Substansi Pendidikan Islam


» Kamis, 8 Desember 2016 08:01, Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kategori: DosenHit: 187

Ketika pendidikan Islam sudah bersifat massif dan bahkan diformalkan seperti sekarang ini, maka substansinya menjadi tidak mudah dikenali. Pendidikan menjadi sebuah kegiatan rutin yang kadang hanya sekedar dijalankan untuk meraih tujuan yang bersifat formal. Seseorang disebut telah menyelesaikan pendidikan Islam hanya karena telah mengikuti serangkaian kegiatan proses belajar mengajar tanpa melihat hasil yang sebenarnya telah diraih

Pendidikan Islam diharapkan menghasilkan akhlaq mulia. Aku diutus, kata Nabi, untuk menyempurnakan akhlaq. Seharusnya melalui pendidikan Islam menghasilkan akhlak mulia itu. Selama ini para ahli pendidikan percaya bahwa setelah seseorang mengikuti seperangkat kegiatan belajar mengajar dan secara kognitif telah memahami apa yang dipelajari, maka disebut telah berhasil. Padahal antara aspek kognitif dan perilaku terpuji, atau disebut berakhlak mulia, tidak selalu seiring atau berkorelasi.

Hasil dari kegiatan pendidikan Islam seharusnya bukan sekedar menjadikan peserta didik mengerti dan memahami sesuatu yang dipelajari, tetapi yang justru lebih penting adalah berhasil menghayati dan menjalankan apa yang telah diperoleh dari pembelajarannya itu. Seseorang disebut telah berhasil mengikuti pendidikan Islam manakala yang bersangkutan telah mampu memelihara hatinya, beramal shaleh, dan berakhlak mulia.

Tujuan itu menjadi semakin sulit dicapai manakala lembaga pendidikan dijalankan hanya dengan mengedepankan ukuran-ukuran yang bersifat formal. Pendidikan Islam menjangkau aspek yang lebih dalam, yaitu pada wilayah hati. Persoalan itulah yang sebenarnya menjadi problem pendidikan Islam. Membangun keindahan hati tidak cukup dilalui hanya dengan membaca buku, mendengarkan ceramah, mengikuti seminar, dan sejenisnya. Itulah sebabnya, substansi pendidikan Islam tidak akan berhasil diraih hanya melalui kegiatan belajar mengajar, dan apalagi yang bersifat formal.

Seharusnya kegiatan pendidikan menjangkau aspek yang sebenarnya menjadi sumber perilaku seseorang. Sumber dimaksud ternyata bukan pada otak atau akal, melainkan pada apa yang ada di dalam hati seseorang. Kegiatan keilmuan atau akademik hanyalah sebatas memenuhi kebutuhan akal atau rasio. Hal itu berbeda dengan kebutuhan hati, ia memerlukan komunikasi dengan Dzat Yang Maha Pencipta. Oleh karena itu substansi pendidikan Islam baru akan diraih manakala kebutuhan hakiki dimaksud berhasil dipenuhi. Wallahu a'lam

(Author)