BENCANA PIDDIE: BERUSAHA KERAS UNTUK MENJADI CENDEKIAWAN YANG SESUNGGUHNYA (1)


» Senin, 26 Desember 2016 00:57, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 277

7 Desember 2016 ketika sebagian besar warga UIN Malang bersiap untuk melaksanakan kegiatan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) di luar kota Malang, terjadilah bencana gempa di Kabupaten Pidie Jaya, propinsi Aceh. Kita warga kampus dan mungkin juga jutaan warga Indonesia lainnya ikut prihatin dengan terjadinya bencana tersebut. Mungkin belum kering diingatan bangsa Indonesia, dan khususnya rakyat Aceh tentang bencana Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang meluluh lantakan Banda Aceh dan sekitarnya. Dua ratus ribu orang lebih menjadi korban atas bencana yang sangat dahsyat itu.

Sebagai tempatnya cendekiawan, sebenarnya sejak meletusnya gempa tersebut, banyak warga UIN Malang yang ingin menjadi relawan untuk membantu sesama di Pidie Jaya Aceh, lokasi gempa. Namun kesibukan di kampus dengan acara-acara yang sudah terjadwal sebelumnya, menyebabkan keinginan untuk menjadi cendekiawan dengan menimplementasikan kegiatan saling menolong sesama manusia tersebut tidak segera bisa dilakukan.

Kesempatan untuk menjadi relawan kemanusiaan di Pidie baru bisa dilakukan setelah selesainya acara ICQAIHE yang berlangsung antara tanggal 17 – 20 Desember. Tim relawan UIN Malang mulai berangkat tanggal 23 Desember 2016 yang merupakan gabungan dosen, karyawan dan mahasiswa. Saat perencanaan, tim relawan belum tergambar apapun tentang apa yang akan dilakukannya di lokasi bencana. Sedikit ada keraguan juga untuk berangkat ke lokasi bencana, karena sudah berjarak sekitar 16 hari dari kejadian bencana. Apa yang akan dilakukan tim relawan?, bagaimana kondisi lokasi bencana?, bantuan apa yang diperlukan?, siapa yang harus dilapori ketika akan masuk lokasi bencana?, pekerjaan apa yang harus dilakukan selama tim relawan berada di lokasi?, dan berbagai pertanyaan lain membuat keraguan diantara relawan yang akan berangkat ke lokasi bencana semakin menguat.

Namun, untunglah perasaan ingin belajar menjadi bagian dari kecediakawanan tersebut terus menguat, sehingga apapun yang terjadi tetap diputuskan untuk berangkat. Mungkin tim relawan tersebut akan menjadi “pahlawan kesiangan”, karena kedatangan yang berjarak agak jauh dari hari terjadinya bencana, tetapi tim relawan meyakinkan diri bahwa pasti akan ada banyak hal yang diperoleh di lokasi bencana terkait dengan upaya-upaya pemulihan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang bagi masyarakat yang terdampak gempa di Pidie Jaya. Paling tidak ada tambahan ilmu tentang bagaimana berada di lokasi bencana, dan memulai kegiatan membantu sesama di lokasi bencana walaupun mungkin tidak banyak.

Informasi penting tentang lokasi bencana dan apa yang penting dilakukan di lokasi bencana baru didapatkan tim relawan ketika bertemu dengan rekan dosen dari UIN Ar Raniry Banda Aceh. Pak Khatib begitu tim relawan biasa memanggil rekan dari Aceh tersebut, memberikan gambaran dan kemudian memberikan banyak kemudahan, termasuk menyediakan pemandu untuk melakukan berbagai kegiatan di Aceh. Tidak hanya itu, tim relawan UIN Malang juga dihubungkan dengan Bapak Rektor UIN Ar Raniry Aceh untuk mendapatkan gambaran lebih komprehensif tentang situasi terbaru di tempat bencana.

