Skip to Content

Menag Raih Penghargaan Pengembangan Wisata Religi

September 15, 2026 by
Menag Raih Penghargaan Pengembangan Wisata Religi
Ajay
Sanur, Bali | MALIKII ISLAMIC UNIVERSITY - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kembali mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan pariwisata berbasis keagamaan dan budaya. Dalam ajang 11th Bali Tourism Awards 2026, Menag dianugerahi penghargaan bergengsi Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development. Senin, 14 September 2026.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Indonesia Travel & Tourism Awards (ITTA) Foundation dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Sanur, Bali. Menteri Agama diwakili Staf Khusus Bidang Kerukunan, Gugun Gumilar, untuk menerima penghargaan tersebut.

“Semalam, saya mewakili Menteri Agama menerima Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development dari Indonesia Travel & Tourism Awards (ITTA) Foundation,” ujar Gugun Gumilar di Sanur, Selasa (15/9/2026).

Menurut Gugun, penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi Menag dalam mendorong kemajuan wisata religi di Indonesia, termasuk pengembangan potensi wisata keagamaan dan budaya di Bali.

“Penghargaan ini menjadi semacam rekognisi atas kontribusi Menteri Agama dalam ikut mengembangkan dan memajukan wisata religi, khususnya di Bali,” sambungnya.

Gugun menjelaskan, ITTA Foundation memberikan penghargaan kepada tokoh, institusi, dan pemimpin yang dinilai memiliki kontribusi nyata terhadap kemajuan industri pariwisata Indonesia.

Penghargaan Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development kepada Menag merupakan bentuk apresiasi atas kepemimpinan, dedikasi, serta kontribusinya dalam mendorong pengembangan wisata religi di Indonesia.

“Termasuk penguatan potensi wisata berbasis keagamaan dan budaya, khususnya dalam mendukung pengembangan destinasi wisata religi Hindu serta potensi wisata religi dari berbagai agama di Indonesia,” jelas Gugun.

Menurut Gugun, perkembangan wisata religi di berbagai daerah tidak hanya berkaitan dengan sektor pariwisata. Wisata berbasis keagamaan juga memiliki keterkaitan erat dengan keberagaman budaya, kehidupan umat beragama, serta upaya membangun kerukunan.

Bali menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata religi. Keberagaman tradisi dan budaya keagamaan menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata Indonesia.

Gugun menilai, berkembangnya wisata religi juga tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah dan umat beragama dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

“Kita tahu bersama bahwa sejak survei indeks kerukunan dilakukan, 2025 menjadi tahun dengan indeks tertinggi. Ini prestasi luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kerukunan memiliki peran penting dalam mendukung berbagai agenda pembangunan.

“Kerukunan adalah prasyarat pembangunan. Jadi kerukunan tidak hanya berdampak pada pengembangan wisata religi, tapi juga sektor-sektor pembangunan yang lain,” tandasnya.

Penganugerahan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala daerah, duta besar negara sahabat, pimpinan asosiasi pariwisata, akademisi, pelaku industri, investor, media nasional, serta pimpinan perusahaan dari berbagai sektor.

Para undangan berasal dari berbagai bidang yang berkaitan dengan ekosistem pariwisata, mulai dari perjalanan wisata, perhotelan, penerbangan, pengelolaan destinasi hingga ekonomi kreatif.

Penghargaan ini sekaligus menegaskan bahwa pengembangan wisata religi dapat menjadi bagian penting dari wajah pariwisata Indonesia. Tidak sekadar menawarkan destinasi, wisata religi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan agama, budaya, tradisi, dan nilai-nilai kerukunan yang tumbuh di Indonesia.

Biro Humas dan Komunikasi Publik

 Raih Penghargaan Pengembangan Wisata Religi

Sanur, Bali | MALIKII ISLAMIC UNIVERSITY - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kembali mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan pariwisata berbasis keagamaan dan budaya. Dalam ajang 11th Bali Tourism Awards 2026, Menag dianugerahi penghargaan bergengsi Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development. Senin, 14 September 2026.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Indonesia Travel & Tourism Awards (ITTA) Foundation dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Sanur, Bali. Menteri Agama diwakili Staf Khusus Bidang Kerukunan, Gugun Gumilar, untuk menerima penghargaan tersebut.

“Semalam, saya mewakili Menteri Agama menerima Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development dari Indonesia Travel & Tourism Awards (ITTA) Foundation,” ujar Gugun Gumilar di Sanur, Selasa (15/9/2026).

Menurut Gugun, penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi Menag dalam mendorong kemajuan wisata religi di Indonesia, termasuk pengembangan potensi wisata keagamaan dan budaya di Bali.

“Penghargaan ini menjadi semacam rekognisi atas kontribusi Menteri Agama dalam ikut mengembangkan dan memajukan wisata religi, khususnya di Bali,” sambungnya.

Gugun menjelaskan, ITTA Foundation memberikan penghargaan kepada tokoh, institusi, dan pemimpin yang dinilai memiliki kontribusi nyata terhadap kemajuan industri pariwisata Indonesia.

Penghargaan Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development kepada Menag merupakan bentuk apresiasi atas kepemimpinan, dedikasi, serta kontribusinya dalam mendorong pengembangan wisata religi di Indonesia.

“Termasuk penguatan potensi wisata berbasis keagamaan dan budaya, khususnya dalam mendukung pengembangan destinasi wisata religi Hindu serta potensi wisata religi dari berbagai agama di Indonesia,” jelas Gugun.

Menurut Gugun, perkembangan wisata religi di berbagai daerah tidak hanya berkaitan dengan sektor pariwisata. Wisata berbasis keagamaan juga memiliki keterkaitan erat dengan keberagaman budaya, kehidupan umat beragama, serta upaya membangun kerukunan.

Bali menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata religi. Keberagaman tradisi dan budaya keagamaan menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata Indonesia.

Gugun menilai, berkembangnya wisata religi juga tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah dan umat beragama dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

“Kita tahu bersama bahwa sejak survei indeks kerukunan dilakukan, 2025 menjadi tahun dengan indeks tertinggi. Ini prestasi luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kerukunan memiliki peran penting dalam mendukung berbagai agenda pembangunan.

“Kerukunan adalah prasyarat pembangunan. Jadi kerukunan tidak hanya berdampak pada pengembangan wisata religi, tapi juga sektor-sektor pembangunan yang lain,” tandasnya.

Penganugerahan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala daerah, duta besar negara sahabat, pimpinan asosiasi pariwisata, akademisi, pelaku industri, investor, media nasional, serta pimpinan perusahaan dari berbagai sektor.

Para undangan berasal dari berbagai bidang yang berkaitan dengan ekosistem pariwisata, mulai dari perjalanan wisata, perhotelan, penerbangan, pengelolaan destinasi hingga ekonomi kreatif.

Penghargaan ini sekaligus menegaskan bahwa pengembangan wisata religi dapat menjadi bagian penting dari wajah pariwisata Indonesia. Tidak sekadar menawarkan destinasi, wisata religi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan agama, budaya, tradisi, dan nilai-nilai kerukunan yang tumbuh di Indonesia.



Editor: Humas
Reporter: Biro Humas dan Komunikasi Publik
Fotografer: Humas Kemenag
Menag Raih Penghargaan Pengembangan Wisata Religi
Ajay September 15, 2026
Share this post
Tags
Archive