Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 2573 |
![]() | Kemarin | 42266 |
![]() | Minggu ini | 185582 |
![]() | Bulan ini | 630712 |
![]() | Total | 29221879 |
| Berdeplomasi dalam Mengembangkan Kampus |
|
|
|
| Jumat, 27 Juli 2012 19:58 |
|
Untuk meraih keberhasilan, penampilan yang bersifat lugu dan apa adanya seringkali justru tidak berhasil. Deplomasi kadang memang harus dilakukan.Saya sadar betul bahwa yang berkepentingan membangun kampus STAIN Malang adalah warganya sendiri. Namun jika itu saja yang diandalkan tidak akan cepat berhasil. Oleh karena itu, saya harus menggunakan semua kekuatan yang sekiranya mungkin saya lakukan.
Saya tahu bahwa untuk pengembangan kampus, terutama yang terkait dengan sarana fisik, ada peluang dari Islamic Developmen Bank. Akan tetapi rasanya tidak mungkin peluang itu diberikan kepada STAIN Malang. Sebab lembaga ini belum mendapatkan perhatian yang cukup sebagaimana PTAIN lainnya yang lebih besar, misalnya IAIN Surabaya, IAIN Bandung, IAIN Semarang dan lain-lain. STAIN Malang ketika itu masih diangap kecil hingga belum mungkin diprioritaskan.
Titik lemah seperti itu tidak saya pandang sebagai hambatan. Saya sebagai pimpinan, berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadap kampus itu bisa dibentuk. Saya harus membentuknya. Yang saya lakukan ketika itu adalah, bahwa setiap bertemu dengan pejabat kementerian agama, dan bahkan dengan siapapun, selalu menginformasikan kemajuan, potensi, dan rencana-rencana yang telah dibuat. Saya berusaha menarik perhatian mereka. Saya tidak mau membiarkan mereka membicarakan sesuatu, kecuali tentang STAIN Malang.
Strategi seperti itu ternyata berhasil. Banyak pejabat kemenetrian agama setelah saya beri informasi menjadi ikut-ikutan membicarakan tentang kampus Islam di Malang itu. STAIN Malang akhirnya dengan cepat menjadi perhatian banyak orang. Saya selalu menyampaikan hal-hal baru yang tidak dikembangkan oleh PTAIN Lainnya. Program baru yang saya maksudkan sengaja saya buat. Di antaranya adalah program perkuliahan bahasa asing, yaitu Bahasa Arabn dan Bahasa Inggris. Selain itu juga rencana pembangunan ma’had, sebagai pendukung perkuliahan Bahasa asing dimaksud.
Akhirnya sekalipun keadaannya belum sehebat sebagaimana yang digambarkan, orang percaya bahwa di STAIN Malang ada hal-hal baru yang menarik. Orang ikut-ikutan mulai berbicara tentang kemajuan itu. Saya ketika itu merasa berhasil, sudah mulai ada orang yang ikut menginformasikan dan bahkan ikut mempopulerkan kampus itu.
Suatu saat saya mendengar bahwa ada peluang IDB untuk bisa membantu pembangunan kampus PTAIN. Pada saat itu sudah ada dua perguruan tinggi yang mengajukan, bahkan sejak lama, yaitu IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta. Rencana pemberian bantuan untuk IAIN Jakarta sudah mendapatkan persetujuan, sedangkan IAIN Yogyakarta masih sedang menunggu. Dua perguruan tinggi Islam tersebut memang selalu menjadi perhatian, oleh karena keduanya memiliki keistimewaan. IAIN Jakarta berada di ibu kota negeri ini, sedangkan IAIN Yogyakarta adalah perguruan tinggi tertua di Indonesia.
Mendengar peluang itu, saya tidak mau mensia-siakan. Segera saya susun proposal untuk mendapatkan bantuan itu bersama teman-teman di kampus. Tidak perlu menunggu proposal itu dibuat secara sempurna, yang terpenting ada dan segera dikirim ke Kementerian agama. Dalam setiap usaha, saya selalu berpandangan bahwa yang terpenting mengajukan, apakah akhirnya disetujui atau tidak, bagi saya bukan hal penting. Manakala usulan diajukan, maka pasti memiliki dua kemungkinan yaitu antara diterima atau ditolah. Hal itu berbeda andaikan tidak mengajukan, maka peluangnya hanya satu, yaitu tidak akan mendapatkan apa-apa.
Belum terlalu lama proposal itu saya ajukan, saya dipanggil oleh Menteri Agama agar menghadap di kantornya. Saya mengira panggilan itu terkait dengan proposal dimaksud, ternyata bukan. Dalam pertemuan itu, saya diberi penjelasan bahwa di kantor kementerian agama memerlukan orang yang memiliki visi ke depan tentang pengembangan pendidikan Islam. Menteri juga mengatakan bahwa, saya memiliki kemampuan yang diperlukan itu. Namun, menteri ragu, apakah proyek yang sedang saya kembangkan di STAIN Malang masih akan berjalan, andaikan saya tinggal ke Jakarta. Proyek yang dimaksudkan oleh Menteri Agama ketika itu adalah program pengembangan Bahasa Arab dan Ma’had.
Atas penjelasan menteri agama itu, saya justru segera mengatakan bahwa, kalau Pak Menteri Agama menghendaki saya membantu untuk pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, maka pilihan yang lebih tepat adalah saya tidak perlu pindah ke Jakarta. Saya menjelaskan alasan tersebut kepada beliau, bahwa tugas di Jakarta adalah mengajak orang berpikir, sementara orang Indonesia itu, ------saya katakan demikian, sangat sulit diajak berpikir. Oleh karena itu siapapun akan gagal tatkala melakukannya. Kemudian saya katakan bahwa, orang Indonesia yang sulit diajak berpikir, menurut pengamatan saya justru mudah untuk meniru. Kemudian saya memberi contoh beberapa kasus untuk meyakinkan Menteri Agama.
