Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 21562 |
![]() | Kemarin | 30712 |
![]() | Minggu ini | 135667 |
![]() | Bulan ini | 607435 |
![]() | Total | 29198602 |
| Mengembangkan Universitas di Lingkungan Pesantren |
|
|
|
| Senin, 18 Juni 2012 22:42 |
|
Hari Sabtu tanggal 16 Juni 2012, saya diundang oleh dua pesantren besar di Jawa Timur, yaitu Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asem Bagus, Situbondo. Di antara dua pondok pesantren itu jaraknya cukup jauh, tetapi kedua-duanya harus saya hadiri. Pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang menyelenggarakan wisuda para siswanya, sedang di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Asem Bagus, Situbondo menyelenggarakan peringatan Isra’ Mi’raj dan sekaligus memperingati 100 hari wafatnya KH. Akhmad Fawaid, pengasuh pesantren tersebut.
Acara di dua tempat tersebut, sekalipun dilaksanakan pada hari yang sama, untung sekali, waktunya berbeda. Wisuda di pesantren Tebu Ireng dilaksanakan pada pagi hari, sementara di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah pada malam harinya. Jarak yang cukup jauh di antara ke dua pesantren tersebut harus saya tempuh dengan mobil selama 9 jam, sehingga sejak berangkat dari rumah hingga pulang nyampai di Malang kembali memerlukan waktu hampir 24 jam.
Hal yang menarik, bahwa ke dua pesantren tersebut sama-sama merencanakan untuk menambah lembaganya dengan universitas. Manakala usaha itu berhasil, maka kedua lembaga pendidikan Islam tersebut akan dikenal sebagai pesantren sekaligus universitas, atau universitas sekaligus pesantren. Model lembaga pendidikan Islam seperti itu bukan sederhana, tetapi menggambarkan, tidak saja merupakan evolusi kelembagaan, tetapi juga terkait dengan sejarah masa depan, dan bahkan juga pemahaman tentang Islam secara keseluruhan.
Pada awalnya pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan kitab-kitab kuning, memberikan penekanan pada pembentukan akhlak mulia, kemandirian, dan juga jiwa entrepreneur. Akan tetapi kemudian, lama kelamaan institusi pendidikan itu berkembang, tanpa harus meninggalkan tradisinya yang lama, menyempurnakan lembaganya dengan bentuk universitas. Kehadiran universitas di tengah pesantren akan membentuk kultur tersendiri, yang tentu berbeda di antara keduanya, yaitu kultur pesantren dan atau kultur universitas.
Perubahan tersebut tidak sederhana, oleh karena kehadiran universitas di tengah pesantren akan berpengaruh pada perubahan terhadap cara melihat masa depan dan atau bahkan memahami Islam secara keseluruhan. Tatkala masih sebagai pesantren, maka yang diajarkan di lembaga pendidikan itu umumnya terbatas pada persoalan yang terkait dengan kegiatan ritual, tetapi setelah dilengkapi dengan universitas, maka di lembaga itu akan dikaji dan diajarkan ilmu pengetahuan yang semakin luas, misalnya ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, filsafat, bahasa dan sastra, teknologi, dan lain-lain.
Jika demikian itu yang terjadi, maka ke depan pesantren bukan lagi menjadi lembaga pendidikan yang sederhana. Bentuk dan tradisi baru pendidikan yang terbangun akan merupakan perpaduan, yang kiranya jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan sosok pribadi lulusan yang semakin lengkap. Bentuk lembaga pendidikan baru itu akan melahirkan sosok yang disebut ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Konsep seperti itu sebenarnya bukan baru, tetapi sejak lama disuarakan oleh para tokoh dan ulama terdahulu.
Selain itu, di lembaga pendidikan yang merupakan sintesa antara pesantren dan universitas tersebut akan melahirkan konsep pendidikan yang terpadu, misalnya keterpaduan antara tradisi mengaji dan kuliah, antara akhlak mulia dengan kecendekiaan, antara tradisional dan modern, memadukan antara sumber ilmu berupa ayat-ayat qawliyah dan kawniyah, antara berdzikir dan berpikir serta beramal saleh, dan seterusnya. Wujud seperti itu sebenarnya juga sangat mudah dicarikan sandarannya dari kitab suci al Qur’an dan bahkan juga dalam banyak hal, akan sesuai dengan harapan masyarakat selama ini.
Dalam kitab suci al Qur’an terdapat konsep tentang manusia yang sempurna, yaitu ulul al baab. Bahkan, kata ulul al baab dalam al Qur’an terdapat di 16 ayat pada tempat yang berbeda-beda. Satu di antaranya, terdapat pada surat Ali Imran ayat 191, di sana dijelaskan bahwa sosok ulul al baab pada garis besarnya adalah orang yang selalu berdzikir atau ingat Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi, serta meyakinji bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia. Sosok manusia ulul al baab, kiranya akan lebih memungkinkan dibentuk melalui lembaga pendidikan pesantren yang sekaligus universitas dan atau universitas yang sekaligus pesantren.
Proses perubahan yang terjadi di pesantren itu tentu menarik. Pesantren menjadi institusi pendidikan yang tidak bisa dikatakan stagnan, melainkan justru sebaliknya, dinamis. Hanya saja, perubahan itu memerlukan waktu yang lama. Di antara isi ceramah yang saya sampaikan di kedua pondok pesantren tersebut, adalah menyangkut gambaran baru pesantren ke depan tatkala benar-benar telah melengkapi dirinya dengan bentuk universitas. Pesantren yang di dalamnya terdapat universitas akan berhasil melahirkan sosok lulusan ideal, seperti yang tergambarkan dalam kitab suci, sebagaimana diungkapkan di muka, dan sekaligus akan memenuhi harapan masyarakat selama ini.
Saya juga menyampaikan bahwa, penambahan kelembagaan itu seharusnya diikuti oleh perubahan banyak aspek lainnya yang tidak sederhana. Akan tetapi manakala lembaga itu berhasil dikelola secara baik, dilakukan dengan sungguh-sungguh, didukung oleh berbagai kalangan, maka akan menghasilkan sesuatu yang ideal. Proses lahirnya universitas di kedua pesantren tersebut sebenarnya sudah dimulai. Di Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukorejo, Asem Bagus, Situbondo, sudah berdiri sekolah tinggi Ilmu Perikanan, Informatika dan lainnya. Demikian pula di Tebu Ireng, telah lama berdiri Institut Ke-Islaman Hasyim Asy ‘ari. Dengan bekal itu, maka rencana menghadirkan bentuk lembaga baru di pesantren berupa universitas, bukan menjadi sesuatu yang aneh dan bahkan juga, bukan terlalu sulit diwujudkan. Saya optimis usaha itu akan terwujud, oleh karena orang-orang pesantren pada umumnya memiliki jiwa pejuang yang tinggi, berintegritas yang kuat, keikhlasan, dan kesediaan untuk berkorban demi kemajuan agamanya. Wallahu a’lam. |