Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 19486 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 102879 |
![]() | Bulan ini | 574647 |
![]() | Total | 29165814 |
| Perdebatan tentang Rokok |
|
|
|
| Sabtu, 14 Juli 2012 21:51 |
|
Sekalipun tidak pernah ikut mengkonsumsi, saya tertarik dengan perdebatan tentang rokok yang digelar di TV One, sebagaimana biasanya, dimoderatori oleh Karni Ilyas. Pada forum yang digelar pada hari Selasa, tanggal 10 Juli 2012 itu, rupanya ada pihak-pihak yang pro dan ada yang kontra. Sebagian yang hadir rupanya tidak menyukai rokok dan oleh karena itu harus dibatasi penggunaannya. Namun juga sebaliknya, ada yang keberatan atas pembatasan itu.
Mereka yang tidak menyukai rokok beralasan bahwa rokok sangat menganggu kesehatan, tidak saja terhadap mereka yang mengkonsumsi, tetapi juga beresiko pada orang lain. Rokok dianggap berbahaya bagi kesehatan. Dalam diskusi itu, pihak yang tidak menyukai rokok menunjukkan bukti-bukti resiko itu, mulai dari menimbulkan penyakit hingga berakibat pada umur seseorang. Disebutkan bahwa, perokok umumnya berusia lebih pendek.
Sebaliknya, bagi mereka yang masih menyukai rokok menyebut bahwa, banyak orang yang merokok tetapi tetap sehat, umurnya tetap panjang dan sebaliknya, banyak orang yang tidak merokok tetapi ternyata usianya pendek, sakit-sakitan dan akhirnya mati. Oleh karena itu, kelompok ini kurang percaya bahwa rokok selalu menjadi sebab terkena penyakit dan apalagi hingga mengakibatkan kematian.
Diskusi menjadi ramai dan bahkan sengit oleh karena masing-masing pihak mampu menunjukkan argumentasi dan juga bukti-bukti untuk memperkuat pandangannya. Akhirnya, usai diskusi, di antara mereka tetap berada pada pendiriannya sendiri-sendiri. Mereka yang tidak suka rokok tetap tidak menmyukai, begitu juga sebaliknya bagi mereka yang menyukai rokok masih akan tetap merokok. Rupamnya diskusi itu belum berhasil mengubah pandangan masing-masing pihak yang berbeda itu.
Dalam diskusi tersebut, rupanya yang lebih disorot, baru pada dampak rokok terhadap kesehatan. Hanya sedikit yang mengaitkan rokok dengan ekonomi, apalagi ekonomi rakyat. Tatkala persoalan rokok itu dikaitkan dengan ekonomi, maka hanya dihitung terhadap besarnya jumlah cukai atau keuntungan yang diterima oleh pemerintah. Diskusi itu belum mengungkap tentang betapa banyaknya petani tembakau yang sudah sejak turun temurun menggantungkan kehidupan ekonominya dari bercocok tanam tembakau. Juga belum mengungkap betapa besarnya jumlah buruh pabrik rokok yang hidupnya dari industri itu.
Selain itu, juga belum terungkap bahwa rokok sebenarnya juga mengganggu keindahan, suasana dan bahkan juga kerapian dan lain-lain. Tempat-tempat yang digunakan untuk merokok biasanya berbau, kurang bersih, dan kadang menyesakkan pernapasan. Kesan lainnya, para perokok pada umumnya tidak tampil sempurna, oleh karena bajunya berlubang-lubang terkena api rokok. Bahkan ada sementara orang tidak betah berdekatan dengan perokok, oleh karena bau dari pakaiannya.
Diskusi tersebut rupanya masih akan panjang. Sebab masih ada pihak-pihak tertentu yang mengkhawatirkan bahwa, di balik larangan merokok itu sebenarnya ada agenda besar, yaitu adanya persaingan ekonomi dari rokok itu. Kecurigaan itu yang menjadikan persoalan rokok tidak mudah diselesaikan. Umpama semua hal berhasil diperjelas dan atau transparan, bahwa tidak ada agenda tertentu dari pelarangan rokok, maka perdebatan itu tidak sesengit itu.
Oleh karena itu yang diperlukan adalah bagaimana semua dibicarakan bersama dan diatur sebaik-baiknya. Manakala semua tidak ada yang dirugikan, maka persoalan rokok tidak akan berkepanjangan seperti sekarang ini. Wallahu a’lam. |