BENCANA PIDIE JAYA: BERUSAHA KERAS UNTUK MENJADI CENDEKIAWAN YANG SESUNGGUHNYA (2)


» Sabtu, 31 Desember 2016 23:18, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 158

Sebagai pusat kehidupan, masjid memiliki posisi yang istimewa bagi sebagian besar masyarakat di bumi Aceh, tidak terkecuali bagi masyarakat Pidie Jaya, sehingga hampir dimanapun dapat dijumpai masjid. Berbagai kegiatan masyarakat berpusat di masjid ini, sehingga membangun masjid merupakan suatu kewajiban dan memiliki gengsi tersendiri bagi sebuah masyarakat. Saking bersemangatnya membangun masjid bagi masyarakat Pidie Jaya, banyak masjid yang masih belum selesai dibangun, bahkan mungkin sudah puluhan tahun belum juga rampung pembangunannya, karena masjid terus menerus dikembangkan dan di perbarui fisik bangunannya.

Disisi lain, masjid selain sebagai pusat ibadah masyarakat, juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun sayangnya semangat membangun masjid tersebut tidak diikuti dengan kemampuan manajerial masjid yang bagus, sehingga kemudian masjid belum benar-benar mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat Aceh, selain sebagai tempat ibadah ritual. Terkait dengan dua hal tersebut yang penting untuk dilakukan pembinaan terhadap masyarakat Pidie Jaya untuk pembenahan pasca gempa yang berkekuatan 6,7 SR tersebut.

Pembangunan fisik tentu saja hal pertama yang paling penting dilakukan untuk mengembalikan bangunan-bangunan masjid tersebut, selama proses pembangunan atau menunggu donasi untuk proses pembangunan tersebut, sangat diperlukan tenda-tenda permanen yang akan digunakan untuk tempat beribadah sampai minimal satu tahun kedepan. Masih terkait dengan sarana prasarana ini adalah sangat diperlukannya Al-Quran dan berbagai buku tentang pembelajaran baca tulis Al Quran untuk pembelajaran di berbagai masjid dan meunasah.

Dalam kaitan dengan pembangunan fisik tersebut, UIN Malang dapat membantu dalam 4 hal. Pertama, melalui jaringan donasi yang ada di UIN Malang yang telah dibangun oleh Kepala Pusat hubungan luar negeri Bapak Baharudin Fanani, dapat mencarikan donasi untuk pembangunan masjid beserta sarana prasarana pendukungnya. Kedua, UIN Malang dapat menganggarkan dalam jumlah tertentu untuk melakukan bantuan penyediaan tenda permanen yang dapat dipasang di beberapa masjid yang rusak. Ketiga, melalui El-Zahwa dapat memberikan bantuan melalui hasil pengumpulan shodaqoh wajib yang ada di kampus. Keempat, membuka sumbangan dari seluruh warga di UIN Malang untuk berderma atas gempa di Pidie Jaya. Dengan demikian keberlangsungan ibadah pada beberapa masjid dan meunasah yang sudah rata dengan tanah tersebut dapat terus dipertahankan.

Hal yang juga penting untuk dikembangkan adalah pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan manajerial masjid. Masjid harus memiliki kekuatan tidak hanya untuk layanan-layanan ibadah ritual semata tetapi juga pembinaan aqidah, akhlak, bahkan juga kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya takmir masjid harus memiliki kecakapan dalam membuat masjidnya menjadi masjid yang bersih dan nyaman untuk digunakan beribadah, juga memiliki berbagai layanan bagi jamahnya. Layanan yang terpenting dari masjid selain sebagai tempat ibadah adalah layanan-layanan yang ditujukan untuk mampu menjaga aqidah dan akhlak masyarakat sekitar dan juga jamaah masjid tersebut.

Untuk membuat berbagai layanan-layanan tersebut, tentu saja masjid memerlukan takmir yang tidak hanya ikhlas dalam pengabdiannya menjaga masjid, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola dan menjaga masjid. Kondisi inilah yang sangat diperlukan untuk para takmir di masjid-masjid yang nantinya akan dibangun ulang di Pidie Jaya. Dalam kaitan ini, UIN Malang dapat berperan banyak untuk memberikan berbagai pelatihan terhadap takmir-takmir terkait dengan peningkatan kemampuan pengelolaan masjid tersebut. Namun akan sangat baik dan tentu akan menjadi terpercaya jika UIN Malang mampu mencari donasi dan membangun masjid di Pidie Jaya, sekaligus melakukan pembinaan takmirnya menjadi masjid yang memiliki kemampuan dalam berbagai layanan ke masyarakat.

