Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 209 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini24122
mod_vvisit_counterKemarin29370
mod_vvisit_counterMinggu ini82928
mod_vvisit_counterBulan ini554696
mod_vvisit_counterTotal29145863
Menjadi Merasa Telah Merdeka PDF Cetak E-mail
Senin, 20 Agustus 2012 11:44

 

Secara formal negara kita, sejak tanggal 17 Agustus 1945 sudah merdeka. Belanda dan juga Jepang sudah kembali ke negaranya masing-masing. Mereka tidak menjajah lagi. Pada saat sekarang ini,  ketika mereka datang ke Indonesia, sebagaimana warga negara lainnya, hanya bersifat kunjungan untuk berdagang, bekerja, tamasya, atau lainnya.

 

Bangsa Indonesia sudah merdeka. Kemerdekaan itu diraih sudah lama, yaitu sejak 67 tahun yang lalu. Hanya saja, kadang kita menyaksikan bahwa,  tidak sedikit orang yang masih merasa dijajah. Pikiran dan hatinya belum merdeka. Mereka masih merasa ada sesuatu yang menjajah dirinya. Penjajah yang dimaksudkan itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Perasaan khawatir, takut, ragu-ragu,rendah diri,  ternyata bisa menjajah diri seseorang.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita saksikan misalnya, seseorang sekedar diminta untuk berdiri, memberi sambutan pada acara yang hanya dihadiri beberapa orang saja tidak berani. Oleh karena perasaan takut, ragu-ragu, kawatir salah,  dan seterusnya itu, ia enggan  memenuhi permintaan itu. Dengan berbagai alasan, misalnya belum ada persiapan, tengorokan terganggu dan lain-lain, permintaaan sambutan tidak dipenuhi. Orang seperti itu, sebenarnya hatinya saja yang belum merdeka.   

 

Contoh lain, sekedar memberikan khutbah, sekalipun yang bersangkutan sudah sarjana, ternyata belum tentu berani. Berbagai alasan dikemukakan. Misalnya,  belum cukup umur, belum waktunya, belum siap, masih ada yang lebih tua, dan seterusnya. Mereka mencari-cari alasan,  agar kepercayaan yang diberikan kepadanya berhasil ditolak. Sebenarnya, mereka itu memiliki kapabilitas untuk berceramah, namun oleh karena merasa belum bebas dari rasa takut, khawatir, ragu dan seterusnya itu, maka keberaniannya tidak tumbuh.

 

Umpama orang yang tidak memiliki keberanian itu  dipaksa untuk berbicara di depan umum, maka  hasilnya juga tidak akan bagtus. Suasanba kaku, canggung,  dan bahkan gemetar akan terasakan dengan jelas. Pidato yang disampaikan  juga tidak akan menarik, sekalipun misalnya telah diberi teks sehingga hanya sekedar membaca saja. Mereka itu masih merasa terjajah, yaitu terjajah  oleh perasaannya sendiri. Orang terjajah di mana-mana memang tersiksa.

 

Perasaan takut, peragu,  dan khawatir seperti digambarkan di muka  tidak secara otomatis hilang hanya oleh karena  seseorang lulus pada jenjang pendidikan tertentu.  Bahkan dengan menyandang gelar akademik tertentu, perasaan takut dan kekhawatirannya justru bertambah. Dengan gelar akademik yang disandangnya, maka perasaan yang tidak menguntungkan diri yang bersangkutan itu  malah bertambah. Itulah dengan mudah kita saksikan, orang yang bergelar Master, dan bahkan Doktor tidak berani tampil di hadapan banyak orang. Maka, lagi-lagi, gelar akademniknya akan justru menjadi penjajah baru bagi dirinya.

 

Persaan terjajah atau terbelenggu juga mengakibatkan seseorang tidak bebas mengekpresikan pikiran, pandangan, dan gagasannya dalam bentuk tulisan.  Sekalipun seseorang  sudah bergelar Doktor, atau lulus S3, tidak banyak tulisan yang dihasilkan. Hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki pandangan, ide, atau kreatifitas, melainkan hanya oleh karena perasaan negatif itu. Mereka selalu takut dan khawatir,  tulisannya dianggap   kurang berkualitas. Perasaan itulah sebenarnya yang menjajah seseorang hingga menjadi kurang produktif atau tidak kreatif.

 

Oleh karena itu, bentuk penjajahan sekarang ini bukan lagi berupa  imperialisme dari negara lain, sebagaimana terjadi pada zaman dulu, tetapi berasal dari dirinya sendiri. Perasaan takut, khawatir, ragu-ragu, rendah diri dan semacamnya itulah sebenarnya yang sedang menjadi penjajah hingga kreatifitas, ide, gagasan seseorang menjadi terbelenggu dan tidak bisa diekspresikan, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Namun siapa yang bisa mengenyahkan penjajah dalam bentuk itu. Jawabnya tidak lain,  adalah yang bersangkutan sendiri. Manakala tugas  itu berhasil, maka mereka akan merasa sudah benar-benar merdeka. Wallahu a’lam.