Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 264 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini5234
mod_vvisit_counterKemarin42266
mod_vvisit_counterMinggu ini188243
mod_vvisit_counterBulan ini633373
mod_vvisit_counterTotal29224540
Menyadari Kesalahan PDF Cetak E-mail
Minggu, 19 Agustus 2012 21:45

 

Menjelang akhir Bulan Ramadhan ini, tatkala sedang di kantor, saya kedatangan mahasiswa yang sebenarnya belum saya kenal sebelumnya. Setelah saya persilahkan duduk, ia mengenalkan diri dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan permintaan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan selama ini. Mahasiswa ini menjelaskan bahwa, ia telah  banyak melakukan kesalahan terhadap saya  dan  juga kampusnya.

 

Tentu saya tidak tahu kesalahan apa yang dimaksudkan itu. Setelah saya menanyakan lebih lanjut tentang kesalahan yang telah disadarinya itu, ia menjelaskan bahwa selama ini,  ikut berdemonstrasi dan bahkan  melaporkan saya ke   kejaksaaan, atas tuduhan,  saya menyalahgunakan dana pembangunan masjid. Ia mengaku, bahwa apa yang telah dilakukannya itu  semata-mata oleh karena diperalat oleh  seniornya. 

 

Tentu saja,  saya  segera memahami  gerakan demonstrasi yang dimaksudkan itu. Sebab beberapa bulan yang lalu,  di kampus terjadi demo, dan bahkan hingga beberapa minggu,  gerakan itu diliput oleh media massa yang cukup banyak. Saya mencoba menanyakan keterlibatannya dan logika yang digunakan hingga mahasiswa ini sedemikian berani melakukan tindakan yang sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh mahasiswa muslim.

 

Atas pertanyaan itu, ternyata ia tidak bisa menjawab. Mahasiswa ini hanya mengaku bahwa selama ini diperalat oleh seniornya. Ia diberi data yang seolah-olah benar. Berpegang pada data tersebut, sebagai mahasiswa, ia merasa harus ikut menegakkan kebenaran. Selama itu, ia tidak pernah berpikir bahwa data itu bisa dibuat dan direkayasa, agar seolah-olah benar dan atau bisa dipercaya.

 

Membaca keterangan dan keadaan mahasiswa tersebut, saya berkesimpulan bahwa anak ini memang sedang mengalami kesulitan, terutama terkait dengan penyelesaian studinya. Latar belakang ekonomi yang rupanya pas-pasan, menjadikannya mudah terpengaruh oleh berita atau profokasi yang datang dari manapun asalnya. Suasana batin dan keadaan seperti itu, menjadikannya  sangat mudah diajak melakukan apapun juga, sekalipun sebenarnya akan merugikan dirinya sendiri, kampusnya,  dan bahkan juga orang lain.    

 

Pada kesempatan itu, saya mencoba untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada pembangunan masjid dan juga pengembangan kampus secara keseluruhan. Penjelasan kepada  mahasiswa yang sudah terlalu jauh melakukan kesalahan itu, saya lakukan dengan maksud baik. Saya tidak ingin, dia datang dan minta maaf, namun sebenarnya, ia tetap tidak memahami persoalan pembangunan masjid dan juga pengembangan kampus secara keseluruhan.     

 

Mahasiswa ini saya ajak untuk berpikir obyektif. Saya mencoba menanyakan kesannya terhadap kampus ini, apakah ada kemajuan atau tidak. Ternyata ia menjawab secara jujur, bahwa setahu dia,  kampus ini sangat maju. Selanjutnya, saya menanyakan, apakah  korupsi bisa menganggu terhadap upaya pengembangan kampus. Secara tegas, ia menjawab bahwa dengan adanya korupsi,  maka di manapun tidak akan ada kemajuan. Mahasiswa ini saya ajak bersikap konsesten, bahwa tatkala  kampus ini disebut  maju, maka kecil kemungkinannya terjadi korupsi. Logika sederhana ini ternyata disetujuinya.

 

Ketika itu saya juga menanyakan, mengapa pikirannya menjadi berubah, dari semula menuduh,  bahwa di kampusnya terjadi korupsi lalu berbalik, justru seniornya yang selama ini dianggap telah memperalat dirinya. Secara terus terang, ia  memiliki tokoh idola, yang sekarang  sedang menduduki posisi penting di pemerintahan. Dalam sebuah pertemuan yang ia ikuti, bahwa tokoh idolanya itu mengatakan,  tidak mungkin saya melaklukan penyimpangan seperti yang dituduhkan itu. Tokoh idola dimaksud mengaku,  mengenal baik tentang saya.

 

Atas dasar penjelasan tokoh yang diidolakan itu, ia menjadi berubah pandangan. Mahasiswa ini merasa salah, dan meminta maaf. Ia mengaku terbebani dengan apa yang telah dilakukan selama ini. Menanggapi pengakuannya itu, saya mencoba menanyakan latar belakang keluarganya. Ia mengaku berasal dari keluarga petani miskin, sehingga sekedar membayar uang kuliah saja sudah sulit. Atas dasar pengakuannya itu, saya mengatakan bahwa, ia tidak saja telah melakukan kesalahan terhadap saya dan juga kampus, tetapi yang lebih berat lagi adalah terhadap kedua orang tuanya yang selama ini,  dengan susah payah,  membiayai kuliahnya.

 

Saya mengatakan kepadanya, bahwa saya tidak akan menuntut balik atas tuduhannya dan juga sudah memaafkan. Namun saya menganjurkannya, agar segera pulang sebelum hari raya  ini dan menemui kedua orang tuanya. Saya anjurkan dia, agar meminta maaf dan mencium kaki kedua  orang tuanya. Saya ingin agar anak ini tahu, bahwa perjuangan orang tuanya hingga menjadikan kaki mereka  kasar tidak sia-sia. Dengan cara ini, saya berusaha memberikan pendidikan yang sebenarnya. Atas perintah saya tersebut, dia menyetujui dan akan melaksanakannya. Mudsah-mudahan,  ia sadar dan benar-benar  akan berubah sikapnya, dan tidak mudah  mengikuti profokasi seniornya yang tidak bertanggung jawab. Wallahu a’lam