Pengembangan kemampuan para takmir masjid pasca bencana tentu saja harus menjadi kajian dan kemudian direncanakan dengan baik di kampus sebelum diimplementasikan di masyarakat. Pusat Studi bencana dan narkoba yang ada di UIN Ar Raniry Banda Aceh dapat memberikan banyak hal terkait dengan konsep-konsep pemberdayaan ini, karena Pusat Studi bencana dan narkoba telah memiliki banyak pengalaman dan data terkait dengan kebencanaan. Strategi yang tepat dalam implementasi disertai dengan sumber daya yang cukup akan sangat membantu dalam keberhasilan pembenahan dan pengelolaan masjid-masjid yang tersebar di daerah Pidie Jaya. Adanya pengelolaan masjid yang baik akan sangat membantu dalam menjaga keberlangsungan masjid, juga dalam menjaga aqidah dan akhlak masyarakat di sekitar masjid.

Hal penting lain selain revitalisasi berbagai sektor fisik (yang salah satunya adalah masjid) adalah pengembalian faktor-faktor psikologis masyarakat pasca gempa. Bencana apapun memang selalu menimbulkan dampak-dampak psikologis bagi masyarakat, apalagi bencana tersebut memiliki tingkat kehancuran yang tinggi, trauma akan terjadi di masyarakat pada berbagai ragam usia. Trauma juga mungkin terjadi pada anak-anak di sekolah atau madrasah atau dayah. Penyembuhan trauma tersebut tentu juga harus menjadi perhatian, anak-anak harus kembali belajar di sekolah atau madrasah atau dayah, walaupun harus belajar di tempat-tempat sementara.

Memang akan sangat sulit jika masalah pasca bencana tersebut diselesaikan sendirian. Sejatinya memang PT bukan memiliki tugas utama untuk membenahi kondisi masyarakat pasca bencana, namun sebagai lembaga pendidikan yang memiliki fungsi mengembangkan keilmuan dan kecendekiawanan, PT harus mampu mengambil peran penting dalam kaitan membantu masyarakat pasca bencana tersebut. Pertama, karena PT memiliki banyak tenaga ahli dan terdidik dalam berbabagi bidang, sehingga ilmu dan keterampilannya dapat dimanfaatkan dengan baik di lokasi-lokasi bencana. Kedua, PT perlu merealisasikan kegiatan kecendekiawanan dan pemberian teladan kepada masyarakat. Untuk menggerakan fungsi kecendekiawanan di daerah-daerah yang memerlukan tersebut tentu saja diperlukan berbagai sumber daya. Untuk memperoleh sumber daya tersebut itulah diperlukan upaya kelembagaan oleh UIN Malang.

Terdapat berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan UIN Malang dalam upayanya memperoleh sumber daya untuk melakukan berbagai bantuan tersebut. Sumber daya yang terkait dengan dana dapat diupayakan dengan berbagai upaya. Pertama adalah dengan menganggarkan sendiri sejumlah dana untuk diimplementasikan sebagai bantuan sosial di daerah Pidie Jaya. Kedua, mencarikan donasi baik di dalam maupun luar negeri untuk kemudian digunakan di daerah bencana. Ketiga, mengajak bersama orang-orang yang ada di UIN Malang, atau bahkan beberapa PT untuk bergabung dan kemudian melakukan pendaan bersama melalui kegiatan filantropi yang hasilnya kemudian digunakan di daerah terdampak gempa.

Demikian pula dengan sumber daya yang lain, dapat diupayakan melalui berbagai cara, namun yang perlu dilakukan oleh UIN Malang adalah menginisiasi agar sumber daya yang diperlukan untuk dapat membantu masyarakat terdampak gempa di Pidie Jaya dapat diwujudkan. Proses ini tentu akan menjadi pembelajaran untuk kemudian UIN Malang mampu menjadi bagian dari upaya untuk selalu membantu masyarakat yang terdampak bencana di tanah air kita tercinta. Hal ini juga berarti UIN Malang telah membelajarkan warganya untuk memiliki kepedulian dan kemampuan menjadi cendekiawan yang sesungguhnya.

http://aceh.lecturer.uin-malang.ac.id/

(Author)