Funbike Dies Maulidiah ke 9
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Pendidikan KejujuranSementara orang masih menganggap sepele terhadap kejujuran. Padahal jujur adalah sangat penting... |
Simbol-Simbol Agama Di Negara PancasilaDi Indonesia, sebagai negara yang menganut falsafah Pancasila sepatutnya tidak perlu ada... |
Membaca PolitikTernyata tidak semua orang mampu membaca apa saja yang terkait dengan kehidupan... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Ikutilah ragam kegiatan dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki Malang ke 9. -
Selamat dan sukses kepada Dekan Terpilih UIN Maliki Malang masa jabatan 2013 - 2017. -
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -








![]() | Hari ini | 41937 |
![]() | Kemarin | 53719 |
![]() | Minggu ini | 167275 |
![]() | Bulan ini | 624793 |
![]() | Total | 30112282 |
| Cara Konyol Mencegah Penularan HIV/Aids |
|
|
|
| Senin, 25 Juni 2012 22:37 |
|
Akhir-akhir ini diperoleh data bahwa penyebaran penyakit HIV/Aids jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hubungan sex bebas di mana-mana merupakan sebab utama terjadinya penyakit yang mematikan itu. Keadaan itu tentu menakutkan banyak pihak, termasuk oleh para pelaku sex bebas itu sendiri. Agaknya aneh, orang tetap menginginkan sex bebas tetapi tidak mau menanggung akibatnya.
Bahayanya, penyakit itu bisa menular kepada orang lain, baik lewat hubungan sex suami isteri atau media lainnya. Seorang isteri yang bersuamikan laki-laki yang terkena penyakit mematikan itu bisa tertulari. Demikian pula, bayi yang lahir dari ibu yang berpenyakit HIV/Aids bisa tertular. Bahkan penularan itu juga bisa terjadi lewat alat-alat kesehatan, semisal jarum suntik.
Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang mengerikan itu muncul ide, yaitu dengan cara membagi-bagikan alat kontrasepsi sederhana berupa kondon kepada siapapun yang akan melakukan hubungan sex, termasuk anak-anak sekolah. Logika yang digunakan sederhana, yaitu bahwa hubungan sex bebas di zaman modern ini sudah tidak mungkin dicegah lagi.
Mereka berpandangan bahwa, melarang sex bebas dengan cara apapun sudah tidak efektif. Maka cara yang dianggap tepat adalah melakukan pencegahan dari akibat perilaku menyimpang itu. Pencegahan yang dimaksud adalah mengamankan dari proses penularan penyakit itu. Sekalipun melakukan perzinahan tetapi aman dari berbagai resiko, termasuk tertular dari penyakit HIV.
Sudah barang tentu, pikiran itu sangat bertentangan nilai-nilai agama. Zina adalah dosa besar yang harus dijauhi. Akibat dari perbuatan zina tidak saja diterima di dunia, -------semacam tertular penyakit HIV dan sejenisnya, tetapi juga di akherat. Para pezina akan dilempar ke neraka. Oleh karena itu, bagi siapapun yang beriman, akan sejauh mungkin menghindarkan diri dari perbuatan buruk yang dilarang oleh agama itu.
Pikiran orang yang akan memfasilitasi kondom kepada siapapun yang melakukan sex bebas, termasuk pada anak-anak sekolah, adalah menggambarkan bahwa yang bersangkutan tidak paham terhadap agama. Mereka mengira bahwa keselamatan itu hanya untuk di dunia, dan tidak berjangkauan jauh hingga akherat. Agama, ------Islam, mengajari umatnya berpikir jangka jauh dan komprehensif.
Sebaliknya, rencana membagi kondom gratis yang dimaksudkan untuk mencegah penyakit HIV/Aids, adalah pikiran konyol. Mereka tidak sadar bahwa dengan cara itu akan menumbuh-kembangkan hubungan sex bebas yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai tradisi, bangsa, dan bahkan agama.
Jika pikiran konyol tersebut akhirnya diterima, maka sama halnya dengan meruntuhkan harkat dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijaga dan dijunjung tinggi. Bangsa ini masih ada dan tetap akan ada sepanjang tidak berpikir konyol dan masih konsisten menjaga nilai-nilai agama yang luhur dan mulia itu. Wallahu a’lam. |