MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang gelar seleksi penerimaan Beasiswa Teladan. Seleksi ini tergelar pada Kamis, 09 April 2026. Pelaksanaan tes ini terlaksana pada beberapa lokasi. Gedung Perkuliahan A, HTQ, dan Sport Center.
Pada sesi tes tahfizh, hadir Ahmad Syihab Athaillah, peserta tuna netra asal Kota Batu yang telah menuntaskan hafalan 30 juz. Pada wawancaranya, ia menyatakan mulai menghafal Al-Qur’an saat duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Memasuki jenjang berikutnya, bertambah dan tuntas 30 juz. “Saya memulai dari juz 30 lalu berlanjut ke juz 27, 28, dan 29. Lalu ke juz-juz awal. Dan alhamdulillah saat ini sudah lengkap 30 juz,” katanya.
Dalam proses menghafal, Syihab menjelaskan terkait metode menghafal Al-Qur’an. Mendengarkan murottal dan mengulang ayat demi ayat secara konsisten. “Setiap hari saya sempatkan waktu untuk setoran hafalan. Selepas subuh, maghrib, isya’ maupun waktu luang lain,” imbuh peserta asal Kota Batu itu.
Kepada Humas UIN Maliki, Syihab juga menerangkan bahwa, informasi Beasiswa Teladan ia peroleh dari salah satu temannya. Berbekal 30 juz, Anak semata wayang dari kedua orang tuanya itu terdorong memilih Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Maliki Malang.
“Saya pribadi ingin mendalami Al-Qur’an lebih dalam lagi. Tidak hanya sekedar hafal. Akan tetapi, paham hingga letak ayat, halaman, makna dan dapat mengajarkannya, seperti Ustadz Adi Hidayat,” tutur Syihab.
Baginya, Al-Qur’an itu harus diajarkan dan diamalkan. Peserta asal Kota Batu itu juga berharap dapat berkontribusi dalam pendidikan Al-Qur’an bagi masyarakat.
Menjelang akhir, ketika ditanya mengenai makna keterbatasan dalam hidupnya, Syihab menjabarkan dengan singkat. “Kuncinya satu, cukup tersenyum saja. Terus berusaha lebih baik dan konsisten,” tegasnya.
“Semangat untuk terus berjuang. Kalau bisa, dekat dengan Al-Qur’an. Membaca satu huruf saja sudah bernilai pahala besar,” tutup peserta tuna netra tersebut.