Skip ke Konten

Agama Bukan Penyebab Krisis Lingkungan, Guru Besar UIN Malang Tawarkan Paradigma Baru Eco-Activism Islam

21 Juli 2026 oleh
Agama Bukan Penyebab Krisis Lingkungan, Guru Besar UIN Malang Tawarkan Paradigma Baru Eco-Activism Islam
Ajay
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga hilangnya keanekaragaman hayati, muncul satu pertanyaan besar: Apakah agama masih memiliki peran dalam menyelamatkan bumi?

Bagi Prof. Dr. Bakhruddin Fannani, M.A., Guru Besar Sosiologi Gerakan Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, jawabannya sangat jelas. Agama bukanlah penyebab krisis ekologis, melainkan dapat menjadi kekuatan transformatif yang menggerakkan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

Gagasan tersebut ia tuangkan dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Rethinking Religion and the Ecological Crisis: Paradigma Eco-Activism Islam dalam Gerakan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai Guardian of Ecology Berkelanjutan di Indonesia."


Menantang Teori Lama tentang Agama dan Lingkungan
Selama puluhan tahun, wacana hubungan agama dan lingkungan banyak dipengaruhi oleh pemikiran sejarawan Amerika, Lynn White Jr., yang menyatakan bahwa ajaran agama, khususnya tradisi Abrahamik, turut melahirkan cara pandang manusia yang eksploitatif terhadap alam.

Namun, Prof. Bakhruddin menawarkan perspektif berbeda. Berdasarkan realitas sosial di Indonesia, agama justru menunjukkan kemampuannya membangun kesadaran ekologis, menggerakkan masyarakat, serta melahirkan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

"Ketika alam dipandang hanya sebagai objek eksploitasi, lahirlah krisis ekologis. Sebaliknya, ketika alam dipahami sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga, maka akan tumbuh peradaban yang menjunjung keseimbangan, keberlanjutan, dan keadilan ekologis," jelasnya.


Melahirkan Paradigma Baru: Eco-Activism Islam
Kontribusi utama penelitian ini adalah lahirnya konsep Eco-Activism Islam, sebuah paradigma baru dalam Sosiologi Gerakan Islam yang menjelaskan bagaimana nilai-nilai teologi dapat ditransformasikan menjadi gerakan sosial yang berdampak nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Paradigma ini menempatkan agama bukan sekadar sebagai kumpulan ajaran normatif atau ritual keagamaan, tetapi sebagai energi sosial yang mampu membangun kesadaran kolektif, memobilisasi masyarakat, serta menghasilkan perubahan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan dan keberlanjutan bumi.

Menurut Prof. Bakhruddin, kekuatan agama terletak pada kemampuannya menghubungkan spiritualitas dengan aksi nyata melalui jaringan pesantren, sekolah, perguruan tinggi, masjid, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal.


NU dan Muhammadiyah sebagai Penjaga Ekologi
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, telah memainkan peran strategis sebagai guardian of ecology atau penjaga keberlanjutan lingkungan.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, gerakan ekologis berkembang melalui reinterpretasi teologi Ahlussunnah wal Jamaah yang diwujudkan dalam berbagai program, seperti pesantren ekologi, konservasi mangrove, perlindungan sumber mata air, fatwa lingkungan, advokasi terhadap eksploitasi sumber daya alam, hingga gerakan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA).

Sementara itu, Muhammadiyah mengembangkan teologi Al-Ma'un menjadi gerakan pembebasan ekologis melalui Kader Hijau Muhammadiyah, Majelis Lingkungan Hidup, pengembangan green campus, pendidikan lingkungan, konservasi air, energi terbarukan, hingga dakwah keadilan ekologis.

Berbagai gerakan tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam mampu diterjemahkan menjadi praktik sosial yang konkret dalam menjaga kelestarian bumi.


Dari Spiritualitas Menuju Aksi Nyata
Menurut Prof. Bakhruddin, keberhasilan kedua organisasi tersebut membuktikan bahwa agama memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan global.

Dalam paradigma *Eco-Activism Islam*, teologi tidak berhenti sebagai wacana keagamaan, tetapi menjadi fondasi lahirnya kepemimpinan, gerakan sosial, jaringan komunitas, serta aksi kolektif yang berorientasi pada keberlanjutan kehidupan.

Paradigma ini juga memperkaya khazanah keilmuan Sosiologi Gerakan Islam dengan menghadirkan perspektif baru bahwa transformasi sosial tidak hanya digerakkan oleh faktor politik maupun ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat.


Kontribusi Indonesia bagi Dunia
Lebih jauh, penelitian ini memperlihatkan bahwa pengalaman Islam Indonesia memiliki nilai strategis bagi perkembangan studi agama dan lingkungan di tingkat global.

Selama ini, pembahasan mengenai agama dan ekologi banyak berpusat pada kritik terhadap agama sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Melalui pengalaman NU dan Muhammadiyah, Indonesia justru menawarkan narasi baru bahwa agama dapat menjadi motor perubahan menuju peradaban yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan.

Bagi Prof. Bakhruddin, masa depan bumi tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi atau kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kemampuan agama membangun kesadaran moral kolektif.

"Islam Indonesia menunjukkan bahwa spiritualitas bukan penghalang bagi kemajuan, melainkan energi yang mampu menggerakkan masyarakat untuk menjaga bumi sebagai amanah Ilahi. Ketika nilai-nilai agama bertemu dengan aksi sosial, lahirlah gerakan ekologis yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga membangun peradaban yang berkelanjutan," pungkasnya.
di dalam Artikel

Editor:
Reporter:
Fotografer:
Agama Bukan Penyebab Krisis Lingkungan, Guru Besar UIN Malang Tawarkan Paradigma Baru Eco-Activism Islam
Ajay 21 Juli 2026
Share post ini
Label
Arsip