MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Berawal dari sebuah candaan untuk mencoba lomba menulis, dua mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang justru berhasil meraih Terbaik 1 Lomba Esai Kependidikan Mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh FORDETAK (Forum Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan) UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia pada 12–14 Agustus 2026.
Prestasi tersebut diraih oleh Yustika Berlian Cindy Aprillia, mahasiswa Program Studi Tadris Matematika semester 7, dan Adhelya Putri Dyani, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris semester 9. Keduanya menjadi delegasi FITK UIN Malang setelah melalui proses seleksi yang dilakukan oleh pihak fakultas.
Dalam perlombaan tersebut, peserta terlebih dahulu mendaftarkan diri secara mandiri dengan membawa surat rekomendasi dari fakultas. Setelah itu, peserta diberikan waktu untuk menyusun dan mengirimkan karya melalui tautan yang disediakan panitia. Seluruh rangkaian perlombaan dilaksanakan secara daring dan pemenang langsung diumumkan tanpa melalui babak final.
Mengangkat isu “AI untuk Media Pembelajaran bagi Siswa Difabel dalam Kelas Inklusif”, Yustika dan Adhelya berusaha menghadirkan gagasan yang tidak hanya membahas persoalan pendidikan inklusif, tetapi juga menawarkan inovasi sebagai solusi.
“Kami memilih topik ini karena concern terhadap program kelas inklusif masih kurang. Siswa difabel masih belum mendapat fasilitas yang layak di banyak sekolah inklusif,” ungkap keduanya.
Ide tersebut bermula dari sebuah film yang mengangkat kisah siswa disleksia yang berjuang meraih mimpinya. Dari sana, keduanya terdorong untuk menggali lebih jauh kondisi nyata siswa difabel melalui berbagai data empiris dan referensi.
Setelah data terkumpul, mereka menyusun outline sebagai kerangka utama sebelum mengembangkannya menjadi esai utuh. Proses penulisan berlangsung sekitar dua minggu. Tantangan terbesar justru muncul ketika mereka harus menentukan solusi yang tepat terhadap persoalan yang diangkat.
“Goals kami untuk esai ini bukan hanya mereview masalah, melainkan ingin menemukan inovasi yang bisa membantu mengatasinya,” jelas mereka.
Menariknya, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut tidak diawali dengan target untuk menjadi juara. Keduanya justru berangkat dari keberanian untuk mencoba. Bagi mereka, rasa tidak percaya diri sering kali muncul karena mahasiswa terlalu memikirkan kualitas karya dan hasil akhir sebelum benar-benar mencoba.
“Mulai aja tanpa mikir menang kalahnya. Darimana kita bisa tahu kualitas esai kalau tidak diikutkan lomba? Maka dari itu, slogan yang kami pegang adalah coba aja dulu" tutur mereka.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka peluang yang tidak terduga. Dari sebuah candaan sederhana, Yustika dan Adhelya berhasil membawa nama FITK UIN Malang menjadi Terbaik 1 dalam kompetisi esai kependidikan tingkat nasional.