Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 5234 |
![]() | Kemarin | 42266 |
![]() | Minggu ini | 188243 |
![]() | Bulan ini | 633373 |
![]() | Total | 29224540 |
| Menyadari Kesalahan |
|
|
|
| Minggu, 19 Agustus 2012 21:45 |
|
Menjelang akhir Bulan Ramadhan ini, tatkala sedang di kantor, saya kedatangan mahasiswa yang sebenarnya belum saya kenal sebelumnya. Setelah saya persilahkan duduk, ia mengenalkan diri dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan permintaan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan selama ini. Mahasiswa ini menjelaskan bahwa, ia telah banyak melakukan kesalahan terhadap saya dan juga kampusnya.
Tentu saya tidak tahu kesalahan apa yang dimaksudkan itu. Setelah saya menanyakan lebih lanjut tentang kesalahan yang telah disadarinya itu, ia menjelaskan bahwa selama ini, ikut berdemonstrasi dan bahkan melaporkan saya ke kejaksaaan, atas tuduhan, saya menyalahgunakan dana pembangunan masjid. Ia mengaku, bahwa apa yang telah dilakukannya itu semata-mata oleh karena diperalat oleh seniornya.
Tentu saja, saya segera memahami gerakan demonstrasi yang dimaksudkan itu. Sebab beberapa bulan yang lalu, di kampus terjadi demo, dan bahkan hingga beberapa minggu, gerakan itu diliput oleh media massa yang cukup banyak. Saya mencoba menanyakan keterlibatannya dan logika yang digunakan hingga mahasiswa ini sedemikian berani melakukan tindakan yang sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh mahasiswa muslim.
Atas pertanyaan itu, ternyata ia tidak bisa menjawab. Mahasiswa ini hanya mengaku bahwa selama ini diperalat oleh seniornya. Ia diberi data yang seolah-olah benar. Berpegang pada data tersebut, sebagai mahasiswa, ia merasa harus ikut menegakkan kebenaran. Selama itu, ia tidak pernah berpikir bahwa data itu bisa dibuat dan direkayasa, agar seolah-olah benar dan atau bisa dipercaya.
Membaca keterangan dan keadaan mahasiswa tersebut, saya berkesimpulan bahwa anak ini memang sedang mengalami kesulitan, terutama terkait dengan penyelesaian studinya. Latar belakang ekonomi yang rupanya pas-pasan, menjadikannya mudah terpengaruh oleh berita atau profokasi yang datang dari manapun asalnya. Suasana batin dan keadaan seperti itu, menjadikannya sangat mudah diajak melakukan apapun juga, sekalipun sebenarnya akan merugikan dirinya sendiri, kampusnya, dan bahkan juga orang lain.
Pada kesempatan itu, saya mencoba untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada pembangunan masjid dan juga pengembangan kampus secara keseluruhan. Penjelasan kepada mahasiswa yang sudah terlalu jauh melakukan kesalahan itu, saya lakukan dengan maksud baik. Saya tidak ingin, dia datang dan minta maaf, namun sebenarnya, ia tetap tidak memahami persoalan pembangunan masjid dan juga pengembangan kampus secara keseluruhan.
Mahasiswa ini saya ajak untuk berpikir obyektif. Saya mencoba menanyakan kesannya terhadap kampus ini, apakah ada kemajuan atau tidak. Ternyata ia menjawab secara jujur, bahwa setahu dia, kampus ini sangat maju. Selanjutnya, saya menanyakan, apakah korupsi bisa menganggu terhadap upaya pengembangan kampus. Secara tegas, ia menjawab bahwa dengan adanya korupsi, maka di manapun tidak akan ada kemajuan. Mahasiswa ini saya ajak bersikap konsesten, bahwa tatkala kampus ini disebut maju, maka kecil kemungkinannya terjadi korupsi. Logika sederhana ini ternyata disetujuinya.
Ketika itu saya juga menanyakan, mengapa pikirannya menjadi berubah, dari semula menuduh, bahwa di kampusnya terjadi korupsi lalu berbalik, justru seniornya yang selama ini dianggap telah memperalat dirinya. Secara terus terang, ia memiliki tokoh idola, yang sekarang sedang menduduki posisi penting di pemerintahan. Dalam sebuah pertemuan yang ia ikuti, bahwa tokoh idolanya itu mengatakan, tidak mungkin saya melaklukan penyimpangan seperti yang dituduhkan itu. Tokoh idola dimaksud mengaku, mengenal baik tentang saya.
Atas dasar penjelasan tokoh yang diidolakan itu, ia menjadi berubah pandangan. Mahasiswa ini merasa salah, dan meminta maaf. Ia mengaku terbebani dengan apa yang telah dilakukan selama ini. Menanggapi pengakuannya itu, saya mencoba menanyakan latar belakang keluarganya. Ia mengaku berasal dari keluarga petani miskin, sehingga sekedar membayar uang kuliah saja sudah sulit. Atas dasar pengakuannya itu, saya mengatakan bahwa, ia tidak saja telah melakukan kesalahan terhadap saya dan juga kampus, tetapi yang lebih berat lagi adalah terhadap kedua orang tuanya yang selama ini, dengan susah payah, membiayai kuliahnya.
Saya mengatakan kepadanya, bahwa saya tidak akan menuntut balik atas tuduhannya dan juga sudah memaafkan. Namun saya menganjurkannya, agar segera pulang sebelum hari raya ini dan menemui kedua orang tuanya. Saya anjurkan dia, agar meminta maaf dan mencium kaki kedua orang tuanya. Saya ingin agar anak ini tahu, bahwa perjuangan orang tuanya hingga menjadikan kaki mereka kasar tidak sia-sia. Dengan cara ini, saya berusaha memberikan pendidikan yang sebenarnya. Atas perintah saya tersebut, dia menyetujui dan akan melaksanakannya. Mudsah-mudahan, ia sadar dan benar-benar akan berubah sikapnya, dan tidak mudah mengikuti profokasi seniornya yang tidak bertanggung jawab. Wallahu a’lam
|