Skip to Content

Mereset Pemahaman Islam: Kembali kepada Esensi Tauhid dan Kemanusiaan

Oleh: Prof. Dr. H. Samsul Hady Guru Besar Bidang Pemikiran Islam Modern UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
July 22, 2026 by
Mereset Pemahaman Islam: Kembali kepada Esensi Tauhid dan Kemanusiaan
Ajay
Ketika Islam Terlalu Sempit Dipahami

Di era digital, umat Islam memiliki akses yang sangat luas terhadap pengetahuan agama. Ribuan ceramah, fatwa, hingga diskusi keislaman dapat diakses hanya melalui telepon genggam. Ironisnya, kemudahan tersebut tidak selalu melahirkan kedewasaan beragama. Sebaliknya, kita justru sering menyaksikan perdebatan yang tidak berujung, saling menghakimi, bahkan menganggap kelompok lain keluar dari ajaran Islam hanya karena perbedaan dalam persoalan-persoalan teknis keagamaan.

Fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar. Apakah kita masih memahami Islam sebagaimana Allah menghendakinya, ataukah kita justru lebih sibuk mempertahankan tafsir dan tradisi yang kita anggap paling benar?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak perlunya melakukan reset terhadap cara kita memahami Islam. Reset bukan berarti mengubah ajaran agama, melainkan mengembalikan cara pandang kita kepada inti ajaran yang dibawa seluruh nabi, yaitu tauhid, kemanusiaan, keadilan, dan kasih sayang.

Islam Jalan Besar, Bukan Jalan Menyempit
Islam pada hakikatnya merupakan ajaran universal yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup seluruh manusia. Karena itu, Islam tidak semestinya dipersempit hanya menjadi kumpulan aturan teknis, simbol-simbol keagamaan, atau identitas kelompok tertentu.

Jika syariat diibaratkan sebuah jalan, maka Islam adalah jalan raya yang dapat dilalui oleh siapa saja. Setiap orang berjalan sesuai kemampuan, kondisi, dan tahap kehidupannya. Ada yang berlari, ada yang berjalan perlahan, bahkan ada yang baru belajar melangkah. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk mendekat kepada Allah.

Cara pandang seperti ini membuat Islam hadir sebagai agama yang memudahkan, bukan memberatkan. Agama menjadi ruang bertumbuh, bukan alat untuk menghakimi sesama.


Ukuran Keberagamaan Dimulai dari Hati
Pesan sederhana namun sangat mendalam pernah disampaikan oleh KH. Maimun Zubair atau Mbah Moen. Beliau mengingatkan bahwa apabila seseorang belum mampu memperbanyak ibadah sunnah, jangan sampai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu hati yang baik.

Menurut beliau, tidak ada gunanya seseorang rajin berzikir, membaca Al-Qur'an, mengikuti tahlil, atau melaksanakan salat tahajud apabila masih gemar mencela, menggunjing, dan menyimpan kebencian kepada orang lain.

"Tirakat yang paling hebat adalah memiliki hati yang baik, bukan hati yang dipenuhi kebencian."

Pesan ini mengembalikan perhatian kita bahwa kualitas seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ritual, tetapi juga dari akhlak yang ia tampilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan Menggantikan Allah dengan Simbol
Gagasan serupa juga disampaikan oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut beliau, seseorang perlu berhati-hati agar tidak tanpa sadar mempertuhankan sesuatu selain Allah.

Apabila seseorang membenci orang lain hanya karena tidak mampu membaca Al-Qur'an, boleh jadi yang diagungkan bukan lagi Allah, melainkan simbol-simbol agama. Demikian pula ketika seseorang memusuhi orang yang berbeda agama atau berbeda pandangan, sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukan lagi nilai ketuhanan, tetapi identitas kelompok.

Bagi Gus Dur, bukti seseorang benar-benar bertuhan kepada Allah adalah kemampuannya menghormati seluruh ciptaan-Nya. Sebab Allah sendiri adalah Tuhan bagi seluruh alam semesta, bukan hanya bagi satu golongan.


