MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan hanya tentang mengejar prestasi akademik. Mahasiswa juga perlu memahami cara melindungi diri, mengenali berbagai bentuk kekerasan, serta bijak menghadapi tantangan di era digital. Pesan tersebut disampaikan Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., Kepala Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saat memberikan materi dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas bagi mahasiswa UIN Malang Kampus 3 pada hari Rabu, 19 Agustus 2026, yang bertempat di Gedung Ar-Rahim.
Dalam pemaparannya, Aprilia mengajak mahasiswa baru mengenali berbagai bentuk kekerasan seksual yang dapat terjadi di lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak selalu berupa tindakan fisik, tetapi dapat terjadi dalam bentuk verbal, fisik, digital, psikologis, maupun melalui relasi kuasa.
Pemahaman mengenai batas-batas tersebut menjadi penting bagi mahasiswa karena interaksi mereka tidak hanya berlangsung di ruang perkuliahan. Lingkungan organisasi, pertemanan, tempat tinggal, hingga media sosial juga menjadi ruang yang memungkinkan terjadinya berbagai persoalan.
Mahasiswa pun diajak untuk mampu membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang telah melanggar batas. Kesadaran tersebut diperlukan agar mahasiswa dapat menjaga dirinya sekaligus menghormati hak dan batas pribadi orang lain.
“Siapa yang Umurnya 18 Tahun?”
Suasana pemaparan menjadi semakin interaktif ketika Aprilia memberikan pertanyaan kepada mahasiswa baru.
“Siapa yang di sini umur 18?” tanyanya.
Mayoritas mahasiswa mengaku masih berusia 18 tahun. Aprilia kemudian menjelaskan bahwa dalam konteks perlindungan anak, seseorang masih termasuk dalam kategori anak hingga berusia 18 tahun.
Penjelasan tersebut menjadi pengantar untuk menjawab pertanyaan mengapa keberadaan Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) penting di lingkungan perguruan tinggi. Menurut Aprilia, perlindungan tidak hanya diperlukan ketika sebuah persoalan telah terjadi, tetapi juga harus dilakukan melalui upaya pencegahan dan edukasi.
“PSGAD itu enggak hanya untuk menangani, tetapi juga merupakan promosi, kemudian pencegahan, edukasi, dan juga pendampingan,” jelas Aprilia.
Melalui empat pendekatan tersebut, PSGAD berupaya membangun kesadaran agar mahasiswa mampu mengenali persoalan sejak dini serta mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi situasi yang berisiko.
Pembahasan Aprilia tidak berhenti pada isu kekerasan seksual. Ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai berbagai tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, khususnya di ruang digital.
Pinjaman online (pinjol) dan judi online menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai. Kemudahan akses teknologi dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga membawa risiko apabila tidak digunakan secara bijak.
Mahasiswa juga perlu berhati-hati terhadap penyalahgunaan media digital, penipuan, dan keamanan data pribadi. Menjaga data pribadi menjadi penting karena kelalaian dalam ruang digital dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk penyalahgunaan.
Selain persoalan digital, mahasiswa juga diingatkan mengenai bahaya narkotika dan pergaulan berisiko. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama dan tidak cukup hanya diselesaikan secara individual.
Menariknya, mahasiswa juga didorong untuk tidak berhenti sebagai penerima edukasi. Mereka dapat menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan pengabdian.
Salah satunya melalui KKM Unggulan, yang dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk turun langsung memberikan edukasi mengenai persoalan sosial yang ada di masyarakat. Mahasiswa dapat berkontribusi dalam memberikan pemahaman mengenai bahaya narkotika, penyalahgunaan media digital, penipuan, keamanan data, hingga pergaulan berisiko.
Dengan demikian, ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Materi PSGAD dalam rangkaian PBAK Universitas tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa baru sebelum memulai kehidupan akademik. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan dunia perkuliahan, tetapi juga diajak memahami berbagai persoalan yang mungkin dihadapi selama menjadi mahasiswa.
Sebab, menjadi mahasiswa bukan sekadar tentang menjadi pintar. Lebih dari itu, mahasiswa dituntut mampu menjaga diri, menghormati sesama, bijak menggunakan teknologi, berani mencegah kekerasan, serta hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat.