ANGER MANAGEMENT


» Sabtu, 24 Desember 2016 00:21, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 295

Suatu kali di bandara, terjadi keterlambatan pesawat yang diumumkan oleh pihak informasi salah satu maskapai. Pengumuman pertama tentang keterlambatan telah menyebabkan beberapa orang terlihat kecewa, belum habis kekecewaan tersebut ternyata informasi maskapai mengumumkan keterlambatan kembali sampai di atas 1 jam lebih. Sontak saja beberapa orang kemudian mendatangi meja layanan maskapai dan terjadi beberapa reaksi yang berbeda dari beberapa orang tersebut. Ada orang yang dengan wajah kecewanya menanyakan apa yang sebetulnya terjadi dan meminta penjelasan atas keterlambatan yang terjadi, ada beberapa orang yang mendengarkan penjelasan itu dan kemudian mendebat dengan berbagai pertanyaan yang kritis, ada beberapa orang yang dengan wajah agak marah mendebat dengan memotong penjelasan-penjelasan yang dilakukan oleh petugas layanan informasi dengan nada menyerang, bahkan ada pula orang yang tanpa perlu penjelasan apapun langsung memarahi petugas informasi maskapai tersebut dengan kata-kata yang sedikit menghina dan merendahkan. Padahal semua orang pasti tahu, bahwa keterlabatan tidak disebabkan oleh petugas tersebut, tetapi petugas tersebut hanya bertugas menyampaikan apa yang terjadi terkait dengan penerbangan pada maskapai tersebut.

Marah seringkali menjadi senjata bagi semua mahkluk untuk mempertahankan hidupnya, melalui cara atau mekanisme yang paling alami, yaitu menyerang mahkluk lain yang menjadi penggangu atau pengancamnya. Tidak juga terkecuali manusia, juga memiliki menkanisme marah sebagaimana mahkluk hidup lainnya. Namun manusia memiliki penyebab marah yang lebih beragam, tidak sekedar ancaman yang bersifat fisik semata. Harga diri yang merasa direndahkan, harapan yang tidak terwujud, adanya perasaan permusuhan yang terus menerus juga merupakan hal-hal yang sering kali mendorong terjadinya marah.

Marah memiliki mekanisme di dalam otak sebagaimana proses-proses emosi lainnya. Sebagaimana diketahui otak memiliki satu bagian yang disebut amygdala yang memiliki fungsi untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman. Ancaman-ancaman tidak selalu harus bermakna fisik, tetapi juga bermakna psikologis. Jika ada sinyal ancaman yang teridentifikasi oleh indra atau juga otak, maka amygdala akan mengirimkan peringatan-peringatan. Seringkali peringatan-peringatan ini sangat cepat dan efektif, sehingga kemudian membuat manusia langsung bereaksi terhadap sinyal-sinyal yang dikirim amygdala ini sebelum sampai dan mendapatkan tanggapan yang normal dari korteks yaitu bagian otak yang bertanggung jawab terhadap proses berfikir dan menimang. Sehingga reaksi yang ditimbulkan dari proses marah tersebut bersifat tanpa pertimbangan sama sekali. Dengan kata lain otak memiliki saluran yang sangat cepat untuk bereaksi tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan.

Ketika seseorang marah, terdapat mekanisme-mekanisme fisik yang berubah dan memiliki mekanisme-mekanisme hormonal yang secara otomatis akan dilepas oleh tubuh kita. Ketika marah, di dalam otak akan melepas sejenis bahan kimia yang bernama catecholemine. Bahan kimia ini berfungsi sebagai neutrontransmitter. Pelepasan bahan kimia ini akan menimbulkan ledakan energi yang akan bertahan beberapa menit. Selanjutnya melalui proses yang cepat kemudian ada tambahan pelepasan hormon andrenalin dan norandrenalin yang menyebabkan rangsangan untuk marah bertahan lebih lama dan menimbulkan reaksi-reaksi yang tidak logis, seperti berani yang berlebihan, tidak peduli, bahkan bisa sampai pada perbuatan yang sangat ganjil. Bersamaan dengan berbagai proses pelepasan hormon2 dan bahan kimia di dalam otak tersebut kemudian secara fisik akan berdampak kepada detak jantung yang meningkat, otot-otot tubuh yang meregang, tekanan darah yang meningkat, laju nafas yang meningkat seiring dengan detak jantung yang makin kencang, wajah menjadi kemerah-merahan seiring dengan aliran darah yang meningkat.

Ikutnya pelepasan andrenalin sebagai akibat dari proses marah tersebut kemudian menyebabkan situasi marah bisa bertahan lama, bahkan sampai beberapa hari, karena hormon andrenalin tersebut bertahan dalam waktu yang lama (berjam-jam, bahkan terkadang berhari-hari). Pelepasan andrenalin tersebut juga membuat ambang batas marah menjadi lebih rendah, sehingga seseorang akan lebih rentan marah jika mengalami ganguan.