Saya jelaskan bahwa untuk pengembangan pendidikan Islam, -------atas dasar pandangan tersebut, tidak perlu melalui pendekatan instruksi, melainkan melalui contoh-contoh agar bisa ditiru. Saya katakan bahwa, di Indonesia ini yang dipelukan adalah contoh konkrit. Maka saya katakan bahwa andaikan Pak Menteri Agama setuju, saya akan membuat contoh-contoh yang sekiranya kemudian bisa ditiru oleh PTAIN lainnya. Manakala Pak Menteri Agama menyetujui, saya lebih memilih tetap saja berada di Malang, untuk membuat contoh yang dimaksudkan itu. Dan dalam kesempatan itu pula, saya mengajukan usul agar STAIN Malang diprioritaskan mendapatkan bantuan IDB agar berhasil menjadi contoh. Rupanya usulan saya tersebut disetujui. Saya juga menyampaikan bahwa proposal bantuan dari Bank yang berpusat di Jeddah sudah saya ajukan melalui Biro Perencanaan.
Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan kabar bahwa Tim dari IDB akan datang. Saya tidak mau kehilangan momentum itu. Saya berkomunikasi kepada Biro Perencanaan, agar IDB dalam kunjungannya ke IAIN Jakarta dan juga Ke IAIN Yogyakarta agar diampirkan ke STAIN Malang. Kepala biro Perencanaan menyetujui usulan saya itu, namun menurut informasi selanjutnya Tim IDB tersebut tidak bersedia, dengan alasan sementara akan memberikan prioritas pada pengembangan IAIN dan bukan STAIN. TimIDB tidak mau diajak berkunjung ke Malang.
Mendapatkan berita itu, segera saya tilpun kepada Kepala Biro Perencanaan untuk memberitahukan bahwa yang terpenting agar TIM IDB ke Malang. Saya memberi saran, agar mereka diberitahu bahwa tidak akan diajak ke STAIN Malang, melainkan ke tempat-tempat rekreasi yang menarik di Indonesia. Lewat tilpun itu, saya meminta agar dijelaskan bahwa di Indonesia ada dua tempat yang indah, yaitu Bali bagi mereka yang non muslim, sedangkan yang muslim biasanya ke Malang. Di Malang terdapat tempat-tempat yang indah, seperti di Selekta, Songgoriti, Tretes, Gunung Bromo dan lain-lain. Akhirnya mereka ternyata setuju ke Malang dan sebelum ke Bromo diampirkan ke STAIN Malang.
Sesampainya di STAIN Malang, ------kebetulan masuk waktu shalat dhuhur, mereka saya ajak untuk ke masjid dan salah satu di antara mereka, saya minta memberi ceramah. Saya persilahkan, berceramah dengan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Permintaan tersebut dipenuhi. Dr. Nijad, pimpinan rombongan dari Jeddah bersedia memberi ceramah dengan menggunakan Bahasa Arab. Pada waktu itu, sudah beberapa lama, STAIN Malang mentradisikan shalat berjama’ah pada setiap dhuhur di masjid. Oleh karena itu, jama’ah yang mendengarkan ceramah dimaksud cukup banyak hingga menarik perhatian Dr. Nijad.
Selesai sholat, saya segera menguicapkan terima kasih atas kesediaannya berceramah dan lebih dari itu, saya mengungkapkan kegembiraan saya yang mendalam atas kehadiran dan kesediaan Dr. Nijad berceraman di masjid kampus. Saya sampaikan bahwa dengan ceramah itu, saya mendapatkan keuntungan besar, yang tidak akan mungkin saya peroleh dari siapapun orangnya. Sebab Dr. Nijad, bagi saya adalah prototipe sarjana muslim ideal, yaitu memiliki dua kemampuan sekaligus, yaitu ahli di bidang teknik sipil dan mampu memahami sumber ajaran Islam, yaitu al Qur’an dan hadits.
Saya mengatakan ketika itu bahwa, sudah lama STAIN Malang membuka jurusan Bahasa Inggris, biologi, dan matematika. Namun usaha itu selalu mendapat kritik dari masyarakat, bahwa beberapa jurusan itu akan mendangkalkan pengetahuan agama Islam bagi para mahasiswa. Saya sampaikan kepada Dr. Nijad bahwa memberikan penjelasan kepada masyarakiat tentang hal baru tersebut tidak mudah. Sehingga dengan kehadiran Dr. Nijad akan saya jadikan contoh ideal sarjana STAIN Malang ke depan.
Mendengar penjelasan saya itu, secara spontan Dr. Nijad menyatakan bukankah perguruan tinggi Islam yang justru ideal, adalah sebagaimana yang saya jelaskan itu. Dr. Nijad menjadi penasaran, bahwa selama berkunjung ke beberapa PTAIN di Indonesia, baru di STAIN Malang menemukan visi pengembangan keilmuan yang jelas. Atas dasar itu, maka Dr. Nijad berjanji akan berusaha agar STAIN Malang dijadikan pilot proyek pengembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia dan akan dimasukkannya menjadi salah satu PTAIN yang akan dibantu pengembangannya dari dana IDB. Inilah salah satu diplomasi yang saya maksudkan dalam judul tulisan ini. Wallahu a’lam.
|