Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
Setengah Hari Di Airport DubaiDalam perjalanan ke Nushanbe, Tajikistan, pada tanggal 15 Mei 2013, saya memilih lewat... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 21341 |
![]() | Kemarin | 30712 |
![]() | Minggu ini | 196990 |
![]() | Bulan ini | 466471 |
![]() | Total | 29057638 |
| Melihat Keadaan Penjara |
|
|
|
| Minggu, 29 Juli 2012 17:16 |
|
Sekalipun sudah lama tinggal di Malang, baru beberapa hari yang lalu, saya melihat langsung keadaan orang-orang terpidana di Penjara, di Malang. Saya datang ke tempat itu untuk menyerahkan bantuan berupa buku dan al Qur’an kepada pimpinan penjara. Sesuai surat permintaan dari instansi itu, bahwa di Lapas tersebut telah lama disediakan perpustakaan, namun koleksi bukunya belum begitu banyak. Selain ratusan judul buku, juga saya serahkan kitab suci al Qur’an, agar bisa digunakan oleh mereka yang sedang dipidana di tempat itu.
Tidak saya bayangkan sebelumnya, keadaan lingkungan di dalam Lapas itu ternyata bersih sekali, dan bahkan indah. Di luar setiap sel yang dibangun berjajar, terdapat taman yang dirawat dengan baik. Rumput dan tanaman bunga-bunga rupanya dirawat dengan baik pada setiap hari. Saya mengira, sekedar merawat tanaman, di penjara tidak kekurangan tenaga. Para nara pidana bisa ditugasi untuk merawat sendiri lingkungan masing-masing dan bahkan jumlah tenaga yang diperlukan berlebih.
Sekalipun maksud kunjungan itu hanya menyerahkan sumbangan, tetapi saya oleh Kepala Lapas bersama pimpinan lainnya diajak keliling di dalam lingkungan penjara itu. Di dalam penjara dilengkapi tempat ibadah, yaitu masjid dan gereja, bengkel kerja, ruang pelayanan kesehatan, dan juga sarana olah raga. Masjidnya luas dan juga bersih. Para napi banyak yang membaca al Qur’an di masjid yang berada di tengah penjara itu. Pada siang hari, para napi bebas keluar dari tempatnya masing-masing untuk berolah raga, bekerja di bengkel, membaca buku di perpustakaan, dan juga di masjid untuk shalat dan atau membaca al Qur’an.
Penjara yang ditempati oleh sekitar 1900 orang itu tampak padat sekali, menyerupai pasar. Para napi di dalam lingkungan penjara tampak duduk-duduk, baik secara bersamaan atau sendiri. Di sepanjang jalan yang saya lalui, tatkala berkeliling bersama pimpinan penjara tersebut, beberapa di antara mereka menyapa, sekalipun tidak sampai bersalaman. Tatkala bertemu, para napi tidak menampakkan wajah-wajah yang selalu berbeda dengan orang di luar penjara.
Rupanya kebutuhan yang dirasakan penting bagi mereka adalah berkomunikasi dengan keluarganya masing-masing. Bagaimana pun indahnya tempat di dalam penjara, tetapi status mereka adalah sebagai orang-orang yang dihukum. Oleh karena itu sangat wajar, pada setiap saat, mereka teringat keluarga di rumah. Maka, layanan tilpun umum di dalam penjara itu tampak penuh. Puluhan nara pidana antri di tempat itu. Menurut informasi dari pimpinan lapas, para napi tidak dibolehkan membawa HP. Hubungan dengan siapapun, bagi orang yang sedang penjalani hukuman di dalam penjara harus terkontrol lewat layanan tilpun umum itu.
Banyak hal yang terbayang dalam pikiran dan perasaan saya, selama kunjungan ke dalam lembaga pemasyarakatan itu. Aneka ragam wajah dan penampilan orang yang sedang terpidana, ternyata sama saja dengan orang-orang di luar penjara. Memang, di dalam penjara itu terdapat orang-orang yang berpenampilan dempal dengan berbagai tato di lengan dan badannya. Akan tetapi juga terdapat orang-orang yang berwajah bersih, dengan mengenakan baju koko, sarung lengkap dengan peci haji. Begitu pula, saya melihat anak-anak muda yang berpenampilan rapi, mengenakan celana jean dan kaus, sehingga sama sekali tidak tampak sebagai seorang yang sedang berstatus nara pidana.
Melihat kenyataan itu, maka pikiran dan hati saya berbicara, apa perlunya orang-orang ditempatkan di tempat itu. Apa benar bahwa penjara atau lembaga pemasyarakatan bisa berhasil mengubah watak dan perilaku seseorang, sehingga sepulang dari tempat itu, setelah dinyatakan bebas, mereka menjadi lebih baik. Pikiran saya juga terganggu tatkala membayangkan, jangan-jangan dari sekian banyak orang yang dipenjara itu, sebenarnya terdapat yang berkelakuan baik. Hanya oleh karena, keadaan terpaksa, orang melakukan kesalahan, lalu diperkarakan, diadili, dan kemudian dimasukkan ke tempat yang menyedihkan itu. Wallahu a’lam. |