Sekedar Bercita-cita Menjadi Kaya


» Sabtu, 4 Maret 2017 08:01, Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kategori: DosenHit: 197

Berkeinginan menjadi kaya bagi siapapun sebenarnya tidak ada larangan. Agama juga membolehkan, bahkan sebaliknya, yang justru tidak dibolehkan adalah menjadi miskin. Orang malas lalu menjadi miskin sehingga hidupnya hanya menggantungkan pada orang lain, adalah yang sebenarnya dilarang. Kegiatan meminta-minta justru tidak dibolehkan, sebab kegiatan itu akan menjadikan diri dan bahkan agamanya terhina.

Islam mengajarkan agar umatnya menjadi pekerja. Bekerja sebagai apa saja boleh, asalkan yang halal dan tidak merugikan orang lain. Jenis pekerjaan tidak ada urusan dengan derajad dan atau harkat dan martabat. Seseorang tidak menjadi rendah derajatnya hanya karena mengerjakan pekerjaan yang diangap sepele. Kerja apa saja boleh asal memberi manfaat dan halal.

Memang untuk menjadi kaya harus memilih jenis pekerjaan yang mendatangkan uang banyak. Pekerjaan yang hanya mendatangkan penghasilan kecil, tidak akan mungkin bisa menumpuk harta. Pada zaman seperti sekarang ini, jenis pekerjaan yang mendatangkan uang adalah yang bermuatan ilmu dan teknologi. Jenis pekerjaan yang dilakukan hanya mengandalkan tradisi atau kebiasaan, tidak akan mendatangkan untung.

Bertani secara tradisional, misalnya menanam padi di lahan sempit, beternak kambing hanya beberapa ekor, atau juga ayam yang tidak begitu banyak jumlahnya, semua itu tidak akan menjadikan orang kaya. Sebaliknya, pekerjaan yang memasukkan faktor ilmu dan teknologi, maka apapun jenisnya akan mendatangkan keuntungan besar. Sekalipun hanya menjadi penggembala kambing misalnya, jika jumlahnya hingga ribuan ekor, maka peternak akan menjadi kaya.

Di suatu daerah, ada seorang pensiunan guru yang saya kenal, untuk mengisi waktu luangnya, mencoba beternak ayam. Uang hasil pensiunannya dijadikan modal. Oleh karena berbagai keterbatasannya, pada awalnya, ia mengurus sendiri ayamnya sebaik-baiknya. Seolah-olah hidupnya hanya untuk ayam. Cara itu ternyata menjadikan ayamnya berkembang. Keuntungannya dapat digunakan untuk mengembangkan jumlah dan kualitas ayamnya. Sekarang ini, pensiunan guru dimaksud, menurut pengakuannya sendiri, telah memiliki sejuta ekor ayam.

Pengelolaan ternak ayam hingga sukses selain tekun, sabar, dan ulet juga menggunakan prinsip-prinsip pengetahuan modern dan bahkan juga teknologi. Tidak akan mungkin mengurus ayam hingga jutaan ekor, tanpa manajemen yang tepat. Mempekerjakan banyak pegawai di berbagai bidang, memerlukan kemampuan manajerian dan juga leadership. Demikian pula, peternak ayam itu juga menggunakan teknologi, seperti dalam pembuatan pakan, obat-obatan, dan sebagainya.

Menjadi kaya ternyata tidak harus pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Manakala memiliki ketrampilan, kemauan keras, kesabaran, jiwa berjuang, dan berprestasi, maka banyak hal yang dapat dilakukan. Kisah pensiunan guru yang ternyata sukses dalam beternak ayam, adalah contohnya. Sebagai contoh lainnya, saya pernah datang ke perkampungan masyarakat Baduwi, di Saudi Arabia. Pekerjaan mereka hanya memelihara kambing, tetapi kekayaannya luar biasa banyaknya. Mereka punya perhitungan, bahwa memelihara kambing jangan kurang dari 1000 ekor. Kurang dari jumlah itu tidak akan menjadi kaya, apalagi hanya puluhan ekor. Maka benar, ilmu menjadi penting untuk usaha apa saja.

Dalam suatu kesempatan, saya bertanya kepada pensiunan guru yang sukses beternak ayam, yaitu mana yang enak menjadi guru atau beternak ayam. Pertanyaan itu ternyata dijawab sederhana tetapi memuaskan. Suasana enak itu tergantung pada apa yang ada di dalam hati. Menjadi guru itu menyenangkan. Sekalipun gajinya kecil dapat menggembirakan orang lain. Begitu pula menjadi peternak, sekalipun beresiko, sehari-hari berbau kotoran ayam, tetapi ketika ada orang datang meminta sumbangan dan mampu memberi, hati merasa senang. Menjadi kaya dan bisa bersyukur, serta dapat memberi, akan memperoleh kesenangan. Maka dalam hidup ini tidak sekedar menjadi kaya. tetapi seharusnya juga berhasil menggembirakan orang lain. Wallahu a'lam

(Author)