Funbike Dies Maulidiah ke 9
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Simbol-Simbol Agama Di Negara PancasilaDi Indonesia, sebagai negara yang menganut falsafah Pancasila sepatutnya tidak perlu ada... |
Membaca PolitikTernyata tidak semua orang mampu membaca apa saja yang terkait dengan kehidupan... |
Islam Menganjurkan Agar Melakukan RisetBetapa pentingnya kegiatan yang terkait dengan membaca, sehingga ayat al Qur’an yang... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Ikutilah FUNBIKE dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki ke 9 pada 7 Juli 2013. -
Ikutilah ragam kegiatan dalam rangka Dies Maulidiah UIN Maliki Malang ke 9. -
Selamat dan sukses kepada Dekan Terpilih UIN Maliki Malang masa jabatan 2013 - 2017. -
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -








![]() | Hari ini | 30460 |
![]() | Kemarin | 53719 |
![]() | Minggu ini | 155798 |
![]() | Bulan ini | 613316 |
![]() | Total | 30100805 |
| Kebenaran Prosedural |
|
|
|
| Jumat, 17 Agustus 2012 18:21 |
|
Di mana-mana orang selalu mendabakan kebenaran. Kebenaran dianggap sebagai bagian dari keadilan. Demikian pula, keadilan adalah sesuatu yang dibituhkan pada setiap saat tatkala manusia saling melakukan interaksi atau berhubungan satu dengan lainnya. Orang menjadi merasa sakit hatinya manakala sesuatu dilakukan dengan cara yang tidak benar dan juga tidak adil.
Namun sayangnya kebenaran kadang hanya menyentuh pada level permukaan atau yang tampak, atau yang bersifat formal. Padahal, yang selalu diinginkan adalah kebenaran substantif dan bukan sebatas kebenaran prosedural itu. Sementara orang menganggap bahwa kebenaran itu bisa diraih manakala prosedure yang ditempuh telah melalui cara-cara yang benar. Oleh karena itu maka, prosedur dianggap penting dan harus dilalui secara benar pula.
Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua prosedur yang benar selalu menghasilkan sesuatu kebenaran. Apalagi tatkala prosedur itu dilakukan secara tidak sempurna. Namun anehnya, tidak sedikit orang hanya terpaku pada persoalan prosedur. Bahkan, ada kalanya orang dianggap salah atau benar, hanya dilihat dari sudut pandang prosedure yang dilalui itu. Akibatnya tidak sedikit orang kecewa, merasa diperlakukan tidak adil, oleh karena kebenaran yang diperoleh hanya sebatas prosedural itu.
Contoh-contoh terkait dengan kegiatan yang mengutamakan prosedur sedemikian banyak sehingga sangat mudah ditemukan. Dalam bidang pendidikan misalnya, untuk mendapatkan gelar sarjana, seseorang harus menempuh pendidikan dengan mengambil mata kuliah dan tugas-tugas lainnya sebanyak 144 sks. Secara prosedural proses itu harus dilalui. Kuliah dan tugas-tugas lain secara prosedural dijalani. Akhirnya yang bersangkutran secara prosedural telah dianggap cukup untuk mendapatkan gelar sarjana.
Namun pada kenyataannya, kemampuan orang dimaksud belum menggambarkan gelar akademik yang disandangnya. Gelar yang diperoleh baru sampai pada taraf memenuhi prosedural, dan belum sesuai menurut ukuran-ukuran substantif sebagaimana yang diharapkan terhadap seorang yang bergelar sarjana. Akibatnya, antara kebenaran prosedural dan kebenaran substantif terdapat jarak, yang kadangkala sedemikian jauh.
Akhir-akhir ini, banyak dikeluhkan tentang kualitas hasil pendidikan. Diketahui bahwa terdapat banyak lulusan sekolah dan bahkan hingga perguruan tinggi, tetapi sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri saja belum mampu, hingga hidupnya terpaksa masih harus menggantungkan pada orang lain. Bekerja belum bisa dan bahkan mengurus dirinya sendiri saja belum mampu. Hal seperti itu, bisa jadi, oleh karena ijazah yang didapatkan baru terpenuhi dari syarat-syarat prosedural dan belum sampai pada tingkatan isi yang sebenarnya. Maka artinya, bahwa ijazah yang diperoleh baru pada tingkatan prosedural atau pada pemenuhan formal.
Dalam dunia modern seperti sekarang ini ternyata orang bisa dijerumus pada wilayah prosedural ini. Sebenarnya tidak mengapa proses-proses prosedural itu dipegangi, asalkan aspek lainnya yang lebih substantif tidak dilupakan. Aturan atau prosedur biasanya diciptakan untuk menjaga kualitas hasil yang diinginkan. Akan tetapi, terlalu percaya pada prosedur tanpa melihat isi yang sebenarnya, maka biss terperosok pada kesesatan. Kebohongan atau kepalsuan bisa terjadi dari terlalu percaya terhadap kebenaran prosedural itu.
Memang kapan dan di manapun, untuk mencari kebenaran ternyata tidak mudah. Prosedur penting diikuti, tetapi hasil yang sebenarnya atau kebenaran substantif mestinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Dalam kehidupan ini, ada saja kebenaran yang diperoleh tanpa melalui prosedur yang dirancang sebelumnya. Banyak orang pintar, memiliki keahlian tinggi, pengalaman yang perlukan oleh masyarakat, tanpa lewat prosedure formal, dan begitu pula sebaliknya. Ada orang yang telah melewati prosedure secara benar, tetapi tidak memilki apa-apa, sehingga hanya meraih kebenaran prosedural.
Rasa-rasanya kita pada saat ini, dan bahkan pada tingkatan berbangsa dan bernegara, baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, dan lain-lain, sedang terbelenggu oleh kebenaran prosedural. Banyakpersoalan yang hanya dilihat dari sudut prosedurnya. Akibatnya, hasilnya terasa aneh, lucu, dan kadang menjadi terasa seperti bohong-bohongan. Wallahu a’lam. |