Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 216 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini16079
mod_vvisit_counterKemarin42266
mod_vvisit_counterMinggu ini172450
mod_vvisit_counterBulan ini644218
mod_vvisit_counterTotal29235385
Mengembangkan Universitas di Lingkungan Pesantren PDF Cetak E-mail
Senin, 18 Juni 2012 22:42

 

Hari Sabtu tanggal 16 Juni 2012, saya diundang  oleh  dua pesantren besar di Jawa Timur, yaitu  Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asem Bagus, Situbondo. Di antara dua pondok pesantren itu jaraknya cukup jauh, tetapi kedua-duanya harus saya hadiri. Pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang  menyelenggarakan wisuda para siswanya, sedang di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Asem Bagus, Situbondo menyelenggarakan peringatan Isra’ Mi’raj dan sekaligus memperingati 100 hari wafatnya KH. Akhmad Fawaid, pengasuh pesantren tersebut.

 

Acara di dua tempat tersebut,  sekalipun dilaksanakan pada hari yang sama, untung sekali, waktunya berbeda. Wisuda di pesantren Tebu Ireng dilaksanakan pada pagi hari, sementara di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah pada  malam harinya. Jarak yang cukup jauh di antara ke dua pesantren tersebut harus saya tempuh dengan mobil selama 9 jam, sehingga sejak berangkat dari rumah hingga pulang  nyampai di  Malang kembali  memerlukan waktu hampir 24 jam.

 

Hal yang menarik, bahwa  ke dua pesantren tersebut  sama-sama merencanakan untuk menambah lembaganya dengan universitas. Manakala usaha itu berhasil, maka kedua lembaga pendidikan Islam  tersebut akan dikenal sebagai  pesantren sekaligus universitas,  atau universitas sekaligus pesantren.  Model lembaga pendidikan Islam seperti itu bukan sederhana, tetapi menggambarkan, tidak saja  merupakan  evolusi kelembagaan, tetapi juga terkait dengan sejarah masa depan,  dan bahkan juga pemahaman tentang Islam secara keseluruhan.

 

Pada awalnya pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan  kitab-kitab kuning, memberikan penekanan pada pembentukan akhlak mulia, kemandirian, dan juga jiwa entrepreneur. Akan  tetapi kemudian,  lama kelamaan institusi pendidikan itu  berkembang,  tanpa harus meninggalkan tradisinya yang lama,  menyempurnakan lembaganya dengan bentuk universitas. Kehadiran universitas di tengah pesantren akan membentuk kultur tersendiri, yang tentu berbeda di antara keduanya, yaitu kultur pesantren dan atau kultur universitas.

 

Perubahan tersebut tidak sederhana, oleh karena kehadiran universitas di tengah pesantren akan berpengaruh pada perubahan terhadap cara melihat masa depan dan atau bahkan memahami Islam secara keseluruhan. Tatkala  masih sebagai pesantren, maka yang diajarkan di lembaga pendidikan itu umumnya  terbatas pada persoalan yang terkait  dengan kegiatan  ritual, tetapi setelah dilengkapi dengan universitas, maka di lembaga itu akan dikaji dan diajarkan ilmu pengetahuan yang semakin luas, misalnya ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, filsafat, bahasa dan sastra, teknologi,  dan lain-lain.

 

Jika demikian itu yang terjadi, maka ke depan pesantren bukan lagi menjadi lembaga pendidikan  yang sederhana.  Bentuk dan tradisi baru pendidikan yang terbangun akan merupakan perpaduan, yang kiranya jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan  sosok pribadi lulusan yang semakin lengkap.  Bentuk lembaga pendidikan baru itu akan melahirkan sosok  yang disebut ulama yang intelek dan intelek yang ulama.  Konsep  seperti itu sebenarnya bukan baru, tetapi  sejak  lama disuarakan oleh para tokoh dan ulama terdahulu.

 

Selain itu, di lembaga pendidikan yang merupakan sintesa antara pesantren dan universitas tersebut akan  melahirkan konsep pendidikan yang terpadu, misalnya keterpaduan antara  tradisi  mengaji dan kuliah,  antara akhlak mulia dengan kecendekiaan, antara tradisional dan modern, memadukan antara sumber ilmu berupa ayat-ayat qawliyah dan kawniyah, antara berdzikir dan berpikir serta beramal saleh,  dan seterusnya. Wujud seperti itu sebenarnya juga sangat mudah dicarikan sandarannya  dari kitab suci al Qur’an dan bahkan juga  dalam banyak hal,  akan sesuai dengan harapan masyarakat selama ini.

 

Dalam kitab suci al Qur’an terdapat konsep tentang manusia yang sempurna, yaitu ulul al baab.  Bahkan,  kata ulul al baab dalam al Qur’an terdapat di 16 ayat  pada tempat yang berbeda-beda. Satu di antaranya, terdapat pada surat Ali Imran ayat 191, di sana dijelaskan bahwa sosok ulul al baab pada garis besarnya adalah orang yang selalu  berdzikir atau ingat Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi, serta meyakinji bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.  Sosok manusia ulul al baab, kiranya akan lebih memungkinkan  dibentuk melalui lembaga pendidikan pesantren yang sekaligus universitas dan atau universitas yang sekaligus pesantren.  

 

Proses perubahan yang terjadi di pesantren itu tentu menarik. Pesantren menjadi institusi pendidikan yang tidak bisa dikatakan stagnan, melainkan justru sebaliknya,  dinamis. Hanya saja,  perubahan itu memerlukan waktu yang lama.  Di antara isi ceramah yang saya sampaikan di kedua pondok pesantren tersebut, adalah menyangkut gambaran baru pesantren ke depan  tatkala  benar-benar  telah melengkapi dirinya dengan bentuk universitas.  Pesantren yang di dalamnya terdapat universitas akan  berhasil melahirkan sosok lulusan ideal, seperti  yang tergambarkan  dalam kitab suci, sebagaimana diungkapkan di muka, dan sekaligus akan memenuhi  harapan masyarakat selama ini.

 

Saya juga menyampaikan bahwa,  penambahan kelembagaan itu  seharusnya diikuti oleh perubahan banyak aspek lainnya yang tidak sederhana. Akan tetapi manakala lembaga itu berhasil dikelola secara baik, dilakukan dengan sungguh-sungguh, didukung oleh berbagai kalangan, maka akan menghasilkan sesuatu yang ideal.  Proses lahirnya universitas di kedua pesantren  tersebut sebenarnya sudah dimulai. Di Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukorejo, Asem Bagus,  Situbondo, sudah  berdiri sekolah tinggi Ilmu Perikanan, Informatika dan lainnya. Demikian pula di Tebu Ireng, telah lama berdiri Institut Ke-Islaman Hasyim Asy ‘ari. Dengan bekal itu, maka rencana menghadirkan bentuk lembaga baru di pesantren berupa universitas, bukan menjadi  sesuatu yang aneh dan bahkan juga,  bukan terlalu sulit diwujudkan. Saya optimis usaha itu akan terwujud, oleh karena orang-orang pesantren pada umumnya memiliki jiwa pejuang yang tinggi,  berintegritas yang kuat, keikhlasan, dan kesediaan untuk berkorban demi kemajuan agamanya. Wallahu a’lam.