SELAMAT DATANG CALON MAHASISWA: APA YANG HARUS KAMU PELAJARI?


» Selasa, 1 Agustus 2017 00:43, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 483

Minggu-minggu ini hampir seluruh kampus-kampus yang ada di Indonesia mulai kedatangan mahasiswa baru yang mulai masuk ke kampus untuk mengikuti berbagai kegiatan orientasi awal dan pengenalan berbagai hal tentang proses belajar di kampus. Berbagai kegiatan juga diadakan oleh kampus dengan kreatifitas masing-masing. Namun demikian, semua kampus sepakat bahwa masa orientasi harus dilakukan dengan cara yang mendidik, sehingga kemudian mampu memberikan kesan dan dampak yang baik kepada mahasiswa baru.

Orang tua dengan penuh harap mengantarkan putra dan putrinya pergi ke kampus baru. Banyak sekali dari orang tua yang datang dari tempat yang jauh dengan perjalanan puluhan jam, dengan harapan untuk dapat melihat kampus tempat belajar anaknya. Tentu saja sebelumnya orang tua juga ikut memilihkan anaknya untuk jurusan dan Perguruan Tinggi (PT) yang dipilihnya sebagai tempat belajarnya, dengan harapan kelak anaknya memiliki masa depan yang baik. Menjadi anak yang mandiri dan mampu berperan baik dalam kehidupan di masyarakat.

Mahasiswa baru tentu mulai mengalami berbagai proses perubahan, tidak hanya mereka akan hidup beberapa tahun di kota tempat kampus barunya berada, tetapi juga pada beberapa mahasiswa baru mulai belajar hidup berpisah dengan orang tua. Oleh karena mulai hidup berpisah dengan orang tua, maka pada beberapa hal, mahasiswa mulai mengatur dirinya sendiri. Memisahkan anak dari tinggal bersama orang tua, dalam banyak konsep pendidikan orang tua adalah untuk membelajarkan anak pada kemandirian.

Memang ciri utama yang menjadi pembeda antara pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi adalah karakteristik peserta didiknya. Jika pendidikan dasar dan menengah peserta didiknya adalah anak-anak dan remaja, pada pendidikan tinggi peserta didiknya dianggap sebagai orang dewasa. Dianggap sebagai orang dewasa, karena salah satu tugas PT adalah juga mentransformasikan ciri-ciri anak-anak menjadi ciri-ciri orang dewasa. Itulah sebabnya kemudian lingkungan, cara belajar, dan berbagai pelayanan di PT dirancang dan dibuat dengan mendasarkan pada pokok pikiran untuk berinteraksi dengan orang dewasa.

Salah satu hal penting dari ciri orang dewasa adalah kemampuannya menjadi mandiri. Pelajaran menjadi mandiri biasanya ditandai dengan pemberian kepercayaan yang lebih besar kepada orang yang akan diajarkan kemandirian, namun sebelum diberi kapercayaan yang lebih besar, maka orang yang akan diberikan kemandirian tersebut harus diajarkan beberapa hal penting dalam kehidupan orang dewasa. Pelajaran-pelajaran tersebut meliputi; 1) Kesadaran mengenai hal-hal yang penting dalam hidupnya, 2) Kemampuan untuk menggerakkan diri sendiri dalam menyelesaikan hal yang penting lebih dulu dibandingkan dengan hal-hal lainnya, 3) Kemampuan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan 4) kemampuan untuk hidup bersama orang lain dengan membahagiakan.

Kemampuan pertama yaitu kemampuan untuk memiliki kesadaran mengenai hal-hal yang penting. Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk mengetahui tentang apa hal yang penting, kurang penting, dan tidak penting dalam hidupnya. Masing-masing orang memiliki hal penting yang berbeda-beda, sehingga setiap orang harus mengetahui apa yang penting bagi dirinya. Kesalahan melihat tentang hal yang penting ini akan berdampak pada kemampuan orang tersebut pada saat dewasa nantinya, dan kesalahan tersebut jika terlambat menyadari akan menjadi sulit untuk diperbaiki, karena usia seseorang tidak bisa kembali mundur lagi. Itulah sebabnya sejak masih awal menuju kedewasaan ini, seseorang harus sudah memulai mengerjakan hal-hal yang penting dalam kehidupannya.

