Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 321 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini230
mod_vvisit_counterKemarin37422
mod_vvisit_counterMinggu ini230
mod_vvisit_counterBulan ini665791
mod_vvisit_counterTotal29256958
Berziarah ke Makam Syekh Abdul Kadir al Jilani PDF Cetak E-mail
Selasa, 26 Juni 2012 07:09

 

Dzikir bersama yang seringkali dilakukan oleh banyak orang akhir-akhir ini mengingakan saya pada ziarah yang pernah saya lakukan  bersamna-sama Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Dr. Amien Rais di makam Syekh Abdul Kadir al Jilani di  Baghdad, Iraq. Sekalipun ziarah itu saya lakukan sudah cukup lama, tetapi tidak mudah  saya lupakan.

 

Ketika itu ada undangan dari pemerintah Iraq kepada PP Muhammadiyah. Maka diutuslah Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Amien Rais untuk menghadiri. Tidak begitu saya ketahui pertimbangannya, saya yang ketika itu sebagai pembantu rektor di Universitas Muhammadiyah Malang  diajak serta dalam kunjungan itu.  Sebelum berangkat, kami bertiga,  kebetulan saja bertemu dengan Pak Azhar Basyir, MA.,(almarhum)  yang  beketulan beliau pada saat itu sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Mengetahui bahwa kami bertiga akan berangkat ke  Baghdad, Iraq, beliau menyarankan agar menyempatkan berziarah ke makam Syekh Abdul Kadir al Jilani yang berada di tengah kota. Pak Azhar tidak menjelaskan keistimewaan makam itu, tetapi beliau menyebut penting untuk menyempatkan berziarah ke makam itu. Padahal berziarah ke makam ulama’, sekalipun tidak dilarang, kurang terbiasa dilakukan oleh kalangan modernis ini.

 

Dibanding Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Amien Rais,  ketika itu,  posisi  saya masih sangat yunior. Oleh karena itu, saya hanya sekedar mengikuti apa yang diagendakan  kedua tokoh ini. Namun ternyata, ketika sudah berada di Iraq, selain mengunjungi  beberapa makam para tokoh, termasuk ke Najab dan Karbala, juga mengnjungi makam Syekh Abdul Kadir al Jilani, sebagaimana pesan Pak Azhar Basyir, MA., dimaksud.

 

Dibanding dengan makam para ulama’ terkenal lainnya, makam Syekh Abdul Kadir al Jilani tidak ada hal yang lebih istimewa. Makam itu  menjadi satu dengan bangunan masjid. Orang-orang yang datang ke  masjid  itu, biasanya berziarah  ke makam terlebih dahulu, dan kemudian masuk ke tempat shalat. Biasanya yang dilakukan orang   tatkala berziarah adalah mengelilingi makam, peris  orang bertawaf mengelilingi ka’bah, lalu diakhiri  dengan berdoa sendiri-sendiri. Kami bertiga, dengan dipandu oleh petugas yang mengantarkan dari pemerintah Iraq juga melakukan hal yang sama.        

 

Selain berziarah ke makam dan shalat di masjid itu, orang-orang yang datang ke tempat itu,  juga mendatangi perpustakaan yang berada di lokasi itu. Perpustakaan dimaksud  cukup besar, dan begitu pula  koleksinya,  juga cukup banyak.  Kitab al Qur’an dengan berbagai ukuran dan tahun penerbitan ada di perpustakaan itu. Bahkan ayat-ayat al Qur’an  yang masih ditulis di kayu atau kulit tersimpan di perpustakaan itu.  

 

Mengunjungi perpustakaan di makam ulama’ besar ini,  terbayang bahwa Syekh Abdul Kadir al Jilani sebenarnya tidak saja menggambarkan sebagai seorang tokoh spiritual melainkan juga sebagai seorang ilmuwan. Dua kekuatan yang diajarkan oleh Islam, yaitu kedalaman spiritual  dan ilmu pengetahuan berhasil menyatu dalam diri ulama besar baghdad itu. Namun rupanya, lewat kegiatan dzikir bersama yang umumnya diikuti oleh banyak orang di Indonesia, ulama ini lebih dikenal sebatas sebagai tokoh spiritual.

 

Pandangan serupa juga terjadi pada ulama besar Imam al Ghazali. Ulama yang lahir dan wafat di Thus, tetapi pernah belajar dan juga menjadi  guru besar  di Baghdad juga lebih dikenal sebagai tokoh spiritual. Padahal lewat karya-karyanya, Imam al Ghazali adalah seorang cendekiawan yang menulis berbagai kitab, di antaranya ikhya’ Ulumudin yang banyak dikaji dan dijadikan  rujukan oleh umat Islam di Indonesia.

 

Menangkap kesan selintas dari berziarah,  baik ke baghdad, Iraq, maupun ke Thus di Iran, terbayang  bahwa umpama masyarakat Islam mengembangkan dua ranah  penting secara seimbang dan sungguh-sungguh, yaitu kehidupan spiritual dan sekaligus ilmu pengetahuan, dan apalagi disempurnakan  dengan profesionalitas, maka umat Islam akan lebih maju. Peradaban Islam akan kokoh manakala masyarakatnya memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu,  dan kematangan profesional. Wallahu a’lam.