Skip ke Konten

11 Mahasiswa UIN Malang Lolos Google Student Ambassador, Bawa Misi Ubah Stigma AI di Kampus

10 April 2026 oleh
11 Mahasiswa UIN Malang Lolos Google Student Ambassador, Bawa Misi Ubah Stigma AI di Kampus
Ajay
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Kabar membanggakan datang dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebanyak 11 mahasiswanya berhasil lolos dalam ajang bergengsi Google Student Ambassador (GSA), sebuah program global yang diinisiasi oleh Google untuk menjaring talenta muda di bidang teknologi. Jumat, 10 April 2026.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Moh. Azka Fariqi. Dalam wawancara Reporter Humas, Azka mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengikuti program ini sudah muncul sejak tahun lalu, meski saat itu ia belum sepenuhnya memahami manfaatnya.
“Setelah saya cari tahu, ternyata benefit-nya banyak sekali. Mulai dari kesempatan mengikuti Google Office Tour di Jakarta sampai berbagai welcome kit menarik,” ujarnya.
Namun, bagi Azka, pencapaian ini bukan sekadar prestise. Ia membawa misi yang cukup “berani”: menghapus stigma negatif terhadap kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kampus.
Menurutnya, masih banyak mahasiswa yang memandang penggunaan AI sebagai bentuk kecurangan. Padahal, realitasnya teknologi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “AI itu bukan untuk menggantikan manusia, tapi sebagai asisten untuk meningkatkan produktivitas,” tegasnya.
Perjalanan menuju GSA sendiri bukan hal mudah. Dari sekitar 81 ribu pendaftar, hanya sekitar 2 ribu yang diterima. Azka mengaku sempat terkejut saat dinyatakan lolos. Ia menilai titik krusial seleksi ada pada challenge kedua, di mana peserta diminta membuat video strategi.
Di tahap inilah ia memperkenalkan inovasinya yang disebut *Nexora Method*, sebuah pendekatan dalam merancang prompt AI secara lebih terarah. Awalnya ragu mengklaim sebagai karya pribadi, Azka justru mendapat dorongan dari dosen untuk percaya diri dengan idenya sendiri.
“Di situ saya belajar, kadang yang kita anggap biasa saja, justru bisa jadi pembeda,” katanya.
Tantangan lain datang saat tahap seleksi bertepatan dengan momen Idulfitri. Di tengah suasana mudik, ia tetap harus menyelesaikan produksi konten promosi untuk berbagai tools Google seperti Gemini dan NotebookLM. Time management jadi kunci, dan pengalaman hidup disiplin di Ma’had UIN Malang menjadi bekal penting.
Ke depan, Azka berencana fokus meningkatkan kemampuan *prompting* mahasiswa di kampus. Ia melihat masih banyak yang menggunakan AI secara asal, sehingga hasilnya kurang maksimal. Melalui workshop dan sesi berbagi, ia ingin membantu mahasiswa memanfaatkan AI secara lebih cerdas dan terarah.
Tidak hanya itu, tim GSA UIN Malang juga tengah menyiapkan berbagai program kreatif untuk mengenalkan ekosistem Google, khususnya Gemini dan NotebookLM, agar lebih dekat dengan kebutuhan akademik mahasiswa.
Azka juga menyoroti peran strategis mahasiswa UIN Malang di era digital. Menurutnya, mereka berada di persimpangan unik antara nilai religius dan penguasaan teknologi. Posisi ini membuat mereka berpotensi menjadi “jembatan etis” dalam pemanfaatan teknologi.
“Mahasiswa kita harus bisa jadi pionir. Bukan cuma update teknologi, tapi juga tetap membawa nilai kemanusiaan,” jelasnya.
Meski begitu, ia tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang dihadapi mahasiswa Indonesia di level global. Mulai dari rasa kurang percaya diri, keterbatasan akses teknologi, hingga kemampuan bahasa dan networking yang masih perlu ditingkatkan.
“Padahal secara kemampuan, kita tidak kalah. Tinggal bagaimana kita berani tampil dan cepat beradaptasi,” pungkasnya.
Keberhasilan 11 mahasiswa ini bukan hanya soal lolos seleksi, tetapi juga sinyal bahwa kampus berbasis keislaman seperti UIN Malang mampu melahirkan talenta digital yang siap bersaing di panggung global.


di dalam Berita

Editor: Humas
Reporter:
Fotografer: Tim
11 Mahasiswa UIN Malang Lolos Google Student Ambassador, Bawa Misi Ubah Stigma AI di Kampus
Ajay 10 April 2026
Share post ini
Label
Arsip