Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 273 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini6803
mod_vvisit_counterKemarin26638
mod_vvisit_counterMinggu ini33441
mod_vvisit_counterBulan ini478571
mod_vvisit_counterTotal29069738
Pelajaran Berdemokrasi dari Berpuasa PDF Cetak E-mail
Jumat, 10 Agustus 2012 21:58

 

Pada hari Kamis, tanggal 9 Agustus 2012 kemarin, saya melakukan perjalanan pulang dari Tual, Maluku. Perjalanan itu cukup jauh. Dari kota Tual, naik pesawat ke Ambon sekitar  satu setengah jam. Kemudian dari Ambon naik pesawat lagi jam 07.00 ke Makasar,  dan berlanjut hingga  nyampai di Surabaya jam 10.00 pagi. Perjalanan masih diteruskan lagi ke Malang dengan mobil, hingga sampai di rumah jam 12.30 siang.

 

Perjalanan yang cukup panjang itu memang sangat melelahkan. Sesampai di rumah, sholat dhuhur, kemudian langsung istirahat. Akan tetapi ternyata, hingga sore kelelahan itu tidak bisa segera hilang. Rasa lelah itu sudah menumpuk.  Sore datang di  Tual, malamnya  berceramah  di balai kota hingga malam. Di kota itu, istirahat tidak bisa lama,  setelah berceramah, istirahat sebentar harus bangun lagi, untuk sahur. Selanjutnya menunggu beberapa saat,  shalat subuh dan kemudian berangkat ke airport untuk pulang.

 

Dalam suasana yang capek seperti itu, ketika datang waktu berbuka puasa, saya  melihat ada minuman langsung saya minum. Saya tidak berpikir bahwa dalam suasana seperti itu, siapapun semestinya  tidak boleh  meminum minuman yang tercampur es.  Saya tidak mengikuti ketentuan tersebut, minuman yang ada digelas langsung saya minum. Rasanya memang segar dan  terasa kekuatan yang ada pada tubuh menjadi pulih kembali.

 

Akan tetapi beberapa jam kemudian, terasa perut menjadi sakit. Setelah beberapa saat,  saya baru sadar, bahwa sumber penyakit itu kiranya adalah minuman dingin yang saya minum pertama kali untuk berbuka itu. Sudah barang tentu, semua sudah terjadi.  Hal yang saya lakukan hanya berkalkulasi, penyebab rasa sakit yang saya alami.  Saya kemudian mencari hikmah di balik kejadian itu. Dalam keadaan  sakit seperti itu, saya teringat  konsep demokrasi.

 

Dalam masyarakat demokratis, aspirasi rakyat harus disalurkan atau diakomodasi.  Tidak boleh penguasa memaksakan kehendaknya. Jika hal itu dilakukan  maka masyarakatnya menjadi sakit. Paling tidak, pemaksaan itu akan mengakibatkan  terdapat sekelompok orang yang merasa dipaksa dan bahkan juga ditindas. Hal serupa itu juga ternyata terjadi pada anggota tubuh.  Meminum minuman segar bercampur es pada saat lelah, apalagi sedang berbuka puasa,  adalah sangat nikmat. Akan tetapi ternyata perut tidak mau menerimanya. Maka akibatnya terasa sakit itu.

 

Kaitan antara kesehatan dengan jenis makanan yang dikonsumsi  sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang.  Orang yang sudah berumur, misalnya berusia lebih dari 60 tahun, maka harus membatasi makanan yang berkolestrol, seperti jeroan, dunian, emping blinjo, kacang-kacangan, dan lain-lain.  Jika larangan itu dilanggar dan apalagi kurang berolah raga,  maka asam uratnya akan kambuh. Begitu pula penyakit-penyakit lainnya.

 

Ternyata dalam merawat  tubuh, agar tetap sehat harus demokratis pula. Tidak boleh seseorang hanya mengikuti aspirasi satu bagian dan melupakan pada bagian tubuh lainnya. Makanan berupa blinjo, durian, kacang-kacangan, jeroan dan lain-lain  selalu menjadi  favorit bagi banyak orang. Akan tetapi organ-organ tubuh lainnya sudah tidak mampu menerima. Agar  badan tetap menjadi sehat, maka tidak ada cara lain kecuali semua aspirasi, keinginan,  dan kebutuhan bagian dari tubuh secara kseluruhan harus mendapatkan perhatian semuanya.

 

Kiranya kehidupan bermasyarakat juga berlaku yang demikian, yaitu mirip-mirip anggota tubuh. Masyarakat yang selalu terdiri atas berbagai kelompok yang beraneka ragam,  tentu  masing-masing memiliki  aspirasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu,  para pemimpin sebagai pelayan  masyarakat seharusnya  mau dan mampu  memperhatikan semua aspirasi yang dipimpinnya. Mengabaikan  aspirasi,   untuk sementara  bisa dilakukan, akan tetapi lama kelamaan akan  lelah dan akhirnya akan gagal.   

 

Cara terbaik dalam mengelola apapun yang bersifat majemuk,  adalah menyalurkannya. Persis seperti mengelola kesehatan tubuh itu.  Boleh-boleh saja meminum es, makan durian, jeroan, emping blinjo dan lain-lain, akan tetapi harus dicari waktu  dan ukuran yang tepat,  dan syukur kalau dicari obat atau makanan lain sebagai penangkalnya. Dengan demikian, tubuh ini  akan tetap menjadi sehat. Puasa ternyata juga memberikan  pelajaran tentang perilaku demokratis. Perut bisa sakit, begitu pula rematik,  dan asam urat atau penyakit lainnya akan kambuh manakala seseorang dengan  bebas hanya mengikuti selera makannya.   Wallahu a’lam.