KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Suasana akademik yang dinamis terasa di Aula Rektorat lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat digelarnya Workshop Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) dan Penyusunan Mata Kuliah Keuniversitasan. Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi kampus untuk merumuskan arah pendidikan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga tetap berpijak pada identitas keislaman dan nilai peradaban.
Workshop tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik Basri. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa universitas modern tidak boleh semata-mata menilai ilmu berdasarkan popularitas maupun keuntungan ekonomi.
Mengutip pemikiran William Kirby dalam Empire of Ideas, Basri menjelaskan bahwa ada bidang-bidang ilmu yang harus tetap dipertahankan karena memiliki peran besar dalam memperdalam pemahaman manusia dan menjaga peradaban.
“Universitas bukan hanya tempat mencetak tenaga kerja, tetapi juga ruang menjaga pengetahuan, melahirkan gagasan, membangun identitas bangsa, hingga menghasilkan kemajuan ilmiah dan budaya,” jelasnya.
Menurutnya, perguruan tinggi yang kuat adalah kampus yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan, antara ilmu humaniora dan sains, serta antara identitas lokal dan daya saing global.
Dalam forum tersebut, Basri juga menyoroti praktik terbaik sejumlah universitas dunia seperti Harvard University, University of Oxford, dan McGill University yang tetap mempertahankan disiplin ilmu humaniora meskipun jumlah peminatnya kecil. Menurutnya, kebesaran universitas tidak diukur dari banyaknya mahasiswa semata, tetapi dari keluasan dan kedalaman ilmu yang dipertahankan.
Ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan pasar kerja terus berubah dengan cepat. Bidang-bidang yang dahulu dianggap kecil kini justru menjadi sangat strategis, seperti studi lingkungan, etika kecerdasan buatan, digital humanities, hingga kesehatan publik pasca pandemi global.
“Dulu ilmu kedokteran menjadi primadona sejak 1970 hingga awal 2000-an. Sekarang muncul dominasi baru seperti AI, data science, computer engineering, hingga school of business,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Basri turut mengulas sejarah berdirinya IAIN dan transformasinya menjadi UIN. Ia menegaskan bahwa lahirnya IAIN sejak awal bertujuan menjembatani dikotomi antara pesantren dan lembaga sekuler melalui pendekatan pendidikan modern.
Transformasi menjadi UIN, lanjutnya, merupakan upaya menghadirkan integrasi ilmu agama dan ilmu umum sekaligus menjawab tuntutan masyarakat terhadap lulusan yang kompetitif namun tetap memiliki fondasi moral yang kuat.
Kurikulum khas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dinilai memiliki keunikan tersendiri karena memadukan pembentukan karakter Islam, integrasi Islam dan sains, sistem ma’had, serta pendekatan Outcome-Based Education (OBE).
Basri menilai mata kuliah seperti Fiqih, Al-Qur’an Hadis, Sejarah Peradaban Islam, hingga Bahasa Arab akademik merupakan identitas penting perguruan tinggi Islam yang harus terus dipertahankan. Bahkan, ia menyoroti keberadaan lebih dari 120 dosen Bahasa Arab sebagai bagian dari kekuatan akademik kampus.
Selain membahas struktur kurikulum, forum juga menyinggung penguatan sistem ma’had. Basri mendorong agar aktivitas pembinaan moral dan spiritual mahasiswa diperkuat melalui praktik ibadah dan pembiasaan keagamaan yang lebih intensif.
“Ma’had harus lebih fokus pada pembinaan spiritual. Praktik membaca Al-Qur’an dan pengawasan ibadah berjamaah perlu diperkuat,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan penyesuaian jadwal Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) dengan model kelas pagi mulai pukul 06.30 hingga 08.00 dan tambahan sesi sore selama 90 menit agar pembelajaran lebih efektif.
Workshop ini menjadi langkah strategis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam merancang kurikulum masa depan yang tidak hanya relevan dengan perkembangan global, tetapi juga tetap menjaga ruh keislaman, integrasi ilmu, dan misi peradaban kampus.