Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 110142 |
![]() | Bulan ini | 555272 |
![]() | Total | 29146439 |
| Berziarah ke Makam Syekh Abdul Kadir al Jilani |
|
|
|
| Selasa, 26 Juni 2012 07:09 |
|
Dzikir bersama yang seringkali dilakukan oleh banyak orang akhir-akhir ini mengingakan saya pada ziarah yang pernah saya lakukan bersamna-sama Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Dr. Amien Rais di makam Syekh Abdul Kadir al Jilani di Baghdad, Iraq. Sekalipun ziarah itu saya lakukan sudah cukup lama, tetapi tidak mudah saya lupakan.
Ketika itu ada undangan dari pemerintah Iraq kepada PP Muhammadiyah. Maka diutuslah Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Amien Rais untuk menghadiri. Tidak begitu saya ketahui pertimbangannya, saya yang ketika itu sebagai pembantu rektor di Universitas Muhammadiyah Malang diajak serta dalam kunjungan itu. Sebelum berangkat, kami bertiga, kebetulan saja bertemu dengan Pak Azhar Basyir, MA.,(almarhum) yang beketulan beliau pada saat itu sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mengetahui bahwa kami bertiga akan berangkat ke Baghdad, Iraq, beliau menyarankan agar menyempatkan berziarah ke makam Syekh Abdul Kadir al Jilani yang berada di tengah kota. Pak Azhar tidak menjelaskan keistimewaan makam itu, tetapi beliau menyebut penting untuk menyempatkan berziarah ke makam itu. Padahal berziarah ke makam ulama’, sekalipun tidak dilarang, kurang terbiasa dilakukan oleh kalangan modernis ini.
Dibanding Prof. Syafi’i Maarif dan Prof. Amien Rais, ketika itu, posisi saya masih sangat yunior. Oleh karena itu, saya hanya sekedar mengikuti apa yang diagendakan kedua tokoh ini. Namun ternyata, ketika sudah berada di Iraq, selain mengunjungi beberapa makam para tokoh, termasuk ke Najab dan Karbala, juga mengnjungi makam Syekh Abdul Kadir al Jilani, sebagaimana pesan Pak Azhar Basyir, MA., dimaksud.
Dibanding dengan makam para ulama’ terkenal lainnya, makam Syekh Abdul Kadir al Jilani tidak ada hal yang lebih istimewa. Makam itu menjadi satu dengan bangunan masjid. Orang-orang yang datang ke masjid itu, biasanya berziarah ke makam terlebih dahulu, dan kemudian masuk ke tempat shalat. Biasanya yang dilakukan orang tatkala berziarah adalah mengelilingi makam, peris orang bertawaf mengelilingi ka’bah, lalu diakhiri dengan berdoa sendiri-sendiri. Kami bertiga, dengan dipandu oleh petugas yang mengantarkan dari pemerintah Iraq juga melakukan hal yang sama.
Selain berziarah ke makam dan shalat di masjid itu, orang-orang yang datang ke tempat itu, juga mendatangi perpustakaan yang berada di lokasi itu. Perpustakaan dimaksud cukup besar, dan begitu pula koleksinya, juga cukup banyak. Kitab al Qur’an dengan berbagai ukuran dan tahun penerbitan ada di perpustakaan itu. Bahkan ayat-ayat al Qur’an yang masih ditulis di kayu atau kulit tersimpan di perpustakaan itu.
Mengunjungi perpustakaan di makam ulama’ besar ini, terbayang bahwa Syekh Abdul Kadir al Jilani sebenarnya tidak saja menggambarkan sebagai seorang tokoh spiritual melainkan juga sebagai seorang ilmuwan. Dua kekuatan yang diajarkan oleh Islam, yaitu kedalaman spiritual dan ilmu pengetahuan berhasil menyatu dalam diri ulama besar baghdad itu. Namun rupanya, lewat kegiatan dzikir bersama yang umumnya diikuti oleh banyak orang di Indonesia, ulama ini lebih dikenal sebatas sebagai tokoh spiritual.
Pandangan serupa juga terjadi pada ulama besar Imam al Ghazali. Ulama yang lahir dan wafat di Thus, tetapi pernah belajar dan juga menjadi guru besar di Baghdad juga lebih dikenal sebagai tokoh spiritual. Padahal lewat karya-karyanya, Imam al Ghazali adalah seorang cendekiawan yang menulis berbagai kitab, di antaranya ikhya’ Ulumudin yang banyak dikaji dan dijadikan rujukan oleh umat Islam di Indonesia.
Menangkap kesan selintas dari berziarah, baik ke baghdad, Iraq, maupun ke Thus di Iran, terbayang bahwa umpama masyarakat Islam mengembangkan dua ranah penting secara seimbang dan sungguh-sungguh, yaitu kehidupan spiritual dan sekaligus ilmu pengetahuan, dan apalagi disempurnakan dengan profesionalitas, maka umat Islam akan lebih maju. Peradaban Islam akan kokoh manakala masyarakatnya memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Wallahu a’lam.
|