Kemampuan melihat hal-hal penting ini pada masa-masa awal tentu masih harus memerlukan banyak bimbingan. Anak-anak yang menuju dewasa biasanya juga merasa sudah memahami akan apa yang penting dan kurang penting dalam kehidupannya tersebut, tetapi tetap harus didampingi oleh orang dewasa yang sudah sukses atau berpengalaman. Orang dewasa tersebut bisa orang tua, Kyai, Guru, Dosen, atau tokoh masyarakat.

Kemampuan ini dalam kehidupan setiap orang merupakan kemampuan yang terdiri dari berbagai kemampuan-kemampuan dasar yang harus dikuasai lebih dahulu. Kemampuan dasar yang terpenting adalah kemampuan untuk memahami arah hidupnya dan apa yang diiginkan dalam kehidupan nantinya. Kemampuan ini dapat tercapai jika orang tersebut mampu mengetahui kemampuan dirinya, mengetahui harapan orang tua, dan mengetahui harapan yang berkembang di masyarakat. Untuk mengetahui hal ini orang tua dapat memberikan arahan kepada anak-anak yang menginjak mahasiswa sehingga memahami dirinya, keluarga, dan masyarakatnya. Para dosen di Perguruan Tinggi juga harus mulai mendorong mahasiswa-mahasiswa disemester awal untuk mulai memberikan kesadaran memahami hal-hal penting dalam hidupnya ini.

Dibanyak penjelasan seringkali fenomena ini diajarkan oleh seorang dosen dengan mencotohkannya dengan apa yang dapat diisikannya pada sebuah bejana atau tabung dari batu, kerikil, dan pasir. Tabung atau bejana adalah kehidupan yang kita miliki, batu diibaratkan dengan hal-hal yang penting, kerikil diibaratkan dengan hal-hal yang kurang penting, dan pasir diibaratkan dengan hal-hal yang tidak penting. Jika kita mendahulukan pasir (sebagai hal yang tidak penting) untuk diisikan terlebih dahulu di dalam bejana atau tabung tadi, maka batu (sebagai hal yang penting) tidak akan bisa masuk dalam bejana atau tabung itu. Demikian juga jika kerikil yang kita masukan lebih dahulu ke dalam tabung, maka batu tidak akan bisa masuk kedalam tabung, namun pasir masih bisa masuk kedalam tabung mengisi di sela-sela kerikil tadi. Batu (sebagai hal yang penting dalam kehidupan kita) harus kita masukan lebih dahulu ke dalam tabung, Jika batu sudah masuk memenuhi tabung, baru kemudian kerikil (sebagai hal yang kurang penting) mengisi di sela-sela batu, dan pasir (sebagai hal yang tidak penting) dapat mengisi di sela-sela batu dan kerikil tersebut. Bahkan tabung tersebut masih bisa ditambahkan dengan air.

Begitulah kehidupan kita, mengetahui hal yang penting merupakan kemampuan yang wajib dimiliki oleh orang dewasa, dan kemudian menjadikan prioritas dalam kehidupannya. Salah dalam menentukan hal yang penting tersebut dan kemudian kesalahan tersebut berlarut-larut maka sama dengan mengisi bejana atau tabung tersebut dengan kerikil atau bahkan pasir, sehingga dikemudian hari tidak banyak hal penting (batu) yang dapat kita selesaikan, kemudian kita tidak menjadi orang dewasa yang mandiri, bahkan pada beberapa kasus menjadi orang dewasa yang tidak mandiri dan memiliki karakter yang tidak baik.