Kembali Pada Pesan Moral Al-Qur'an
Mereset pemahaman Islam juga berarti kembali menggali pesan moral universal yang terkandung dalam Al-Qur'an. Inilah yang banyak dikembangkan oleh para pemikir Islam modern.

Fazlur Rahman, misalnya, mengajak umat Islam memahami Al-Qur'an melalui nilai-nilai moral yang bersifat universal, bukan sekadar membaca teks secara literal. Nilai-nilai keadilan, kejujuran, persamaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus menjadi orientasi utama dalam membaca wahyu.

Mahmud Muhammad Thaha mengembangkan gagasan bahwa nilai-nilai universal yang terdapat dalam ayat-ayat Makkiyah layak dijadikan fondasi dalam membangun masyarakat modern. Nilai tersebut dapat terus diaktualisasikan melalui ijtihad sesuai kebutuhan zaman.

Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa Islam merupakan kelanjutan agama Nabi Ibrahim, agama yang hanif, terbuka, toleran, dan membawa kemudahan bagi manusia.

Sementara itu, Munawir Sjadzali menegaskan pentingnya aktualisasi ajaran Islam agar tetap mampu menjawab perubahan sosial. Muhammad Abduh dan Harun Nasution memperlihatkan bahwa akal merupakan anugerah Allah yang harus digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memecahkan persoalan kehidupan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian."

Hassan Hanafi bahkan mengajak umat Islam menghidupkan kembali warisan intelektual Islam (Ihya' al-Turats al-Islami) agar tradisi keilmuan Islam terus berkembang dan mampu melahirkan perubahan sosial yang lebih adil dan berkeadaban.


Perbedaan Bukan Ancaman
Salah satu persoalan yang masih sering muncul di tengah umat adalah kecenderungan menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling menyalahkan.

Padahal dalam sejarah Islam, keberagaman pandangan justru menjadi sumber kekayaan intelektual. Para ulama berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, tetapi tetap saling menghormati.

Karena itu, perbedaan (ikhtilaf) seharusnya dipahami sebagai rahmat yang membuka ruang dialog dan pembelajaran. Yang harus dihindari adalah berubahnya perbedaan menjadi perpecahan (iftiraq) yang merusak persaudaraan umat.


Islam dan Semangat Ijtihad
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya berhenti berpikir. Justru sepanjang sejarah, peradaban Islam berkembang karena keberanian para ulama melakukan ijtihad, membaca realitas, dan mencari solusi bagi persoalan zamannya.

Mereset pemahaman Islam berarti menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan berani menghadirkan jawaban baru tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Al-Qur'an dan Sunnah.

Dalam semangat tersebut, agama tidak dipahami sebagai sesuatu yang membatasi kreativitas manusia, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang lebih baik.


Islam Jalan Kebaikan Universal
Pada akhirnya, mereset pemahaman Islam bukanlah upaya meninggalkan tradisi, apalagi mengubah ajaran agama. Yang dilakukan adalah membersihkan cara pandang kita dari sikap beragama yang sempit agar kembali kepada inti risalah Allah.

Islam hadir untuk memuliakan manusia, menghadirkan keadilan, menumbuhkan kasih sayang, dan membimbing kehidupan menuju kemaslahatan bersama.

Sebagaimana diungkapkan oleh Hidajat Nataatmadja, agama tidak diturunkan untuk mempersulit manusia, melainkan untuk membimbing manusia menghadapi tantangan kehidupan. Kesulitan memang merupakan bagian dari ujian, tetapi di balik setiap kesulitan selalu tersimpan hikmah. Karena itu, jihad dan ijtihad adalah proses yang tidak pernah berhenti dalam perjalanan umat manusia.

Mereset pemahaman Islam pada akhirnya adalah ikhtiar untuk kembali menempatkan Allah sebagai pusat keberagamaan, menjadikan akhlak sebagai ukuran utama, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.



Editor:
Reporter:
Fotografer:
Mereset Pemahaman Islam: Kembali kepada Esensi Tauhid dan Kemanusiaan
Ajay July 22, 2026
Share this post
Tags
Archive