Skip ke Konten

Membangun Peradaban dari Rumah: Catatan Hardiknas 2026 oleh Ketua Senat UIN Malang

Oleh: Nur Ali*
2 Mei 2026 oleh
Membangun Peradaban dari Rumah: Catatan Hardiknas 2026 oleh Ketua Senat UIN Malang
Ajay
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ada kegelisahan yang semakin nyata di tengah masyarakat: meningkatnya dekadensi moral, tekanan mental pada generasi muda, hingga fenomena bunuh diri yang kian mengkhawatirkan. Semua ini terjadi di era ketika akses pendidikan semakin terbuka dan teknologi, terutama media sosial, berkembang pesat.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: di mana yang perlu kita benahi?
Saya memandang bahwa akar persoalan bangsa ini masih sama, yaitu kebodohan yang melahirkan kemiskinan. Maka, jalan keluarnya pun tidak berubah: meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan yang baik tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk moralitas dan peradaban.
Namun, kita juga harus jujur melihat kenyataan. Banyak individu terdidik, bahkan berasal dari institusi terbaik, tetap rentan secara mental. Mudah stres, kehilangan arah, dan tidak memiliki daya tahan menghadapi tekanan hidup. Ini menunjukkan bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya menyentuh aspek kemanusiaan yang utuh.
Sebagai pendidik sekaligus peneliti di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya melihat ada dua komponen mendasar yang harus segera diperkuat: kurikulum dan kualitas pendidik.
Kurikulum tidak boleh stagnan. Ia harus terus berinovasi, menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual. Di sisi lain, guru dan dosen tidak cukup hanya dituntut profesional, tetapi juga harus sejahtera dan bahagia. Pendidik yang merasa dihargai akan mengajar dengan hati, bukan sekadar menjalankan kewajiban. Dari situlah lahir proses pendidikan yang hidup.
Lebih jauh, kita tidak boleh melupakan fondasi utama pembentukan moral keluarga. Moralitas bangsa tidak dimulai di ruang sidang atau kantor pemerintahan, tetapi dari rumah. Kedisiplinan, kesopanan, dan keteladanan pertama kali diajarkan di lingkungan keluarga, lalu diperkuat di lembaga pendidikan.
Jika keluarga dan sekolah mampu berjalan selaras, masyarakat akan ikut terbentuk dengan baik. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh dan lembaga pendidikan kehilangan arah, dampaknya akan terasa luas hingga ke tatanan sosial dan negara.
Karena itu, membangun peradaban tidak bisa hanya dibebankan pada kampus atau sekolah. Kita perlu memperkuat keluarga sebagai “madrasah pertama”. Program-program pendidikan ke depan harus mulai serius memasukkan aspek pendidikan keluarga sebagai prioritas.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi di bidang pendidikan dan kesejahteraan keluarga juga perlu dikaji ulang. Efisiensi memang penting, tetapi jangan sampai mengorbankan kualitas pendidikan. Dari keluarga dan lembaga pendidikanlah lahir manusia-manusia berkualitas yang akan menentukan masa depan bangsa.
Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk kembali ke hal yang paling mendasar yaitu membangun manusia seutuhnya. Dan itu dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, lalu tumbuh dalam masyarakat.
Kalau fondasinya kokoh, kita tidak perlu khawatir pada masa depan. Jika sebaliknya, sebaik apa pun sistem yang dibangun, hasilnya tidak akan bertahan lama.

*Guru Besar & Ketua Senat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


di dalam Opini

Editor: Humas
Reporter: Abadi Wijaya
Fotografer: Ajay
Membangun Peradaban dari Rumah: Catatan Hardiknas 2026 oleh Ketua Senat UIN Malang
Ajay 2 Mei 2026
Share post ini
Label
Arsip