MELEPAS WISUDAWAN MENUJU SEKOLAH YANG SESUNGGUHNYA


» Minggu, 21 Mei 2017 23:53, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 324

Wisudawan merupakan produk utama dari Perguruan Tinggi (PT). Dimanapun keberadaan PT, tugas utamanya harus memiliki kemampuan dalam menghasilkan wisudawan. Wisudawan tersebut dihasilkan dari berbagai jenjang, mulai dari level pendidikan vokasional yang jenjangnya dinamakan Diploma, Sampai dengan jenjang tertinggi yang disebut jenjang doktoral. Pada sistem pendidikan di Indonesia meliputi Diploma 1 sampai 4. Sarjana 1 sampai 3.

Untuk mengahasilkan wisudawan tersebut, PT harus melaksanakan seperangkat pendidikan dan pembelajaran, sehingga para wisudawan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang ilmu atau keahlihan yang dipilihnya. Wisudawan jurusan Fisika harus memiliki kompetensi yang memadai terkait dengan bidang keilmuan Fisika. Wisudawan jurusan Pendidikan Agama Islam, harus memiliki kompetensi yang mumpuni terkait dengan bagaimana melaksanakan pendidikan agama Islam. Oleh karena banyaknya PT di seluruh Indonesia dan juga PT di negara-negara lain, kemudian berupaya untuk mendefinisikan kompetensi tersebut dalam setiap level. Kompetensi tersebut kemudian menjadi satandar lulusan dari setiap jenjang di level tersebut di PT. Di Indonesia standar kompetensi pada setiap level pendidikan tersebut disebut dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dalam KKNI tersebut mahasiswa jenjang S1 sampai dengan S3 menduduki kualifikasi dari level 6 – 9.

Sebagai pendidikan tinggi, PT merupakan pendidikan yang mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menjadi dewasa dan mandiri. Selepas PT, peserta didik atau biasa disebut dengan mahasiswa sudah harus mampu hidup baik di masyarakat, dan mulai mampu menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Oleh karenanya selepas PT, mahasiswa harus mampu bekerja atau membuka lapangan pekerjaan, karena selepas PT mahasiswa harus menghidupi dirinya sendiri dan juga keluarganya. Itulah sebabnya PT harus mempersiapkan mahasiswanya untuk kemandirian hidup di masyarakat tersebut.

Untuk bisa memiliki kemandirian hidup di masyarakat, ternyata tidak hanya memerlukan kompetensi saja, tetapi jauh lebih kompleks dari itu. Mahasiswa juga memerlukan seperangkat kemampuan yang terkait dengan banyak kecakapan hidup. Itulah sebabnya kemudian PT tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga banyak hal terkait dengan bagaimana tata nilai, sikap, budaya untuk dapat menjadi mandiri hidup di masyarakat.

Kompleksnya hal-hal yang harus dikuasai oleh mahasiswa di PT inilah yang kemudian menyebabkan PT harus mampu membuat sistem pendidikan yang sangat baik. Bahkan untuk dapt mencapai kompetensi yang kompetitif di level regional saja, PT harus sudah memiliki sistem pembelajaran yang sangat baik. Tidak saja dari sisi dosennya tetapi juga faktor-faktor pendukungnya yang meliputi, ruang kuliah, fasilitas laboratorium dan tempat praktek, perpustakaan, sarana belajar informal, sarana-sarana layanan manajemen, dan berbagai fasilitas lain. Kualitas dosen yang baik dan mumpuni ditambah dengan kualitas pendukung yang juga baik akan membantu penciptaan kompetensi mahasiswa.

Disisi lain untuk dapat meningkatkan banyak hal terkait dengan kecakapan hidup mahasiswa diperlukan dosen yang tidak hanya pandai dalam membelajarkan mahasiswa, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari kepada mahasiswa. Untuk bisa menjadi teladan inilah yang masih terlihat sangat berat di PT. Hal tersebut dikarenakan teladan selalu harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh komponen di PT. Jika pemberian teladan ini mengalami kegagalan maka dapat dipastikan mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan sikap dan kemandirian yang sangat diperlukan ketika mahasiswa tersebut harus berperan di masyarakat. Sikap mengambil inisiatif misalnya akan sulit berkembang di mahasiswa jika tidak diteladankan oleh seluruh komponen yang ada di PT, Masih banyak dosen dan juga tenaga-tenaga kependidikan di PT belum mampu mengambil inisiatif untuk menangani atau menyelesaikan berbagai masalah yang ada di dekatnya. Demikian juga pada hal-hal yang lain yang perlu diteladankan, masih sangat terlihat sulit di banyak PT kita.

Kedua hal tersebut selama ini masih mengalami kesulitan di banyak PT kita. Fasilitas penunjang masih pada kebutuhan dasar, ruang kuliah, laboratorium, tempat praktek, perpustakaan, sarana layanan manajemen dikebanyakan tempat masih hanya untuk memenuhi kebutuhan agar mahasiswa sekedar bisa kuliah, Beberapa PT memang ada yang sudah memiliki fasilitas yang baik, namun kebanyakan masih pada taraf dasar. Bahkan di banyak tempat, belum memiliki tempat-tempat belajar informal yang dapat dipakai mahasiswa dalam berdiskusi, atau beraktifitas lainnya.

