Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 17935 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 101328 |
![]() | Bulan ini | 573096 |
![]() | Total | 29164263 |
| Makna Mahasiswa Asing bagi UIN Maliki Malang |
|
|
|
| Senin, 02 Juli 2012 20:00 |
|
Beberapa tahun terakhir ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah memiliki mahasaiswa asing. Mereka itu berasal dari Malaysia, Singapurea, Thailand, Papua New Ginie, Madagaskar, Sudan, Libia, Pilipina, Rusia dan bebarapa negara lainnya. Bagi UIN maulana Malik Ibrahim Malang, kedatangan mahasiswa asing, dalam jumlah banyak, masih tergolong baru, terutama mereka yang mengambil program S1 atau pasca sarjana.
Sebenarnya sudah lama kampus ini memiliki mahasiswa asing, yaitu dari Australia. Akan tetapi mereaka itu hanya mengikuti short course tentang Bahasa Indonesia dan kebudayaan Islam. Kegiatan dimaksud waktunya singkat, hanya selama kurang lebih antara tiga sampai enam bulan. Pada setiap angkatan, program tersebut diikuti oleh sekitar 35 orang mahasiswa, dan hingga saat ini sudah berjalan beberapa angkatan.
Baik mahasiswa program S1, pascasarjana, maupun kursus singkat umumnya betah tinggal di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dari sekian banyak mahasiswa asing dari berbagai negara itu belum ada yang mengundurkan diri, kecuali mereka yang memiliki problem pribadi, hingga perlu dipulangkan sebelum program kuliahnya selesai. Bahkan mulai semster ini ada tiga mahasiswa yang berasal dari Rusia berhasil lulus program pascasarjana, dan pulang ke negaranya.
Keberadaan mahasiswa asing bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dipandang sangat penting. Banyaknya mahasiswa asing itu menunjukkan bahwa kampus Islam ini telah dipercaya oleh beberapa negara, hingga kemudian dijadikan sebagai tempat tujuan belajar. Selain itu, akhir-akhir ini tidak sedikit, pimpinan perguruan tinggi asing datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, seperti dari Thailand, Malaysia, Maroko, Siria, Rusia, India, Australia, dan lainnya, untuk menjalin kerjasama.
Sebenarnya, banyaknya mahasiswa asing sudah cukup beralasan bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyebut dirinya sebagai perguruan tinggi klas internasionbal. Akan tetapi sebutan itu sengaja tidak digunakan. Sekalipun jumlah mahasiswa asing sudah cukup banyak dan berasal dari berbagai negara, kampus ini sudah merasa bangga dengan sebutan kampus bertaraf nasional, milik bangsa Indonesia.
Ternyata tidak sedikit lembaga pendidikan, bahkan hingga perguruan tinggi, baru merasa hebat ketika menyebut dirinya sebagai lembaga pendidikan internasional, sekalipun para guru/dosen dan bahkan murid atau mahasiswanya berasal dari dalam negeri sendiri. Sebutan internasional hanya didasarkan pada bahasa sehari-hari yang digunakan, yaitu bahasa asing. Kebanggaan seperti itu semestinya tidaki perlu dikembangkan, agar bangsa Indonesia ini semakin bangga dengan bangsanya sendiri. Penyebutan internasional menggambarkan seolah-olah, apa saja yang berasal dari dalam negeri sendiri dianggap tidak bermutu dan kurang membanggakan.
Banyaknya mahasiswa asing di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seharusnya dipandang sebagai fase keberhasilan dari cita-cita yang sudah lama ingin diraih. Telah lama kampus ini diharapkan menjadi semacam mata air, yang selalu didatangi oleh berbagai kalangan dari segala penjuru untuk mengambil ilmu pengetahuan, pengalaman, dan bahkan kearifan atau hikmah yang dimiliki dan dikembangkan oleh kampus ini. Cita-cita tersebut ternyata dalam skala tertentu telah diraihnya.
Ke depan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ingin mengubah arah arus gelombang pencaharian ilmu pengetahuan. Selama ini, anak-anak Indonesia sedemikian bangga ketika berhasil meninggalkan tanah airnya, pergi mencari ilmu pengetahuan ke di antara beberapa negara, seperti ke Mesir, Saudi Arabia, Pakistan, Sudan, Yaman, Libia, Maroko, India, dan lain-lain. Tatkala mereka diterima sebagai mahasiswa baru di negara tersebut, maka tampak sedemikian gembiranya. Seolah-olah mereka telah keluar dari negara yang kurang maju, yaitu negaranya sendiri, dan menuju negara yang lebih maju ilmu pengetahuannya. Padahal di negara yang dianggap maju itu, pada kenyataannya tidak selalu demikian.
Pandangan seperti itu harus diubah. Ke depan, Indonesia harus menjadi tempat tujuan belajar bagi anak-anak dari negara-negara asing tersebut. Mungkin untuk bidang-bidang tertentu, seperti sains dan teknologi, dalam beberapa tahun lagi, bangsa Indonesia masih harus belajar ke Eropa, Jepang, Amerika, Australia dan lain-lain. Akan tetapi untuk bidang ilmu sosial, pendidikan, filsafat dan lain–lain, apalagi agama, Indonesia harus menjadi tempat tujuan belajar bagi anak-anak dari negara asing.
Pemerintah seharusnya bangga tatkala kedatangan pelajar asing dan bukan sebaliknya, tatkala melepas anak-anaknya belajar ke negeri orang. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang akan berusaha mempelopori niat mulia itu, dan sebagiannya, dengan banyaknya mahasiswa asing dari berbagai negara di kampus ini, niat mulia itu sebenarnya sudah kelihatan berhasil. Kiranya, itulah salah satu cara membangkitkan kebanggaan dan kepercayaan diri bangsa ini yang akhir-akhir ini sudah terasa semakin meredup. Wallahu a’lam. |