Skip to Content

Bangun Resiliensi Sejak Bangku Kuliah, Naila Kamaliya Ajak Mahasiswa Psikologi Berani Menghadapi Kegagalan

Bangun Resiliensi Sejak Bangku Kuliah, Naila Kamaliya Ajak Mahasiswa Psikologi Berani Menghadapi Kegagalan
August 24, 2026 by
Bangun Resiliensi Sejak Bangku Kuliah, Naila Kamaliya Ajak Mahasiswa Psikologi Berani Menghadapi Kegagalan
Amelia Dea Divanda

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membekali mahasiswa baru dengan kemampuan membangun resiliensi dan karakter melalui materi pengembangan diri dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Psikologi, pada Minggu, 23 Agustus 2026, bertempat di Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Materi tersebut disampaikan oleh Naila Kamaliya, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang mengajak mahasiswa baru yang dikenal sebagai Dirgantara Muda 2026 untuk memahami pentingnya resiliensi sebagai kemampuan menghadapi tekanan, kegagalan, kritik, maupun berbagai tantangan selama menjalani kehidupan perkuliahan.

Dalam pemaparannya, Naila menjelaskan bahwa membangun resiliensi dapat dilakukan melalui beberapa kemampuan utama. Salah satunya adalah growth mindset, yakni memandang kegagalan bukan sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan sebagai data yang dapat digunakan untuk belajar dan berkembang.

“Perlakukan kegagalan sebagai data untuk belajar,” jelasnya.

Selain growth mindset, mahasiswa juga diajak menerapkan cognitive reframing, yaitu melatih diri untuk mengubah cara memaknai tekanan maupun kritik. Menurutnya, suatu tekanan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan berkembang.

Naila juga memperkenalkan pentingnya support system dalam membangun resiliensi. Ia menekankan bahwa kemampuan bertahan bukan berarti seseorang harus menanggung seluruh persoalan seorang diri.

“Resiliensi bukan soal menanggung sendirian. Justru sebagian dari skill itu adalah tahu kapan dan kepada siapa kita harus meminta bantuan,” jelasnya.

Selain itu, mahasiswa didorong untuk menerapkan values-based decision making, yaitu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang diyakini. Kemampuan tersebut juga perlu diimbangi dengan regulasi emosi, sehingga mahasiswa mampu mengenali, mengelola, dan merespons emosinya dengan cara yang tepat ketika menghadapi berbagai situasi.

Tidak hanya membahas resiliensi, Naila juga mengaitkannya dengan komunikasi dan etika sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi asertif menjadi salah satu kemampuan yang perlu dimiliki mahasiswa. Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan perasaan, kebutuhan, maupun pendapat secara jelas tanpa menyakiti orang lain.

Hal tersebut berbeda dengan komunikasi pasif-agresif yang cenderung menyampaikan ketidaksetujuan atau kebutuhan secara tidak langsung. Karena itu, mahasiswa perlu belajar menyampaikan apa yang dirasakan dan dibutuhkan secara terbuka, tetapi tetap menghargai orang lain.

Untuk membuat materi lebih reflektif, Naila kemudian meminta mahasiswa baru mengambil selembar kertas atau menggunakan notes yang mereka miliki. Ia memberikan dua pertanyaan sederhana tetapi memiliki makna mendalam.

Mahasiswa diminta menuliskan satu tantangan yang sedang mereka hadapi saat ini dan satu nilai yang ingin mereka pegang ketika menghadapi tantangan tersebut.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berhenti sejenak dan mengenali kondisi diri masing-masing di tengah proses memasuki kehidupan sebagai mahasiswa.

Setelah mahasiswa menyelesaikan tulisan mereka, Naila membacakan beberapa jawaban yang telah dituliskan. Salah satu jawaban mahasiswa mengungkapkan keinginan untuk berusaha lebih terbuka dalam menghadapi persoalan yang sedang dihadapi.

Suasana kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Mahasiswa baru diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan maupun pengalaman yang berkaitan dengan resiliensi, komunikasi, pengelolaan emosi, serta tantangan yang mungkin mereka hadapi selama menjalani kehidupan perkuliahan.

Melalui materi tersebut, PBAK Fakultas Psikologi tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan lingkungan akademik, tetapi juga menjadi momentum bagi Dirgantara Muda 2026 untuk mengenali dirinya, membangun ketahanan mental, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan menjadi mahasiswa.

Dengan memahami bahwa kegagalan dapat menjadi bahan untuk belajar, tekanan dapat dimaknai kembali, dan setiap individu tidak harus menghadapi persoalan sendirian, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, beretika, dan memiliki karakter kuat.


Editor: Humas
Reporter: Amelia Dea Divanda
Fotografer: Dhafa Afriandito P
Bangun Resiliensi Sejak Bangku Kuliah, Naila Kamaliya Ajak Mahasiswa Psikologi Berani Menghadapi Kegagalan
Amelia Dea Divanda August 24, 2026
Share this post
Tags
Archive