KECERDASAN DAN SIKAP BUKAN SESUATU YANG TERPISAH MUTLAK


» Kamis, 10 November 2016 00:21, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 599

Seiring dengan banyaknya berbagai kasus yang dilakukan oleh orang atau kelompok masyarakat yang berpendidikan tinggi, bahkan oleh orang dengan pendidikan tertinggi, maka kemudian sebagian besar orang bertanya tentang kualitas pendidikan kita. Banyak orang mulai mempertanyakan apa yang dihasilkan dari lembaga pendidikan. Apakah hanya melahirkan orang-orang cerdas dan pintar saja, namun kurang bagus afektifnya atau sikapnya atau mentalnya atau akhlaknya (dalam tulisan ini seterusnya akan di pakai istilah akhlak saja) Sehingga kemudian beramai-ramailah orang menghakimi lembaga pendidikan yang pada intinya menyatakan bahwa lembaga pendidikan hanya mengajarkan kecerdasan saja, namun tidak mampu membuat orang menjadi orang yang berakhlak mulia atau bersikap baik.

Memang jika menilik berbagai kasus yang terjadi dan diberitakan oleh media massa, memang sangat banyak kejadian-kejadian yang memilukan. Apalagi hal tersebut terjadi di masyarakat yang mengajarkan bahkan mengenalkan agama sejak mulai lahir, beberapa puluh tahun yang lalu, orang tidak mau atau bahkan tidak tega atau mungkin memalukan jika melakukan suatu perbuatan tercela, tetapi sekarang mereka melakukannya, bahkan kadang malah sengaja mengekplorasinya di media sosial. Kasus-kasus tersebut menyebar keseluruh sendi kehidupan masyarakat, mulai dari kasus yang terjadi pada kalangan miskin dan tidak berpendidikan tinggi, sampai kepada kasus yang terjadi pada orang-orang kaya dengan pendidikan yang sangat tinggi. Mulai kasus yang dilakukan oleh orang yang jauh dari kehidupan agama sampai pada orang dengan  predikat tokoh agama. Mulai kasus dengan teknik dan strategi yang canggih, sampai kasus yang dilakukan dengan teknik yang sangat tidak masuk akal.

Berbagai kasus kejahatan yang dilakukan oleh orang berpendidikan semakin mendominasi kehidupan di negara kita, berbagai kasus yang dilakukan orang untuk menjadi pemimpin di berbagai level, apakah itu pemimpin nasional, daerah, atau lokal, berbagai kasus yang dilakukan oleh para penegak hukum, berbagai kasus yang dilakukan oleh para pengelola negara, berbagai kasus yang dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh nasional, bahkan tokoh agama, bahkan juga berbagai kasus yang dilakukan di lembaga pendidikan kemudian membuat orang berkesimpulan bahwa pendidikan kita perlu dilakukan perubahan ke arah yang lebih menitik beratkan akhlak atau sikap dibandingkan dengan menitik beratkan intelektual atau kecerdasan. Untuk itu pemimpin negara mencanangkan perlunya dilakukan revolusi mental.

Para pendidik dan para tokoh masyarakat, atau juga tokoh agama yang memiliki komitmen terhadap pengambangan SDM sepakat bahwa melaksanakan pendidikan sikap atau mental atau karakter memiliki perbedaan dengan mendidik kecerdasan atau kognitif. Namun mereka juga sepakat bahwa tidak mungkin dipisahkan antara proses pendidikan kognitif dengan proses pendidikan mental atau akhlak. Kedua hal tersebut sangat terkait satu sama lain, karena itulah kemudian dilakukan proses internalisasi berbagai nilai dalam proses pendidikan sikap pada proses pembelajaran untuk penguasaan kognitif.

Keseluruhan proses pembelajaran tersebut akan berhasil jika pendidik mampu menumbuhkan kesadaran. Dalam kaitan dengan kognitif, kesadaran tersebut dapat didorong dengan berbagai contoh-contoh tentang berbagai perubahan dunia oleh ilmu pengetahuan dan perubahan dunia oleh implementasi teknologi. Melalui contoh-contoh tersebut kemudian pendidik memberikan motivasi kepada anak didik untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui proses belajar yang sungguh-sungguh baik di dalam rumah maupun diluar rumah. Itulah sebabnya pendidik yang baik dalam kaitan proses pembelajaran kognitif adalah pendidik yang memiliki kemampuan dalam membuat jelas tentang hal-hal yang diajarkan kepada peserta didik. Semakin mampu membuat jelas tentang apa yang diajarkan kepada anak didik maka semakin disebut baik pendidik tersebut. Kejelasan dari apa yang dikemukakan tersebut kemudian akan membuat peserta didik termotivasi untuk lebih bersemangat belajar tentang ilmu pengetahuan atau teknologi yang diajarkan tersebut.

