Skip ke Konten

Dari Lorong Rektorat ke Aroma Kopi: Kisah Sunyi Sulistyawan Meracik Harapan

Produksinya pun tidak besar-besaran. Ia memilih cara sederhana. Membuat kopi sesuai pesanan, menjaga kesegaran, dan memastikan kualitas tetap terjaga. Semua dikerjakan sendiri, dibantu sang istri, di sela-sela waktu setelah pulang kerja.
27 April 2026 oleh
Dari Lorong Rektorat ke Aroma Kopi: Kisah Sunyi Sulistyawan Meracik Harapan
Ajay
Sore itu lantai tiga gedung rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terasa sibuk. Para pimpinan kampus tengah larut dalam rapat kerja. Suasana serius memenuhi ruangan. Namun di luar, ada ritme lain yang tak kalah menarik.
Seorang pria berambut pendek tampak hilir mudik, map terselip di ketiaknya. Sesekali ia menyapa siapa saja yang berpapasan. Wajahnya ramah, langkahnya cepat. Ia adalah Sulistyawan, karyawan UIN Malang yang diam-diam meracik mimpi dari secangkir kopi.
Di balik rutinitas kantornya, Sulistyawan menyimpan cerita panjang. Bukan cerita yang mulus. Justru penuh tikungan tajam, bahkan nyaris membuatnya berhenti di tengah jalan.
“Awalnya bukan kopi,” ujarnya pelan, sambil menggenggam map yang sejak tadi tak lepas dari tangannya.
Ia pernah mencoba usaha kue. Setahun dijalani dengan penuh tenaga. Nyaris tanpa tidur. Malam bekerja, dini hari bangun lagi. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga dan tanggung jawab hidup. Hasilnya memang ada, tetapi tubuhnya mulai menyerah.
“Saya kuat niat, tapi badan tidak bisa diajak kompromi,” katanya, tersenyum tipis.
Usaha itu akhirnya berhenti. Ia sempat mencoba jualan minuman. Berpindah-pindah usaha, tanpa benar-benar menemukan rasa nyaman. Sampai suatu hari, pikirannya tertambat pada satu kata sederhana: kopi.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Ia bukan barista, bukan pula lulusan bidang kuliner. Bahkan ia mengaku belajar dari nol. Tanpa guru. Tanpa resep pasti.
Eksperimen demi eksperimen ia lakukan di rumah. Dari kopi cokelat hingga racikan rempah yang tak lazim. Pernah suatu kali ia salah meracik bahan. Kencur dan kunyit bercampur tanpa takaran. Hasilnya bukan sekadar gagal.
Ia jatuh pingsan.
“Itu momen yang tidak saya lupa. Dari situ saya sadar, usaha itu bukan nekat saja, tapi juga butuh ilmu,” tuturnya.
Alih-alih berhenti, kejadian itu justru menjadi titik balik. Ia mulai belajar lebih serius. Membuka referensi, mencoba kombinasi baru, memahami karakter bahan. Dari situlah lahir racikan khas yang kemudian ia beri nama *Kopi Romojoyo*.
Kopi ini bukan sekadar minuman. Ada cerita di dalamnya. Ada proses jatuh bangun, ada keberanian mencoba, juga kejujuran menjaga kualitas. Sulistyawan memilih bahan dari berbagai daerah seperti Gunung Kawi dan Arjuno, tanpa pernah mengklaim berlebihan.
“Kalau bukan dari sana, ya saya bilang apa adanya. Saya tidak mau menipu pelanggan,” ucapnya tegas.
Produksinya pun tidak besar-besaran. Ia memilih cara sederhana. Membuat kopi sesuai pesanan, menjaga kesegaran, dan memastikan kualitas tetap terjaga. Semua dikerjakan sendiri, dibantu sang istri, di sela-sela waktu setelah pulang kerja.
Modal? Sebagian dari pinjaman bank. Alat pun tidak mewah. Tapi bagi Sulistyawan, yang terpenting bukan besar kecilnya usaha, melainkan keberkahan di dalamnya.
“Saya cuma ingin cari rezeki yang halal. Sedikit tidak masalah, yang penting berkah,” katanya.
Kini, Kopi Romojoyo mulai dikenal. Tidak dengan iklan besar atau promosi masif. Justru dari cerita ke cerita. Dari orang ke orang. Banyak yang menikmati, meski belum tentu tahu siapa peraciknya.
Ia tidak mempermasalahkan itu.
Bagi Sulistyawan, perjalanan ini belum selesai. Ia masih ingin berkembang. Membuka peluang bagi orang lain. Menciptakan lapangan kerja, meski dimulai dari langkah kecil.
Di tengah kesibukan kampus, kisahnya berjalan tanpa banyak sorot. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Sunyi, tapi konsisten. Sederhana, tapi penuh makna.
Dari lorong rektorat hingga dapur kecil di rumahnya, Sulistyawan membuktikan satu hal:

mimpi tidak selalu datang dari tempat besar. Kadang, ia tumbuh dari secangkir kopi yang diracik dengan ketekunan dan keyakinan.

di dalam Berita

Editor: Humas
Reporter: Abadi Wijaya
Fotografer: Ajay
Dari Lorong Rektorat ke Aroma Kopi: Kisah Sunyi Sulistyawan Meracik Harapan
Ajay 27 April 2026
Share post ini
Label
Arsip