KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Rapat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2026 kembali menegaskan satu hal penting: kerja besar tidak cukup dengan perencanaan, tetapi harus terlihat dalam data yang hidup dan bergerak. Dalam forum yang dihadiri jajaran pimpinan fakultas dan unit, Rektor Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si menyoroti detail yang sering luput, namun justru menentukan wajah kampus di mata publik website dan publikasi digital. Kamis, 16 April 2026.
Dengan nada tegas namun tetap cair, Rektor bahkan mengaku turun langsung mengecek satu per satu profil program studi di laman resmi kampus.
“Saya cek sendiri, bahkan sampai dini hari. Profil prodi itu harus benar dan lengkap,” ujarnya.
Hasilnya cukup beragam. Beberapa fakultas dinilai sudah mulai rapi dan tertata, tetapi tidak sedikit yang masih tertinggal. Padahal, menurut Rektor, website bukan sekadar etalase, melainkan pintu utama dunia mengenal kampus ini. “Kalau data dasar saja belum lengkap, bagaimana kita bicara reputasi global,” sindirnya.
Sorotan tidak berhenti di situ. Rektor juga memaparkan data aktivitas publikasi konten di website masing-masing fakultas sepanjang Januari hingga April 2026. Fakultas Humaniora tampil mencolok dengan lebih dari 170 publikasi, menjadi yang paling aktif. Sementara fakultas lain masih tertinggal jauh bahkan ada yang hanya mencatatkan belasan hingga puluhan konten.
Ketimpangan ini, menurutnya, harus segera diatasi. Sebab, visibilitas digital kini menjadi salah satu indikator penting dalam pemeringkatan global.
“Media website dan media sosial itu bukan pelengkap, tapi penentu. Dari situ dunia melihat kita,” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya kerja sama dengan media eksternal. Menurutnya, publikasi tidak cukup hanya berputar di internal kampus, tetapi harus menjangkau ruang yang lebih luas agar capaian UIN Malang terbaca secara nasional bahkan internasional.
Namun, di balik kritik tersebut, Rektor tetap mengapresiasi capaian yang telah diraih. Ia menyebut UIN Malang sebagai kampus yang “melompat” dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan peringkat yang signifikan, termasuk menembus posisi tiga besar dalam kategori tertentu di tingkat nasional. “Lompatan itu sudah terjadi. Sekarang tantangannya adalah menjaga agar tidak turun,” ujarnya.
Di sinilah kata kunci berikutnya muncul: keberlanjutan. Rektor menegaskan bahwa program kerja tidak boleh bersifat parsial atau sekadar meniru tahun sebelumnya. Setiap tahun membutuhkan strategi baru, menyesuaikan dengan posisi dan target yang ingin dicapai.
“Kalau dulu kita fokus lompat, sekarang bagaimana caranya bertahan dan naik lagi,” katanya.
Sebagai arah bersama, Rektor kembali mengingatkan visi besar UIN Malang: menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul dan bereputasi internasional, sekaligus berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas. Visi ini diterjemahkan dalam 21 Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi pedoman baru hingga 2029.
IKU tersebut, menurutnya, bukan sekadar dokumen administratif, tetapi peta jalan yang langsung berkaitan dengan akuntabilitas kinerja setiap unit. Karena itu, seluruh pimpinan diminta menjadikan IKU sebagai dasar dalam menyusun program kerja di masing-masing komisi.
Menariknya, Rektor juga mengaitkan semangat perubahan ini dengan momentum nilai-nilai inspiratif, seperti yang tercermin dalam semangat Kartini sebuah simbol keberanian untuk bergerak maju dan bertransformasi.
Rapat pimpinan ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum evaluasi. Ia menjelma sebagai ruang penyadaran kolektif: bahwa di era persaingan global, detail kecil seperti kelengkapan website hingga konsistensi publikasi bisa menentukan posisi besar sebuah institusi.
Dan di ruang itu, satu pesan terasa jelas UIN Malang sudah melompat, tetapi pekerjaan berikutnya jauh lebih menantang: menjaga ritme, memperkuat pijakan, dan terus naik tanpa kehilangan arah.