Perhatikan Kualitas Artikel dalam Jurnal


» Sabtu, 17 Desember 2016 09:37, Oleh: Abadi Wijaya, Kategori: BeritaHit: 255

1099_jurnal.jpg
Khoirul Hidayah, Pemimpin Redaksi Jurnal Ulul Albab, memberikan apresiasi kepada Ismail Suardi Wekke usai mengisi materi di hadapan pengurus jurnal UIN Maliki

GEMA-Memasuki era digital, segala hal telah terekam secara daring. Begitu pun tulisan dalam jurnal. Agar jurnal printed juga diakui secara daring (online), maka akreditasinya pun menjadi perhatian khusus. Jurnal Ulul Albab mendatangkan salah satu assessor jurnal Ismail Suardi Wekke, Ph.D. untuk memberi pengarahan pada Strategi Persiapan Akreditasi Online, Jumat (16/11).

Dalam pemaparannya di Ruang Pertemuan Unit LPMP, pemateri menjelaskan poin-poin yang menjadi pertimbangan tim assessor jurnal. Secara khusus, ia menegaskan bahwa kualitas artikel mendapat 51% dalam penilaian akreditasi. “Jadi, tim jurnal harus selalu selektif dan detil saat memeriksa naskah-naskah yang masuk di kantor redaksi,” imbuhnya.
Menurut Iswekke, sapaan akrabnya, artikel menjadi perhatian utama karena tidak semua paham gaya penulisan. “Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar paham tulisan yang ideal untuk sebuah jurnal,” jelas dosen STAIN Sorong itu. Berbanding terbalik dengan pembenahan OJS yang bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Di forum tersebut, Iswekke juga memotivasi semangat para pengurus jurnal UIN Maliki. Ia mengibaratkan para pengurus sebagai pencari syafaat Rasulullah di hari kiamat. “Jangan sampai di akhirat nanti, Rasul malu ketemu sama kita karena jurnal kita gak beres,” ujar alumni Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut.
Dihadiri 40 pengurus jurnal di wilayah UIN Maliki Malang, acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. M. Zainuddin, MA. Pada sambutannya, ia menegaskan kepada seluruh pengurus untuk memperbaiki kualitas jurnalnya. Dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah agar lulusan universitas berkontribusi dalam menyumbang artikel di jurnal, pengurus tak perlu takut kekurangan naskah. “Semoga peraturan baru itu bisa jadi motivasi untuk menulis bagi mahasiswa khususnya di Indonesia,” harapnya. (nd)

(Ajay)