Raker: Tuntutan Semakin Berat


» Senin, 22 Februari 2016 14:22, Oleh: Abadi Wijaya, Kategori: BeritaHit: 978

827_rakerr.jpg

Gema-Hari ini, Jumat (19/2) seluruh pimpinan UIN Maliki mulai dari pucuk pimpinan di tingkat rektorat, kabag dan kasubbag mengikuti rapat kerja di hotel Royal Senyiur di Jl. Putk Truno 208 Prigen, Pasuruan untuk melakukan perancangan kegiatan tahun 2017. Sebanyak 100 undangan hadir untuk melakukan evaluasi hasil kinerja tahun 2015 dan melakukan sosialisasi dan angaran tahun 2016 serta melakukan perancangan kegiatan tahun 2017.

Mengawali sambutannya, Prof. Muji menilai bahwa  pemerintah telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada UIN Maliki Malang. Faktanya, hingga saat ini uin maliki telah dijadikan sebagai kampus percontohan bagi perguruan tinggi lainnya.

“Pak Menteri meminta UIN Malang untuk tetap istiqomah melakukan pengembangan keilmuannya khususnya soal integrasi ilmu agama dan sainsnya,” paparnya.

UIN Malang dinilai telah berhasil mewujudkan keilmuan integrasi tersebut. Tidak hanya berhenti pada urusan filosofinya saja akan tetapi dalam praktek dan produk integrasinya sudah dibuktikan dalam hasil yang nyata. “UIN Maliki harus menjadi perguruan tinggi pengembang keilmuan integrasi dan yang menjadi leading sector bidang ini diwakili WR I Prof. Dr. H. Zainuddin, MA,” urainya.

Peta keilmuan integrasi di Indonesia hanya ada tiga yaitu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipelopori oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE sebagai akademisi Muslim Indonesia dan  di Jogja oleh Prof. Dr. H. Amin Abdullah sementara di UIN Maliki Malang dipelopori oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. “Integrasi dipandang sebagai paradigma keilmuan baru,” jelasnya.

Integrasi di UIN Malang tidak hanya berhenti dibidang filsafatnya saja. Akan tetapi, juga mencakup kelembagaannya, misalnya saja keberadaan mahad dengan dunia kampus. Dalam prakteknya jika santri tidak lulus materi taklimnya maka dia tidak bisa mengambil mata kuliah yang diwajibkan. “Ini merupakan salah satu wujud kongkrit bahwa proses integrasi antara keilmuan agama dengan sains harus dikawal dan dikembangkan secara continue,” pintanya.

Lahirnya ilmu Integrasi ini, tambah dia, untuk menghilangkan dikotomi (tabir pemisah, red.) antara keilmuan sosial dan sains. Sehingga pada hakikatnya keilmuan apaun itu semuanya saling terintegrasi dan tidak ada yang berdiri sendiri-sendiri. “Integrasi ini akan terwujud jika ma’hadnya kokoh. Mahad sebagai leading sector yang kokoh agar lulusannya memiliki integrasi,” pungkasnya.

(Ajay)