Sama halnya dengan pembelajaran pada aspek kognitif. Membelajarkan orang pada aspek akhlak juga harus diawali dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya akhlak tersebut bagi dirinya. Mengetahui pentingnya berarti mengetahui manfaat dengan dimilikinya akhlak tersebut dan mengetahui resiko yang dihadapinya jika akhlak tersebut tidak dimilikinya. Namun demikian, dalam proses penumbuhannya kemudian sangat berbeda dengan penumbuhan pada aspek kognitif. Jika pada aspek kognitif untuk menumbuhkannya dilakukan melalui proses pehaman, dalam penumbuhan akhlak tidak cukup dengan pemahaman semata, namun juga melalui proses pemberian keteladanan. Jika penumbuhan kognitif dapat dilakukan oleh aksi individu pendidik, dalam penumbuhan akhlak harus dilakukan oleh aksi individu pendidik dan lingkungan melalui keteladanan bersama.

Kesulitan kemudian muncul dalam soal keteladanan ini. Baik itu dalam skup keteladanan individual maupun keteladanan kolektif dari lingkungan. Andai secara individual para pendidik mampu memberikan teladan dalam kehidupan kesehariannya, pada tingkat keteladanan kolektif seringkali tidak memberikan keteladanan tersebut, apalagi lembaga pendidikan juga tidak kuasa untuk merancang keteladanan ini karena sudah diluar wilayah kewenangan lembaga pendidikan tersebut. Seringkali lembaga pendidikan bersusah payah untuk memberikan keteladanan pada peserta didik untuk selalu berbuat baik, namun kemudian di luar sekolah orang yang berbuat baik malah celaka. Kondisi ini kemudian membuat pembelajaran akhlak seperti membentur tembok tebal, sehingga peserta didik kemudian mengalami kebingungan tentang perilaku yang mana dari akhlak yang memberikan keuntungan bagi dirinya atau memberikan resiko.

Dengan demikian akhlak yang dibangun dari nilai-nilai kemudian menjadi tidak memiliki makna lagi bagi peserta didik, bahkan mungkin juga para pendidik menjadi ragu-ragu untuk terus menteladankannya, akibatnya pembelajaran akhlak (biasanya disebut dengan internalisasi) tidak mampu menurunkan atau mewariskan nilai-nilai luhur dan budaya-budaya luhur kepada peserta didik, sehingga kemudian terjadilah berbagai penyimpangan nilai-nilai dari nilai-nilai sebelumnya yang dianggap baik oleh generasi sebelumnya. Itulah sebabnya semakin tinggi pendidikan, akan semakin membuat seseorang memahami ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga semakin membuat seseorang untuk menganalisis penting atau tidaknya suatu tata nilai yang harus dijalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi pendidikan seseorang, biasanya akan semakin besar tanggung jawab dan target-target dalam kehidupannya, sehingga kemudian makin banyak hal dan makin variasi yang harus dilakukannya di masyarakat demi untuk menyelesaikan tanggung jawab dan target-target yang diembannya dalam kehidupannya.

Disinilah kemudian kecerdasan berperan penting. Pada orang-orang dengan tingkat pendidikan yang rendah, biasanya lebih cenderung untuk menerima saja apa adanya dari apa yang diajarkannya, baik itu diajarkan oleh guru, orang tua, atau masyarakat. Semakin tinggi pendidikan, maka akan semakin memiliki kemampuan dalam menganalisis dan membandingkan antara apa yang diterima dari pelajaran dengan apa yang berkembang di kenyataan sehari-hari, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan maka kemungkinan akan semakin besar untuk memodifikasi, atau bahkan meninggalkan akhlak yang telah diajarkannya. Hal tersebut dikarenakan adanya realitas kehidupan yang dihadapinya semakin kompleks dibandingkan dengan orang-orang dengan pendidikan yang lebih rendah.

Disinlah kemudian perlu dirumuskan ulang tentang membelajarkan akhlak di lembaga pendidikan. Keteladanan sampai dengan saat ini terbukti sangat manjur untuk membelajarkan peserta didik, namun diperlukan sebuah pemikiran strategis implementatif untuk membuat keteladanan secara kolektif, sehingga apa yang diteladankan di lembaga pendidikan, kemudian juga mampu diteladankan secara kolektif di masyarakat. Demikian pula pembelajaran tentang kecerdasan juga sangat penting untuk diarahkan kepada kemampuan menganalisis, dan mempertimbangkan dampak dan resiko dari diterima atau ditolaknya sebuah tata nilai dalam perilaku kesehariannya. Pembelajaran kognitif harus diarahkan agar peserta didik mampu memilih dengan tepat dan melihat dampak pada jangka panjang terhadap apa yang akan menjadi baik dan manfaat, dan apa yang akan menjadi masalah. Pembelajaran akhlak tanpa memberikan kecerdasan akan sangat lemah, karena ketidakmampuannya menahan godaan yang makin kuat dan terus menerus berubah bentuk.

(Author)