Sebagaimana diketahui marah yang tidak terkontrol bisa sangat membahayakan baik bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain. Kelebihan manusia dibandingkan dengan mahkluk lain adalah dikarunia otak untuk berfikir, dan mengontrol dirinya. Walaupun marah juga dihasilkan dalam mekanisme otak, namun pengendalian marah juga dilakukan oleh otak. Itulah sebabnya seseorang harus mampu mengendalikan kemarahannya melalui proses pengendalian di dalam otak.

Tidak akan ada orang yang akan terlepas dari kondisi yang tidak mengenakan, tidak selalu juga seseorang dapat mendapatkan sesuatu sebagaimana harapannya. Dilain hal, seseorang memiliki cara memandang diri yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain, sehingga ada orang yang memandang dirinya lebih tinggi dari kondisi sosial yang seharusnya. Kondisi-kondisi tersebut kemudian menjadi pemicu kemarahan. Itulah sebabnya marah merupakan proses yang sangat manusiawi bagi manusia. Masalahnya adalah seberapa mampu manusia mengelola emosi yang terkait dengan marah tersebut, sehingga menimbulkan dampak yang positif baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Jika dilihat dari proses fisik sebagaimana gambaran pada paparan di atas, marah yang tidak terkontrol terjadi sebagaimana rangsangan amygdala yang langsung direspon oleh tubuh yang lain. Respon tersebut dapat berupa menyerang secara fisik atau memaki dengan kalimat-kalimat yang bernada menyerang dengan tujuan menyakiti orang lain atau pihak yang menjadi ungkapan kemarahan. Respon tersebut terjadi sebelum aliran sinyal yang dikirim oleh amygdala tersebut sampai kepada korteks untuk mendapatkan pertimbangan-pertimbangan logis. Marah yang seperti ini biasa disebut dengan marah yang tidak terkontrol. Kondisi inilah yang seringkali kemudian bisa mencelakakan diri orang yang marah tersebut, bahkan juga pada orang lain. Bahkan bisa menjadi penyesalan yang berkepanjangan bagi orang yang marah.

Jika proses marah sebagaimana hal di atas terjadi pada orang yang tidak berpengaruh terhadap banyak orang mungkin tidak banyak orang yang akan terdampak, tetapi jika marah yang tidak terkontrol tersebut terjadi pada orang dengan pengaruh yang kuat atau terjadi pada pemimpin dengan pengikut yang besar, maka dapat dipastikan akan memiliki dampak kehancuran yang sangat besar. Itulah sebabnya seorang pemimpin harus mampu marah dengan terkontrol. Marah yang terkontrol terjadi ketika proses marah telah melewati pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh korteks. Bukan marah yang langsung direspon oleh tubuh akibat sinyal yang dikirim oleh amygdala sebelum menerima pertimbangan-pertimbangan logis dari bagian otak yang disebut korteks.

Tidak ada yang tidak bisa dilatih jika hal tersebut terkait dengan otak, demikian juga dengan mengontrol kemarahan. Di sekolah, madrasah, dan juga pondok pesantren sebenarnya telah mengajarkan berbagai pengendalian diri ini yang biasa disebut dengan pelajaran soft skill, kecakapan hidup, atau kecerdasan emosional. Bahkan dalam agama juga diajarkan melalui pembelajaran akhlak semisal bersabar, menahan diri, dan lain-lain. Dalam Islam misalnya, ketika marah kita disarankan untuk istighfar atau mengucapkan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Quran untuk menghentikan atau menghambat ledakan kemarahan yang akan terjadi. Melalui Istigfar atau mengingat Allah SWT ini kemudian akan memicu korteks memberikan pertimbangan-pertimbangan positif, sehingga kemudian dapat menhentikan marah yang tidak terkontrol. Andaikan seseorang harus marah, tetapi karena sudah mendapat pertimbangan-pertimbangan positif dari mengingat Allah SWT tersebut, kemudian marah yang akan keluar sudah mengarah kepada kebaikan dan pertimbangan-pertimbangan yang terencana.

Kondisi sebagaimana tersebut harus dilatihkan (bahkan juga dilatihkan oleh diri sendiri) agar supaya seseorang setiap mengalami kondisi yang tidak menguntungkan, tidak kemudian langsung bereaksi dengan kemarahan yang tidak terkontrol yang kemudian muncul dalam perilaku baik itu menyerang secara fisik, atau memaki-maki orang lain, tetapi menunggunya sampai mendapatkan pertimbangan-pertimbangan logis analitik dari bagian otak yang disebut korteks. Jika manusia tidak pernah melatih kemampuan ini, maka tidak akan berbeda dengan mahkluk mamalia lainnya yang melakukan reaksi penyerangan ketika mengalami kemarahan.

Kita umat Islam sangat beruntung karena telah disediakan berbagai kata atau kalimat yang berwujud doa untuk mencegah marah yang tidak terkontrol, sehingga mampu menyelematkan diri sendiri dan orang lain dari dampak marah yang mungkin sangat merusak. Tinggal umat Islam meyakininya dan mau menggunakannya atau tidak dalam kehidupan keseharian, dalam menghadapi kekurangan yang ada pada dirinya sendiri, karena rasa marah selalu terkait dengan ketidak mampuan diri sendiri. Paling tidak, marah selalu terkait dengan ketidak mampuan diri sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan logis.

(Author)