Kemampuan kedua adalah menggerakkan diri sendiri untuk menyelesaikan hal yang penting lebih dulu dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Menggerakkan diri sendiri merupakan kecakapan yang wajib dimiliki orang dewasa, karena orang dewasa tidak akan ada yang memerintah untuk berbuat apa yang diinginkannya. Orang lain tidak akan tahu apa yang harus dilakukan oleh orang dewasa yang lain. Bahkan orang tua dari orang yang sudah dewasa tidak sepenuhnya tau apa yang diinginkan oleh anaknya yang sudah dewasa. Oleh karena itu orang dewasa harus cakap menggerakkan dirinya sendiri. Orang dewasa yang tidak pandai mengambil inisiatif atau menggerakkan dirinya pasti akan menjadi beban bagi orang lain, apakah dikarenakan tidak cakap, atau bahkan tidak berbuat apapun, bahkan ketika masalah sudah didepan mata. Itulah sebabnya calon mahasiswa yang juga merupakan calon orang dewasa harus diajarkan bagaimana menggerakkan dirinya sendiri, diajarkan bagaimana mengambil inisiatif.

Untuk bisa menggerakkan diri sendiri seseorang harus memiliki kepercayaan diri terhadap apa yang menjadi pilihannya. Itulah sebabnya orang dewasa harus diajarkan berfikir logis, sehingga apa yang menjadi pilihannya memiliki alasan-alasan kuat yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dirinya. Landasan berfikir logis sebenarnya telah ditanamkan di sekolah dalam bentuk pelajaran-pelajaran, namun seringkali pelajaran-pelajaran tersebut tidak kontekstual dalam kehidupan sehari-hari sehingga di Perguruan Tinggi, para dosen harus mengajarkan logika-logika tersebut dalam bentuk yang lebih kontekstual dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari mahasiswa.

Terdapat pepatah yang menyatakan “start from the end”. Pepatah ini menunjukkan kepada kita bahwa kita harus memulai cita-cita hidup kita mulai dari sekarang. Cita-cita hidup kita adalah sesuatu yang sangat penting yang harus kita upayakan untuk kita capai, untuk mencapainya tidak ada orang yang bisa memerintah-memerintah kita, karena orang lain tidak mengetahui apa yang menjadi cita-cita kita. Kita sendiri yang harus memerintah diri kita untuk memulai “perjalanan panjang” dalam mencapai cita-cita kita tersebut. Akan terdapat banyak godaan dalam upaya mencapai cita-cita tersebut, itulah sebabnya orang dewasa harus memiliki juga kecakapan untuk memilih dan mempertahankan pilihannya dengan keteguhan hati.

Kemampuan ketiga adalah kemampuan untuk menjadi pembelajar. Tida ada orang hidup yang menginginkan kehidupannya semakin lama semakin jelek. Semua orang menginginkan kehidupannya semakin lama semakin baik. Untuk bisa semakin lama semakin baik tersebut maka orang dewasa harus selalu belajar, karena hanya dengan belajar lah seseorang akan memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kemudian bergerak untuk berubah menjadi lebih baik. Perubahan dunia juga terus menerus terjadi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengahasilkan berbagai temuan baru yang terkadang merubah seluruh kehidupan manusia. Jika manusia tidak menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut, pasti akan menjadi manusia yang kedaluwarsa. Namun demikian, untuk bisa berubah manusia harus terus belajar tentang hal-hal baru tersebut.

Belajar tidak selalu dimaknai di sekolah atau lembaga pendidikan, kehidupan adalah tempat belajar terbaik, kehidupan adalah sekolah yang sesungguhnya. Calon mahasiswa harus terus menerus diberikan kesadaran akan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat ini. Untuk bisa selalu belajar manusia harus memiliki watak rendah hati, selalu merasa masih belum berilmu, dan memiliki keingitahuan yang tinggi.

Belajar adalah proses mental, tidak dapat hanya diukur dengan proses fisik semata. Oleh karena itulah orang belajar harus memiliki sikap mental yang baik. Jika dalam belajar orang sudah sombong, maka apa yang dipelajarinya tidak akan mampu diserap oleh orang yang sombong tersebut, karena begitu di dalam mental orang belajar tersebut mengatakan bahwa apa yang dipelajarinya sudah diketahuinya, atau mengatakan bahwa apa yang dipelajarinya adalah sesuatu yang basi, atau tidak penting, maka walaupun ber jam-jam orang tersebut diajari sesuatu akan terjadi penolakan dalam dirinya. Itulah sebabnya orang belajar harus memiliki kerendahan hati, dan selalu merasa bahwa pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya belum seberapa. Dengan memiliki watak ini, maka ilmu pengetahuan yang datang dari luar dirinya dapat masuk ke dalam mentalnya dan kemudian mendorong perubahan perilakunya.

