Menjadi Penguji Disertasi Di UMM


» Jumat, 3 Maret 2017 08:01, Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kategori: DosenHit: 909

Beberapa hari yang lalu, saya diminta menjadi penguji ujian disertasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Selang waktu yang tidak lama, saya diminta menguji disertasi mahasiswa Fakultas Ilmu Agama dan berikutnya mahasiswa Fakul;tas Ilmu Sosial dan Politik. Permintaan menjadi penguji, saya sanggupi oleh karena kebetulan, saya pernah belajar ilmu politik dan juga dalam waktu yang lama menggeluti bidang pendidikan agama Islam.

Yang terkesan bagi saya ketika menjadi penguji, bukan saja terkait disertasi kedua calon Doktor tersebut, tetapi juga suasana keakraban yang terasakan di kalangan para pengelola pascasarjana itu. Dulu ketika saya ikut memimpin kampus itu tidak kurang dari 20 tahun, para dosennya masih berpendidikan S1 dan beberapa yang S2, tetapi sekarang sudah bergelar Doktor, dan bahkan sebagian sudah berjabatan akademik Professor.

Sejak berhenti menjadi Wakil Rektor I, oleh karena kesibukan saya memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya tidak pernah datang ke kampus itu, sekalipun hanya sekedar mengajar atau menguji. Biasanya saya hanya melihat kampus itu dari depan ketika sedang meliwatinya. Oleh karena itu, sekalipun kebanyakan dosen, terutama yang sudah menjadi senior, dulu saya ikut mengangkat dan bahkan mengurusi status kepegawaiannya ---bagi mereka yang berstatus PNS bantuan Kopertis, tetapi mereka tidak pernah berjumpa.

Sudah barang tentu, pertemuan dalam momentum ujian disertasi itu menjadikan hati saya senang. Saya gembira, perguruan tinggi yang dulu berukuran amat kecil, sederhana, dan hanya diminati oleh orang-orang kelas bawah dan jumlahnya juga amat sedikit, sekarang telah menjadi besar. Pada saat awal pertumbuhan, kampus itu tidak memiliki dosen tetap. Semua dosennya berstatus luar biasa, kecuali jika harus lapor ke pemerintah dalam hal ini Kopertis dan atau Kopertais, mereka disebut sebagai dosen tetap.

Lembaga pendidikan tinggi milik persyarikatan Muhammadiyah itu, dulu saya namai perguruan tinggi pengisi waktu luang. Saya sebut demikian oleh karena para dosen dan juga pegawainya adalah mereka yang datang ke kampus sekedar mengisi waktu luang. Paginya, mereka bekerja sebagai dosen di IAIN sekarang menjadi UIN, Universitas Brawijaya, IKIP sekarang menjadi Universitas Negeri Malang, dan juga pegawai Pemda, sorenya mereka mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Melihat kenyatan yang tidak menggembirakan tersebut, sebagai orang yang diserahi tanggung jawab di bidang akademik, oleh karena mengangkat dosen tetap belum memungkinkan atas alasan pendanaan, saya mengangkat dosen dengan sebutan dosen takmir. Dalam pikiran saya, masjid saja ada takmirnya, maka terasa lucu jika kampus tidak memiliki dosen tetap. Maka saya mengangkat dosen yang berstatus takmir. Mendengar sebutan takmir itu, wakil rektor II tidak menyetujui, sehingga kemudian mengubah namanya menjadi dosen Tidak Tetap Luar Biasa yang kemudian disingkat DTTLB. Tugas mereka seperti takmir, yakni mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan, mulai dari mengetik surat, mengajar, menguji, dan jika perlu sampai mengatur parkir.

Pada waktu itu saya tidak membayangkan, bahwa kampus yang sederhana itu akhirnya menjadi besar seperti sekarang ini. Ketika menjadi Wakil Rektor I, saya sangat iri dengan kemajuan Universitas Merdeka Malang, Universitas Widya Gama, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara, Universitas Gajayana, IKIP PGRI, dan lain-lain. Namun sekarang ini, ternyata kampus yang saya begitu lama ikut memimpinnya, mampu bersaing dengan perguruan tinggi swasta yang sebelumnya sudah maju terlebih dahulu, dan bahkan melampauinya. Kemajuan itu tentu diraih oleh karena di dalamnya terdapat orang-orang yang berpikiran, berjiwa, dan bekerja maju.

Pengalaman terakhir di Universitas Muhammadiyah Malang, selain sebagai Wakil Rektor I, saya diserahi tugas menjadi ketua panitia pembangunan masjid kampus III, yaitu Masjid AR Fachruddin. Pekerjaan menyelesaikan pembangunan masjid bukan tugas yang mudah, terutama dalam mencari pendanaannya yang tentu tidak sedikit. Bantuan dari pemerintah dan juga dari sumber-sumber lainnya tidak ada, sehingga harus mencari sendiri. Kreatifitas pada saat itu sangat menjadi penentu keberhasilan pembangunan masjid. Beruntung ketika itu, selain sebagai Wakil Rektor I, saya sekaligus selalu ditunjuk menjadi ketua penerimaan mahasiswa baru.

Peran tersebut, saya gunakan untuk mendapatkan dana pembangunan masjid. Agar memperoleh uang dari penerimaan mahasiswa baru tersebut, saya menetapkan sebagian besar mahasiswa yang ikut ujian masuk, berstatus sebagai cadangan. Mereka saya terima menjadi mahasiswa baru, dengan catatan bersedia menambah jumlah sumbangannya dan kemudian uang itu saya gunakan untuk membangun masjid. Jika diperkirakan akan menerima 5000 mahasiswa, maka saya tetapkan yang lulus 2000 orang, dan cadangannya sekitar 3000 orang. Dengan cara itu, dana pembangunan masjid AR Fachruddin terkumpul dan akhirnya selesai. Cara-cara kreatif seperti ini banyak saya lakukan, dan ternyata setelah kemudian mengurus perguruan tinggi negeri, saya merasakan bahwa memimpin perguruan tinggi swasta jauh lebih berat dan rumit dibanding memimpin perguruan tinggi yang berstatus milik pemerintah

Berbagai pengalaman dan kenangan dalam ikut memimpin Universitas Muhammadiyah Malang, sekalipun telah berselang lebih dari 20 tahun, menjadi teringat kembali ketika ikut menguji disertasi dimaksud. Sudah barang tentu, saya merasakan kegembiraan yang luar biasa melihat kemajuan itu. Saya hanya berharap, agar semuanya dari generasi ke generasi selalu menjaga dan meneruskan upaya-upaya untuk memajukan lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Manakala jiwa besar, pikiran besar dan karya-karya besar tetap menjadi milik seluruh warga kampus itu, maka kemajuan akan tetap dapat diraih. Wallahu a'lam

(Author)