabannya, maka nilai-nilai luhur, seperti kemanusiaan, kejujuran, keadilan, musyawarah, saling mencintai antar sesama harus dikedepankan. Sebaliknya, harus disadari oleh siapapun, apalagi para pemimpin bangsa ini, bahwa menjadikan sekedar harta dan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan hidup sebenarnya justru akan mengantarkan bangsa ini jatuh dan terperosok pada kebiadaban. Selalu bertawur untuk memperebutkan kekayaan dan kekuasaan adalah contoh bentuk masyarakat yang tidak beradab. Wallahu a’lam
|