MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY | KAMPUS I - Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H. Basri, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa tidak ada program studi yang secara mutlak paling bergengsi atau paling menjanjikan. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa lebih ditentukan oleh ketekunan dan kecintaan terhadap bidang yang dijalani.
Pesan tersebut disampaikan Warek Basri saat memberikan pengarahan kepada mahasiswa di Gedung Sport Center UIN Malang, Selasa (18/8). Ia mendorong mahasiswa untuk tidak menjadikan popularitas suatu program studi sebagai ukuran utama dalam menentukan masa depan.
“Tidak ada prodi itu yang paling bergengsi. Yang membuat Anda itu bahagia dan yang membuat Anda sukses sebenarnya adalah ketekunan Anda,” ujarnya.
Menurut Warek Basri, setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan selama mampu menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pilihan bidang studi perlu diikuti dengan ketekunan agar ilmu dan kemampuan yang diperoleh dapat berkembang secara maksimal.
Selain ketekunan, Warek Basri menyebut terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan mahasiswa untuk mencapai keberhasilan, yakni kerja keras, membangun relasi dan kolaborasi, serta mengembangkan kepemimpinan.
Ia menilai kerja keras menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan. Keberhasilan tidak dapat diperoleh secara instan, melainkan membutuhkan konsistensi mahasiswa dalam belajar dan mengembangkan kemampuan.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu membangun relasi dengan lingkungan akademik. Hubungan yang baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa dapat membuka ruang untuk bertukar pengetahuan, pengalaman, dan peluang kolaborasi.
Dalam membangun komunikasi dengan dosen, beliau mengingatkan mahasiswa untuk tetap mengedepankan etika dan kesantunan. Menurutnya, kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan sikap yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain.
Warek Basri juga menekankan pentingnya kolaborasi antarmahasiswa. Perbedaan kemampuan dan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang, tetapi dapat menjadi kekuatan ketika mahasiswa mampu saling melengkapi.
“Dunia sekarang itu bukan dunia untuk bertengkar, untuk berkompetisi, tapi dunia berkolaborasi,” tegasnya.
Selain membangun relasi, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan melalui kegiatan organisasi dan aktivitas sosial di luar perkuliahan formal. Pengalaman tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa belajar mengambil keputusan, bekerja dalam tim, serta berkomunikasi dengan berbagai kalangan.
Menurutnya, kehidupan mahasiswa di UIN Malang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kegiatan organisasi dan interaksi sosial dapat menjadi ruang pembelajaran tambahan yang membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut menjelaskan keberadaan Ma’had sebagai bagian dari sistem pendidikan UIN Malang. Mahasiswa diwajibkan tinggal di Ma’had selama satu tahun sebagai bagian dari proses pembinaan akhlak dan moral sekaligus penguatan kemampuan bahasa Arab.
Keberadaan Ma’had tidak hanya berkaitan dengan kehidupan asrama, tetapi menjadi bagian dari upaya kampus membentuk mahasiswa yang memiliki karakter dan identitas keislaman. Penguatan bahasa Arab juga menjadi salah satu ciri yang mendukung lingkungan akademik UIN Malang.
Melalui pengarahan tersebut, Warek Basri mengajak mahasiswa untuk memandang perjalanan pendidikan sebagai proses yang membutuhkan ketekunan, kerja keras, kemampuan berkolaborasi, dan kepemimpinan. Beliau menekankan bahwa keberhasilan tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa bergengsi bidang yang dipilih, tetapi oleh seberapa serius mahasiswa menjalani dan mengembangkan potensinya.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk mengasah kompetensi akademik sekaligus membangun relasi dan karakter yang menjadi bekal dalam kehidupan setelah lulus.