Tidak kalah pentingnya bagi pembelajar adalah sikap mental yang memiliki keingintahuan tinggi, sikap mental ini akan menjadi pendorong seseorang untuk selalu memperbarui pengetahuannya dan kemudian mendorongnya untuk mencari informasi tentang hal-hal baru yang penting untuk dikuasainya. Hal-hal baru yang diketahuinya akan menjadi pilihan-pilihan penting dalam menentukan perubahan perilaku. Perubahan menuju kearah yang lebih baik.

Kemampuan keempat adalah kemampuan untuk hidup bersama orang lain dengan membahagiakan. Orang dewasa harus diajarkan untuk mampu hidup bersama dengan orang lain dan saling membahagiakan. Tidak ada orang dewasa yang tidak memerlukan kecakapan ini. Orang dewasa selalu akan hidup bersama orang lain, bahkan menjadi pemimpin bagi orang lain. Dalam skup kecil mungkin akan menjadi pendidik bagi anak-anaknya, mungkin menjadi kepala rumah tangga, mungkin akan menjadi pemimpin kelompok-kelompok di kampung, bahkan mungkin akan menjadi pemimpin di organisasi-organisasi baik dalam skala kecil maupun besar. Atau bahkan mungkin akan menjadi pemimpin dalam organisasi ditingkal lokal, nasional, bahkan internasional. Orang dewasa akan selalu hidup bersama orang lain.

Tentu saja hidup bersama yang dimaksud adalah bagaimana dalam hidup bersama tersebut terdapat pola hubungan yang saling membahagiakan, yang mana satu orang dengan orang lain akan menjadi sesuatu yang saling mampu membuat menyenangkan, bukan sebaliknya malah membuat orang satu dengan orang lain menjadi penghalang, atau bahkan saling menjatuhkan. Untuk mampu hidup bersama ini diperlukan banyak sekali kemampuan dasar, yang pada dasarnya adalah seperangkat kemampuan untuk dapat memahami orang lain dengan baik.

Kemampuan berempati atau berfikir sebagaimana yang orang lain pikirkan, kemampuan berbagi, berfikir positif terhadap orang lain, toleransi, tidak merendahkan dalam berkomunikasi, tidak sombong, tidak mudah iri hati dan dengki, dan berbagai sikap baik yang lain sering kali akan berdampak pada perilaku dalam berhubungan dengan orang lain. Kesemua ajaran nilai baik yang diajarkan dari masa kanak-kanak tersebut sebenarnya adalah disiapkan untuk mejadi perilaku di masa dewasa nantinya. Namun karena berbagai hal dalam kehidupan, dan seringkali juga karena teladan-teladan di masyarakat yang berkembang tidak mendukung tumbuhnya nilai-nilai baik yang diajarkan kepada anak-anak semasa sekolah, sehingga kemudian nilai-nilai tersebut tidak menjadi keyakinan bagi anak-anak yang tumbuh dewasa. Akibatnya kemudian ketika dewasa, nilai-nilai tersebut tidak menjadi dasar dalam perilaku anak-anak yang tumbuh dewasa. Oleh karena itu kemudian banyak orang dewasa yang justru tidak menyenangkan bagi orang lain, bahkan tidak mampu hidup bersama dengan baik.

Empat hal tersebut harus dikuasai oleh mahasiswa yang akan mentransformasi dari dunia anak-anak dan remaja menuju orang dewasa yang mumpuni. Selamat menjadi mahasiswa baru, dan tumbuhlah menjadi dewasa, kuat, mandiri, berkarakter, dan kemudian menjadi orang yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang.

(Author)