Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Di Tajikistan, Berbicara Agama Dianggap SensitifKebetulan saja, ketika nyampai di Tajikistan, saya diarahkan untuk menginap di Hotel... |
Berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Sudan Terkait Kerjasama PendidikanPada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, Duta Besar RI untuk Sudan... |
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 9066 |
![]() | Kemarin | 26624 |
![]() | Minggu ini | 9066 |
![]() | Bulan ini | 701251 |
![]() | Total | 29292418 |
| Beratnya Membayar Kesanggupan |
|
|
|
| Kamis, 09 Agustus 2012 21:34 |
|
Islam mengajarkan agar selalu memenuhi janji atau kesanggupan, sekalipun itu berat melaksanakannya. Akhir-akhir ini, sudah dua kali, saya menyanggupi berceramah di dua tempat yang berjauhan. Pertama, pada hari yang sama, saya harus memberi ceramah di dua pondok pesantren yang berjauhan tempatnya, yaitu pagi di Tebu Ireng Jombang, sedangkan malamnya di Pondok Pesaantren Salafiyah Syafi’iyah Asem Bagus, Situbondo. Kedua, mengisi ceramah Nuzulul Qur’an yang di antara kedua tempatnya berjarak juga cukup jauh, yaitu di Istana negara Jakarta dan di Tual, Maluku.
Antara Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dengan Pondok Pesantren Salafiyah as Syafi’iyah Asem Bagus Situbondo, harus ditempuh tidak kurang dari 9 jam dengan kendaraan darat. Jarak itu masih harus ditambah lagi dengan perjalanan pulangnya, yang juga tidak kurang dari 7 jam. Demikian pula perjalanan ke Jakarta untuk memenuhi kesanggupan ceramah di Istana, dan kemudian diteruskan ke Tual, Maluku. Jarak antara ke dua kota itu amat jauh.
Menuju Kota Tual dari Jakarta cukup melelahkan. Berangkat dari Jakarta jam 01.30 nyampai di Ambon sudah jam 07.00 pagi. Kemudian perjalanan diteruskan dari kota Ambon ke Tual masih harus naik pesawat lagi sekitar satu setengah jam. Perjalanan dari Malang ke Jakarta, Ambon, Tual, dan kemudian besuk harinya pulang ke Malang lagi, ternyata cukup melelahkan. Tapi memang, apapun beratnya tugas berdakwah harus dijalani. Di tengah kelelahan itu, saya teringat di masa kecil. Pada waktu kecil dulu, saya sering diajak oleh orang tua berdakwah, atau berceramah dari satu desa ke desa lain dengan berjalan kaki. Sering di tengah perjalanan, orang tua, mengungkapkan keinginanannya, agar saya menjadi da’i. Rupanya doa orangtua tersebut terkabulkan.
Perjalanan sejauh itu memang berat. Apalagi harus mengikuti jadwal penerbangan pesawat yang harus berganti-ganti. Demikian pula ketika harus menempuh perjalanan darat, juga harus bersabar tatkala mengalami kemacetan. Perjalanan darat antara Jombang ke Asembagus Situbondo rawan kemacetan, apalagi antara Pasuruan sampai Problolinggo. Kendaraan berupa truk pengangkut barang, bus, dan lainnya yang sedemikian banyak menjadikan jalan macet, sehingga harus pelan. Kondisi seperti itu, menjadikan bepergian dengan kendaraan darat dan pesawat terbang menjadi sama-sama melelahkan.
Utungnya perjalanan yang melelahkan itu adalah untuk berdakwah. Berdakwah menjadi terasa penting oleh karena kegiatan itu bisa mengingatkan diri sendiri, sambil mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, yaitu mengajak orang lain sambil mengingatkan diri sendiri. Kiranya, sebagai manusia biasa, yang selalu berada pada posisi salah dan lupa, maka harus ada mekanisme yang memiliki makna untuk mengingatkan diri sendiri lewat dakwah itu. Oleh karena itu, sebenarnya berdakwah menjadi sangat penting dilakukan bagi semua orang, ialah untuk mengingatkan diri sendiri itu.
Hal yang menarik lainnya, ketika berceramah, lebih-lebih di Indonesia Timur, adalah tentang kerukunan dan kebersamaan. Dua bulan terakhir ini, saya berceramah di Gubernuran Manado dan juga di kediaman Walikota Tual, Maluku,. Pada kegiatan itu ternyata dihadiri, bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga oleh para tokoh dan umat agama lain. Rasanya agak aneh, ceramah tentang isra’ mi’raj dan nuzulul Qur’an, mereka yang mendengarkan adalah orang-orang yang berlatar belakang berbagai agama, yaitu agama Hindu, Katholik, Protestan, dan bahkan juga Kong Hu Cu, dan Islam sendiri.
Pada kesempatan ceramah itu, saya mengajak gurau kepada yang hadir. Saya mengatakan bahwa suasana pengajian menjadi indah sekali. Orang yang belum tentu mempercayai al Qur’an pun mendengarkan ayat-ayat al Qur’an dan juga makna yang dikandungnya. Mereka tatkala mendengarkan uraian tentang ayat-ayat al Qur’an dan juga hadits Nabi menunjukkan apresiasinya dengan tertawa dan mengangguk-angguk. Entak itu semua bagi mereka, apa maknanya. Makna itu, tentu secara persis, hanya diketahui oleh mereka yang bersangkutan. Akan tetapi, keadaan seperti itu, menurut hemat saya, sangat indah. Walaupun mereka bukan muslim, dengan selalu mengikuti kegiatan itu, maka akan memperoleh pengertian, bahwa Islam, al Qur’an, dan hadits nabi itu memang indah. Wallahu a’lam. |