MALIKI ISLAMIC
UNIVERSITY-Membicarakan
pengelolaan jurnal ilmiah yang berkualitas tinggi serta berstandar
internasional memang tidak cukup hanya dari satu sisi. Ada banyak aspek yang
bisa dieksplorasi, seperti sumber daya manusia, sarana, administrasi, dan
diseminasi. Dukungan institusi tentu sangat krusial. Pusat Publikasi Ilmiah-LP2M
menjadi wadah bagi pengelola jurnal di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang agar dapat memperoleh berbagai informasi terkait aspek-aspek tersebut.
Workshop “Road to Scopus: Penguatan Jurnal Menuju Reputasi Internasional”
diselenggarakan untuk memberikan wawasan mengenai manajemen jurnal ilmiah berskala
global, Rabu, 15 Juli 2026.
Saat membuka
acara di Ruang Meeting LPM Gedung Rektorat Lt.4, Prof. Dr. Rohmani Nur Indah,
M.Pd. (Kepala Pusat Publikasi Ilmiah) menyatakan bahwa setiap agenda unitnya
bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelola. Dengan begitu, standar mutu jurnal ilmiah di UIN Malang pun akan ikut meningkat. Hal ini ditandai dengan
semakin banyaknya jurnal yang telah terindeks di berbagai lembaga internasional,
seperti Scopus, WoS, DOAJ, dan sebagainya. Berbagai program dirancang oleh PPI-LP2M
untuk mendukung peningkatan akreditasi kampus. “Saya mengajak para pengelola
untuk bersama-sama memantapkan langkah. Jurnal-jurnal di UIN Malang harus bereputasi
internasional. Mari bawa jurnal kita mendunia,” tegasnya.
Untuk mempelajari
tata kelola jurnal berskala global, Nur Hayati, S.Pd., M.Ed., Ph.D. (Managing
Editor Jurnal TEFLIN) diundang untuk berbagi pengalaman. Jurnal TEFLIN sangat
dikenal oleh akademisi dan peneliti di bidang English as a Foreign Language
(EFL). Jurnal yang dikelola oleh Asosiasi TEFLIN dan Universitas Negeri Malang ini telah
terindeks di Scopus sejak Oktober 2018. Setidaknya ada tiga aspek manajemen Jurnal
TEFLIN, yakni: proses manuskrip, OJS dan korespondensi email, serta indeksasi,
promosi, dan kerjasama.

Nur Hayati menekankan
agar pengelola jurnal konsisten mengikuti alur pemrosesan naskah. Sepanjang
apapun alurnya, tetap harus diikuti. “Melelahkan, tapi jika yang kita dapat adalah
naskah yang berkualitas, maka hasilnya kembali ke kita juga,” imbuh alumni
Monash University, Australia tersebut. Di jurnalnya sendiri, sebelum melalui
tahap peer-review, naskah telah ditelaah oleh tim editor terlebih dahulu (initial
review). Tahapan ini menyaring beberapa hal, seperti: apakah naskah sesuai
dengan tujuan dan cakupan jurnal, mengikuti petunjuk kepenulisan, kualitas
bahasa, serta otentisitas naskah. Sehingga pada saat peer-review, naskah akan lebih
difokuskan pada konten. “Tahapan initial screening dari editor ini sangat penting agar naskah yang kita dapat tidak terlalu jelek,” tambahnya. (nd)