Demikian pula kualitas dosen juga masih mengalami kendala dalam proses pengembangannya. Regulasi tentang dosen juga seringkali tidak mendukung dosen untuk berkembang dengan cepat. Misalnya regulasi tentang perlakuan presensi dengan menggunakan finger print setiap hari, merupakan regulasi yang sangat tidak mendukung kaidah-kaidah pekerjaan dosen. Regulasi tentang penelitian juga sangat menyulitkan dosen untuk melaksanakan penelitian dengan baik, belum lagi terkait dengan minimnya dana penelitian untuk dosen, minimnya dana pengabdian masyarakat untuk dosen, belum adanya ruang kerja dosen yang representatif pada beberapa PT sehingga ketika diwajibkan harus berkantor tiap hari, dosen kesulitan, karena tidak memiliki ruangan.

Selain itu, di banyak organisasi PT, tata nilai juga belum terbangun dengan baik, sehingga budaya organisasi belum menjadi pilar dalam operasional PT. Oleh karenanya konflik masih terjadi di beberapa PT, terutama terkait dengan kepemimpinan. Sehingga kemudian sangat sulit untuk menumbuhkan keteladanan. Pada organisasi PT yang tidak konflik saja seringkali sulit untuk menumbuhkan keteladanan, apalagi pada PT yang sedang konflik.

Belum lagi kondisi eksternal Indonesia yang masih banyak masalah, sehingga berbagai teori yang diajarkan di perkuliahan sering kali bertentangan dengan yang terjadi di banyak kondisi. Keteladanan yang diajarkan oleh Pendidikan Moral, Pendidikan Agama, Pendidikan Karakter di kampus malah jauh dari apa yang dilakukan oleh para aktor diberbagai bidang di Indonesia, sehingga kemudian membuat mahasiswa tidak bisa mengambil tata nilai yang benar.

Kesulitan-kesulitan dalam pendidikan di PT tersebut merupakan tantangan bagi seluruh komponen PT. Para pimpinan PT memiliki tantangan yang sangat besar untuk bisa mewujudkan pengelolaan PT yang bisa menghasilkan lulusan yang mampu berperan dalam berbagai pekerjaan-pekerjaan berkualitas, mampu berperan dalam kehidupan di masyarakat, mampu menjaga nilai-nilai luhur bangsa, mampu melaksanakan tuntutan-tuntutan dan menjauhi larangan-larangan agama. Para pemimpin terus menerus harus berjuang keras untuk dapat memenuhi sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan proses akademik yang bermutu di PT, mengembangkan dosen-dosen dengan kualitas yang kompetitif ditingkat regional dan internasional. Juga menciptakan tata nilai dan menginternalisasikannya sehingga menjadi budaya di PT, sehingga seluruh komponen PT mampu memberikan keteladanan kepada seluruh mahasiswa dalam upaya untuk menhasilkan lulusan yang tidak sekedar kompeten, tetapi juga memiliki watak dan karakter yang mendukungnya untuk hidup baik dan hidup mandiri di masyarakat.

Oleh karena sangat banyak hal yang harus dipelajari mahasiswa untuk mempersiapkannya menjadi orang yang baik dan memiliki kemandirian di masyarakat, sedangkan keterbatasan baik itu pada sumber daya, sistem, maupun tata nilai juga sangat besar maka pendidikan di PT harus mampu mengajarkan kepada mahasiswa untuk memiliki kemampuan individu untuk bisa belajar dan mengembangkan diri secara mandiri. Guru atau dosen dan lingkungan memang faktor yang tidak tergantikan pada kegiatan pendidikan dimanapun dan dijenjang apapun, tetapi mahasiswa harus didorong untuk menjadi guru bagi dirinya sendiri, karena hanya kemauan kuat dari mahasiswalah yang bisa menanggulangi berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada dalam penyelenggaraan PT di Indonesia.

Mahasiswa sudah sejak awal harus sudah ditubuhkan kemampuannya dalam kemampuan-kemampuan untuk bisa hidup baik di masyarakat dan memiliki kemandirian yang baik. Tata nilai dan kecakapan hidup yang mendukung untuk tumbuhnya kecakapan tersebut harus ditumbuhkan, semakin tinggi semester mahasiswa maka semakin diperlukan kemampuan-kemampuan untuk hidup baik dan memiliki kemandirian ini. Mungkin ada baiknya jika PT membuat suatu format penilaian untuk mengetahui adanya kemampuan mahasiswa untuk dapat hidup dengan baik dan memiliki kemandirian ini, disamping pengujian kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang studi yang dipilihnya.

Bekal ini akan menjadi “senjata utama” mahasiswa ketika berpindah dari status mahasiswa menjadi status alumni. Mahasiswa akan kembali hidup di masyarakat, mulai menerapkan segala ilmu yang diperolehnya diperkuliahan, juga mulai belajar dikehidupan yang sesungguhnya. Di masyarakat atau di tempat kerja, para lulusan tetap harus belajar, karena pasti apa yang diperolehnya di perkulihan tidak sepenuhnya cocok dan melingkupi pekerjaan-pekerjaan yang ditekuninya. Itulah sebabnya sikap pembelajar dan cekatan mengambil inisiatif menjadi sangat penting untuk bisa survival di tahap-tahap ini, dan juga mungkin akan terus berguna untuk penumbuhan karir dan usaha sepanjang berkarir dan hidup di masyarakat.

Dengan berakhirnya masa perkuliahan, dan kemudian memasuki kehidupan di masyarakat, sejatinya mahasiswa masuk ke tempat belajar yang sesungguhnya, karena di masyarakatlah sekolah yang sesungguhnya terjadi. Selamat untuk para wisudawan, kami selalu merindukan kesuksesanmu, nama harummu adalah kebanggaan yang tak terkira bagi kami. Maafkan kami jika tidak bisa memberi ilmu dan teladan yang mumpuni, tapi percayalah bahwa kami akan terus berbenah, untuk terus menerus memperbaiki generasi mendatang.

(Author)