Malam itu ditanggal 23 Desember tim relawan UIN Malang langsung diantar oleh tim relawan UIN Ar Raniry Aceh menuju lokasi bencana di Pidie Jaya, setelah sore harinya berdiskusi dengan berbagai pihak di UIN Ar Raniry Aceh yang dipimpin oleh Pak Rektor UIN Ar Raniry. Kepergian ke Aceh kali ini dipandu oleh relawan yang selama ini sudah tinggal di Pidie. Tim relawan UIN Malang memanggilnya Pak Aiyin. Dengan menggunakan 2 kendaraan 20 tim relawan gabungan UIN Malang dan UIN Ar Raniry Aceh menuju lokasi bencana. Sampai di kota Meureudu Pidi Jaya jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kota Meureudu merupakan kota terparah yang terdampak gempa, karena gempa yang berkekuatan 6,5 skala Richter tersebut mampu membuat beberapa bagian bumi di kota Meureudu pecah. Bahkan sampai ada yang pecah dengan lebar 4 meter sepanjang 10 meter dengan kedalaman 3 meteran.

Esok harinya tanggal 24 Desember, kami mencoba berkoordinasi dengan tim untuk menentukan fokus kegiatan yang akan kami laksanakan di hari itu. Keputusan dari koordinasi tim relawan UIN malang dan UIN Ar Raniry Aceh bahwa tim akan memfokuskan pada tiga hal utama, yaitu survei tentang trauma akibat bencana kepada masyarakat, kerusakan fisik tempat ibadah masjid, meunasah, dan dayah, dan kesehatan masyarakat sebagai terdampak gempa.

Pada saat koordinasi awal inilah tim relawan dipertemukan dengan ketua ICMI kabupaten Pidie Jaya, Bapak Barzaini, sehari-hari kami memanggilnya Pak Cik. Melalui Pak Cik kami mengetahui informasi awal dari kondisi yang terjadi akibat gempa tanggal 7 Desember tersebut. Terdapat 104 orang meninggal, 138 luka berat, 129 rawat inap operasi, 178 rawat inap non operasi. Di Pidie Jaya terdapat 120 Lokasi pengungsian dengan jumlah pengungsi mencapai 82,122 jiwa. Ketika tim relawan UIN Malang datang, masih terjadi beberapa kali gempa setiap harinya dalam skala yang kecil.

Siang di hari kedua di Pidie Jaya, tim relawan mulai melaksanakan survei ke lokasi bencana, demikian pula dilanjutkan dengan hari ke tiga. Terdapat beberapa dampak gempa yang mungkin sulit sekali dinalar oleh orang awam, yaitu kehancuran yang tidak merata. Banyak sekali terlihat bangunan hancur, tetapi bangunan sebelahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari bangunan yang hancur tersebut seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti terjadi di pasar Meurdeu, Pidie Jaya. Satu blok bangunan pasar hancur, dengan korban jiwa 25 orang tertimbun di dalamnya, sedangkan dua blok di kiri dan kanannya yang hanya berjarak 2 meter utuh sama sekali. Seperti tidak pernah terjadi gempa dengan kekuatan yang dahsyat di daerah itu. Demikian juga banyak masjid yang runtuh (32 masjid runtuh dari 78 masjid yang ada di Pidie Jaya), namun di beberapa masjid terlihat rumah-rumah disebelahnya masih utuh. Bahkan disalah satu masjid, tanah halamannya terbelah sampai 4 x 10 meter sedalam 3 meter.

Sampai dengan hari keempat ini, tim relawan UIN Malang telah mensurvei sebanyak 10 masjid yang runtuh total. Dalam kesemptan survei tersebut tim relawan selalu berdiskusi dengan takmir masjid, mendengarkan berbagai cerita tentang bagaimana dahsyatnya gempa tersebut, dan harapan mereka untuk segera mendapatkan bantuan untuk bisa membangun masjid yang baru secepatnya. Masjid bagi masyarakat Pidie Jaya adalah pusat dari kehidupan mereka.

(Author)