MEMPROMOSIKAN KEBAIKAN SEBENARNYA SELALU LEBIH MUDAH DIBANDING MEMPROMOSIKAN KEJELEKAN


» Senin, 28 November 2016 00:42, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 775

Inti dari kegiatan marketing atau pemasaran sebenarnya ada pada kegiatan promosi. Mempromosikan sesuatu adalah menciptakan citra atau image terhadap apa yang akan kita promosikan, sehingga kemudian orang lain terpengaruh sebagaimana yang diinginkan oleh orang atau lembaga yang mempromosikan. Masing-masing organisasi selalu memiliki keinginan agar dapat “dianggap sebagai organisasi yang seperti apa”. Dianggap seperti apa tersebut adalah citra dari organisasi tersebut. Biasanya citra disesuaikan dengan layanan atau produk yang dihasilkannya. Organisasi yang menghasilkan layanan dibidang teknologi, selalu mencitrakan diri dengan kecanggihan. Organisi yang bisnis utamanya pelayanan akan mencitrakan diri sebagai organisasi yang ramah, peduli, tanggap, dan sebagainya. Organisasi yang tugas utamanya di keamanan akan mencitrakan diri dengan kekuatan, keberanian, dan ketegasan. Organisasi yang tugas utamanya di bidang pendidikan akan mencitrakan diri sebagai organisasi yang cerdas dan bijak. Demikian seterusnya, semua organisasi memiliki keinginan untuk dicitrakan dengan citra yang diinginkannya.

Namun demikian, adakalanya produk melakukan pencitraan jauh dengan produk yang dihasilkannya, semata untuk mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan produk-produk tersebut. Produk-produk rokok misalnya mencitrakan rokok bukan sebagai sesuatu yang punya dampak jelek terhadap kesehatan, tetapi mencitrakan diri dengan keunggulan, keberanian, keekselenan, kebaikan dalam konteks sosial, dan lain sebagainya. Demikian pula produk-produk sejenis yang lainnya selalu mencitrakan diri berbeda dengan produk-produk yang dihasilkannya.

Sebagaimana produk, seseorang secara individual juga memiliki keinginan untuk mencitrakan diri, terkadang melalui proses yang disengaja dan terencana, namun juga terkadang melalui proses spontanitas yang tidak terencana. Ada yang dengan sadar mencitrakan dirinya baik oleh perilaku sendiri maupun melalui orang lain, adakalanya tidak dengan sadar mencitrakannya. Namun yang jelas semua orang akan mencitrakan dirinya melalui perilakunya di depan publik.

Berkembangnya media berbasis teknologi internet yang kemudian menumbuhkan sistem keterhubungan antara manusia satu dengan manusia lain secara on line semakin mendorong orang untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. Hubungan tersebut kemudian juga mempengaruhi orang di dalam mempromosikan dirinya, namun juga sebaliknya hubungan tersebut akan memudahkan orang lain untuk menyerang atau mempromosikan kejelekan orang lain.

Dalam kehidupan organisasi yang baik, pemimpin akan membangun budaya organisasi yang mengarah kepada loyalitas yang tinggi antara individu dengan organisasi. Untuk itulah pemimpin akan selalu menyamakan nilai-nilai yang dianut individu dengan nilai-nilai yang ada di organisasi. Keberhasilan pemimpin dalam membudayakan kesamaan nilai-nilai ini akan ditandai dengan iklim organisasi. Iklim organisasi yang baik akan ditandai oleh kemampuan saling mempromosikan kebaikan antara orang satu dengan orang lain di dalam organisasi.

Saling mempromosikan kebaikan antara orang satu dengan orang lain di masyarakat sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan mempromosikan kejelekan antara orang satu dengan orang lain di organisasi. Mempromosikan kebaikan hanya tinggal melihat seseorang dari sisi kebaikannya saja, namun untuk menceritakan kejelekan seseorang harus mencari-cari dan mengembangkan cerita kejelekan orang tersebut menjadi lebih dramatik. Namun kemudahan tersebut tidak akan muncul jika iklim organisasi yang berkembang tidak tumbuh baik di organisasi.

Iklim organisasi dapat dirusak dengan banyak hal, tetapi sebagian besar diakibatkan oleh pola kepemimpinan organisasi. Memang tidak ada pemimpin yang dengan sengaja ingin merusak organisasi yang dipimpinnya, namun lemahnya mental pemimpin, dan kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan pemimpin menjadi tidak percaya diri dalam memegang kekuasaan (otoritas) dan terjebak dalam kepentingan diri sendiri atau kelompok yang dominan. Efek selanjutnya seringkali pemimpin membuat berbagai keputusan yang tidak logis, merusak sistem, atau tidak berkeadilan.

Nilai-nilai sebagai dasar organisasi dan pola hubungan antara orang dalam organisasi kemudian akan rusak, sehingga kemudian organisasi kehilangan patokan dalam kehidupan kesehariannya. Karena tiadanya patokan tersebut, kemudian kehidupan organisasi akan berkembang menuju ke kehidupan bebas yang saling mengejar untung atau saling menyelamatkan untuk diri sendiri. Dampak yang paling kelihatan adalah dalam pola mempromosikan antara orang satu dengan orang lain dalam organisasi ini. Karena masing-masing orang ingin mengejar untung dirinya sendiri atau menyelamatkan dirinya sendiri, maka saling menyerang antara satu dengan yang lain akan terjadi. Semua orang di dalam organisasi dengan iklim organisasi yang rusak akan berpegang pada prinsip bahwa orang lain tidak boleh seberuntung dirinya.

Organisasi apapun memang bukan sekedar tempat berkumpul, tetapi juga tempat orang dalam banyak hal mengembangkan diri. Bahkan pada organisasi yang baik, mampu membuat orang lebih cerdas dan bahkan lebih bijak dari apa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Kita sering mendengar bahwa banyak orang ketika di sekolah atau di kuliah tidak sebagus ditempat kerja performance dan kinerjanya. Hal ini mengindikasikan ada organisasi yang memiliki kemampuan yang baik dalam menumbuhkan kapasitas orang-orang yang ada dalam organisasinya. Itulah sebabnya pemimpin organisasi harus mampu membangun dan menumbuhkan budaya dengan tata nilai yang baik di organisasinya agar kebiasaan untuk saling mempromosikan kebaikan antara orang yang satu dengan orang yang lain juga tumbuh dan berkembang.

Perguruan Tinggi (PT) Islam dengan berkaca pada Al Quran dan Hadits-haditsnya dapat memulai kemampuan penumbuhan budaya melalui berbagai upaya dan teladan kepemimpinan yang baik. Hal ini disebabkan karena PT adalah lembaga pendidikan terakhir sebelum seseorang kemudian harus bekerja dan hidup secara mandiri di organisasi kerja atau di masyarakat. Jika PT tidak mencontohkan dan menegakan tata nilai yang menyebabkan iklim organisasi menjadi baik, dan kemudian menumbuhkan kebiasaan-kebiasan saling mempromosikan kebaikan orang lain maka tentu akan sangat sulit menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan untuk memiliki tata nilai yang mampu membuatnya hidup baik di organisasi kerja atau di masyarakat nantinya.

Saling mempromosikan kebaikan memang hal yang mudah dilakukan, tetapi sebagian besar orang memang selalu lebih suka melihat orang lain celaka dan tidak seberuntung dirinya. Mungin juga para pemimpin di organisasinya telah mengajarinya.

(Author)